Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 42


__ADS_3

Ditemani Mr. Ricard, Jo memeriksa setiap cctv diruang monitor.


"Stop," seru keduanya bersamaan saat melihat seorang gadis berjalan sekitar lorong toilet.


"Pak, bisa coba anda perbesar gambarnya?" Jo yang penasaran memperhatian setiap detai rekaman dihadapannya.


"Nona Tania," tiba-tiba Mr. Ricard bersuara.


"Tania," ucap Jo menirukan Mr. Ricard.


"Iya itu nona Tania, saya masih hafal betul gaun yang ia kenakan tadi."


"Berani sekali nona Tania ini," sinis Jo menyebut nama gadis yang selalu membuatnya kesusahan.


"Maaf pak, tolong kirimkan rekaman ini ke email saya ya," memberikan secarik kertas pada petugasnya.


Edwart terus menggenggam tangan istrinya, menatap wajah yang tengah tertidur lelap dalam damainya.


"Bodoh, sudah dikasih tau masih aja ngeyel."


"Coba kalau tadi mau aku temenin sampai ke toilet, pasti nggak bakal seperti ini kejadiannya."


Edwart begitu kesal, ingin rasanya ia memaki Elena meluapkan rasa emosinya. Namun melihat wajahnya kini rasanya sungguh tak tega walaupun hanya berteriak padanya.


Sebuah pesan membuyarkan lamunan Edwart saat memandangi wajah teduh istrinya. Wajah yang semula berseri kini berubah merah padam menahan amarahnya.


"Jo, amankan dia."

__ADS_1


Menahan emosinya agar tak lepas kontrol, Edwart mencoba menenangkan dirinya dengan menghirup udara malam diatas balkon kamar.


Entah apa yang ada didalam pikirannya kali ini, namun itu mempengaruhi dirinya. Membuatnya lemah saat berhadapan dengan Elena, membuatnya sedikit tunduk pada pembunuh istrinya.


**


Tania begitu cemas, ia gelisah memikirkan kondisi Elena saat ini. Bukan merasa bersalah, Tania cemas karena ia takut rahasianya terbongkar.


"Harusnya gue pastiin tadi dia udah mati sebelum pergi, harusnya gue matiin sekalian dia."


Gejala paniknya timbul kembali, panik yang berlebihan membuat Tania tak bisa mengontrol dirinya.


Berjalan memutari kamarnya, Tania terus saja gelisah menggigiti kuku tangannya. Semakin ia memikirkan maka semakin gelisah ia dibuatnya.


"Akhh! Brengsek," Tania menghancurkan semua barang yanh ditemuinya.


Tok.. tok..


Seseorang datang, ia mengetuk pintu dengan begitu kerasnya membuat Tania terkejut dibuatnya.


"Siapa sih malam-malam bertamu, nggak sopan banget," gerutunya.


Tak disangka saat baru saja ia membuka pintu pandangannya sudah gelap.


Tania jatuh tak sadarkan diri, namun saat ia membuka matanya ia sudah berada ditempat yang berbeda.


Lembab, sepi dan juga gelap. Membuat rasa takut berlebihan timbul pada dirinya, menjadikan Tania begitu ketakutan dibuatnya.

__ADS_1


"Tolong, siapapun tolong saya."


"Siapa kalian, dimana saya."


Terus saja berteriak namun semua masih nampak sama, sepi juga gelap. Tania berusaha melepaskan ikatan yang ada ditangannya, namun semakin ia berusaha semakin ikatan itu menjeratnya semakin kencang.


"Akhh, sakit sekali. Siapa mereka," gusarnya.


"Brengsek!! Cepat lepaskan saya," Tania terus saja berteriak. Ia berteriak berharap mendengar sebuah suara yanh ada disekitarnya, namun semua terasa sunyi tak berpenghuni.


Tubuhnya menggigil ngeri, bergetar tak karuan mencoba melepaskan diri. Gelap dan tak bersuara membuat Tania ketakutan dibuatnya.


"Siapapun tolong, tolong lepaskan saya."


"Tolong," teriaknya bercampur air mata.


"Sudah sadar rupanya," Serunya.


"Loe!"


...---------🕊--------...


Hai, terima kasih sudah mampir dirumah ElenaEdwart. Jangan lupa tekan favorit ya supaya nggak ketinggalan updatenannya. Silahkan tinggalkan like komen juga dukungan kalian, semakin banyak pembaca semakin semangat update nya ..


...❣...


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2