
Edwart menatap tak suka Elena yang dipandangi oleh mata-mata keranjang itu. Dengan langkah lebarnya ia berjalan meninggalkan Mr. Ricard.
"Selamat datang istriku."
Edwart tersenyum licik saat membisikkan kata-kata sapaan tersebut. Dipandanginya nyonya Edwart dengan penuh pesonanya.
"Selamat malam tuan Edwart," sapa Putra membuat Ed mengalihkan pandangannya.
"Oh selamat malam pak Putra," balasnya.
Namun pandangan mata Ed tiba-tiba terkunci pada tangan Elena yang menggandeng lengan Putra.
Ada rasa kesal hingga ia ingin sekali mematahkan lengan laki-laki didepannya itu.
"Saya pinjam pasangan anda sebentar pak, ada hal yang harus kita bicarakan," Ucap Edwart menarik paksa tubuh istrinya dari sisi Putra.
Tanpa menunggu persetujuan Putra, Ed sudah menggenggam tangan Elena dan membawanya ikut bersamanya.
"Kita mau kemana," panik Elena berusaha melepaskan tangannya.
"Berani bertingkah, saya cium kamu didepan umum!"
El yang mendengar ancaman suaminya seketika melepaskan tangannya yang berusaha melepas gandengan Ed.
Ia hanya bisa pasrah mengikuti kemana kaki suaminya itu melangkah. Dan langkah itu semakin dekat dengan sekerumunan orang yang sudah menatap keduanya.
"Maaf menunggu lama," ucap Edwart dengan begitu ramahnya.
__ADS_1
"Selamat malam nona muda," sapa Jo membungkukkan badannya.
"Malam kak Jo," balas El dengan senyum ramahnya.
"Sayang, kenalkan ini Mr. Ricard dan ini istrinya Mrs. Ricard," dengan posesifnya ia memeluk pinggang Elena dengan begitu erat.
Nada lembut serta halusnya membuat Elena terkejut, rasanya seperti hal tabu saat suaminya ini memanggilnya sayang dan memperkenalkannya pada rekan bisnisnya.
"Sayang," panggil Edwart dengan mesra, membuyarkan lamunan Elena.
"Oh iya, saya Elena istri sah dari tuan Edwart," bergantian menjabat tangan keduanya.
"Sayang, ini Tania. Dia model yang ada diperusahaan, model yang kemarin kamu cemburuin itu," seru Edwart dengan tingkah konyolnya.
Dengan gemasnya Ed mencolek ujung hidung Elena didepan semuanya. Tak hanya El, bahkan Jo yang melihat tingkah tuannya merasa sedikit canggung.
"Tania," begitu ketus.
Namun Elena tiba-tiba saja mengerutkan dahinya. Rasa-rasanya wajah Tania ini pernah ia jumpai, namun ia lupa dimana mereka bertemu.
"Nona Tania, apa kita pernah bertemu ?"
Tania begitu terkejut saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Elena. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu tak karuan, bahkan ia mulai panik entah kenapa.
"Oh mungkin anda melihat saya dimajalah. Saya model, jadi wajah saya ada dimana-mana," gugupnya meremas tas tangan yang dipegangnya.
"Ada apa ini, kenapa saya merasa jika nona Tania gugup dengan pertanyaan nona muda," Jo merasakannya. Ia merasa ada yang janggal dari sikap Tania tersebut.
__ADS_1
**
Dirumahnya, Billy baru saja sampai dan disambut hangat oleh istri tercintanya.
Lelah seharian bekerja tak terasa saat melihat senyum ceria dari wanita yang paling dicintainya.
"Aku udah siapin air hangat buat mandi," manjanya memeluk suaminya begitu erat.
"Yaudah, papa mandi dulu nanti lamgsung nyusulin mama ke meja makan."
"Oke bos."
Billy nampak berseri, rambut nampak rapi dengan deretan tebal nan hitam legam. Aromanya menusuk hidung siapa saja yang berpapasan dengannya, begitu sejuk hingga menenangkan.
"Kok sendiri aja ma," tanya Billy mendudukan dirinya.
"El tadi ngasih kabar, katanya dia malam ini ada acara dengan rekan kantor jadi gak makan dirumah."
"Untung papa pulang ya," senyumnya saat menerima sepiring makanan dari istrinya.
"Iya, kalau nggak mama sendirian deh."
Billy mulai melahap makanannya, namun sesekali ia menatap wajah istrinya yang begitu dirindukannya.
"Selesai makan kita kencan yuk ma," ajak Billy setelah meneguk habis air minumnya.
"Mau kemana pah," tanyanya.
__ADS_1
"Ditaman belakang aja, duduk berduaan ma. Udah lama juga kita nggak mesra mesaraan kan," tawanya merayu istrinya.