
Tania tengah menikmati waktu luangnya tanpa ada Malik ataupun Matius yang mengganggunya. Sangat santai hingga ia membuat seluruh pelayan Malik kelelahan mengikuti perintahnya.
"Cepat kalian siapkan jus buah pesanan saya! Lambat sekali," omelnya.
"Maaf nona, tapi buah yang anda minta masih harus beli dulu disupermarket."
"Apa," bentak Tania yang langsung bangkit dari duduk santainya.
"Maafkan kami nona," seru kelima pelayan yang sedang berdiri dihadapan Tania.
"Nggak berguna sekali, keluar dan berdiri diluar. Jangan masuk sampai saya yang meminta."
Dengan sangat terpaksa kelimanya berjalan keluar rumah, mengikuti apa yang baru saja Tania minta pada mereka. Entah apa yang kini ada dipikiran Tania hingga ia melampiaskan semua kemarahannya pada para pelayan yang tak berdosa tersebut.
"Bener-bener bikin marah aja," kesal Tania yang kembali merebahkan dirinya diatas sofa.
Sungguh membosankan sekali rasanya bagi Tania yang hanya berdiam diri didalam rumah, ingin sekali keluar tapi ia begitu malas dengan penjagaan yang Malik siapkan untuk dirinya.
"Tunggu gue jadi nyonya besar disini, gue matiin kalian semua. Terutama Matius si busuk itu," dendam Tania dengan Matius yang sangat dibencinya.
.....
...
Langit masih sangat gelap saat Edwart terbangun dari tidurnya, perut yang sangat lapar membuat ia mau tak mau terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Sial banget, laper sekali gue," keluhnya dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
Ed melirik istrinya yang masih pulas dalam tidur dan tak tega untuk membangunkannya. Hingga pada akhirnya ia memilih keluar seorang diri dari kamar menuju dapur. Hanya bisa berkacak pinggang saat ia kebingungan akan memasak apa, karena yang jelas ia sangat tidak terbiasa dengan dapur.
"Laper, tapi nggak tahu harus gimana ini," keluhnya dengan sangat kesal.
"Ed."
"Om Malik," kagetnya dengan bayangan Malik yang berjalan mendekatinya.
"Maaf ya om bikin kamu kaget, kamu sedang apa disini," tanya Malik yang melirik disekitar Edwart berdiri.
"Oh ini om, nggak tahu tiba-tiba laper banget jadi kebangun deh."
"Terus kenapa cuma berdiri aja disitu?"
Merasa malu dengan pertanyaan yang dilontarkan Malik, Ed hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal tersebut. "Hehe, itu om. Aku nggak bisa masak," cengirnya.
Malik segera menggeser pelan tubuh Edwart yang menghalangi lemari es didepannya. Namun sebelum itu ia segera mengisi gelas yang dibawanya dengan air dingin, menghabiskannya dengan sekali teguk.
"Om bisa masak?"
"Om dulu kuliah dan harus mandiri, jadi mau nggak mau juga harus bisa masak," jawabnya dengan tangannya yang lincah memegang peralatan dapur.
Tangan yang biasa bergulat dengan kertas juga pena kini terlihat tak kalah mahir saat bergulat dengan pisau juga peralatan dapur lainnya. Malik nampak begitu maskulin saat memasak, terlebih tubuhnya begitu sempurna dengan balutan kaos juga celana tidur.
Sambil memasak keduanya banyak berbincang. Tak hanya seputar bisnis, keduanya juga membahas tentang Elena juga kondisinya setelah kehamilan istrinya. Malik tertawa terbahak-bahak hingga membuat wajahnya sangat merah saat mendengar cerita Edwart yang mengalami siklus hamil muda.
Edwart hanya bisa menundukka kepalanya saat begitu malu ditertawakan oleh om nya sendiri. "Om jangan gitu, nanti kena karma kayak aku gini loh pas istrinya udah hamil."
__ADS_1
Malik terdiam, tangannya bahkan terhenti saat menuangkan makanan keatas piring. Menyadari hal itu, Ed segera memukul pelan mulutnya yang tak bisa dikontrol.
"Ehm, om-
"It's ok Ed, saya memang belum menikah. Tapi kamu tahu, saya sudah punya calonnya," terlihat raut bahagia dari wajah Malik.
"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang, kenapa nggak dibawa kesini sekalian," tanya Ed sambil menerima makanan dari Malik.
"Dia ada di London, belum saatnya dia ikut kesini. Tubuhnya masih belum fit untuk perjalanan jauh."
Ed hanya menganggukan kepalanya sambil melahap nasi goreng yang disajikan oleh Malik. "WOw, ini enak banget om," kagetnya dengan rasa masakan Malik.
"Makan yang bener, " tegur Malik.
"Siapa dia om, apa dia dari kalangan bisnis juga? Siapa tahu aku kenal."
"Kamu nggak akan kenal, dia hanya wanita biasa. Tapi parasnya begitu cantik, secantik hatinya," Malik membayangkan Tania yang sedang menunggunya pulang kerumah.
"Siapa namanya om?"
"Cindy, namanya Cindy."
...*Hai semua .. akhirnya bisa double up juga yaa😄...
...spesial buat kalian semua readers,semoga kalian menikmati ya ceritan.. ...
...jangan lupa klik like komen favorit juga ya .. 🥰🥰*...
__ADS_1