Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 86


__ADS_3

Hari ini Malik tengah sibuk dengan pekerjaannya saat salah seorang anak buahnya masuk ke dalam ruangannya. Dan apa yang disampaikan oleh anak buahnya tersebut membuat hati Malik menghangat dan sangat bahagia.


"Apa benar apa yang kamu ucapkan," tanya Malik penuh rasa gembira.


"Benar tuan, ternyata tuan Edwart juga tengah menyelidiki anda selama ini lewat asissten kepercayaannya."


"Jo maksud kamu?"


"Benar."


"Kalau begitu segera atur jadwal pertemuan kami, saya sudah sangat tidak sabar ingin memeluk princessku," happy Malik membayangkan saat-saat dirinya bertemu keponakannya.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."


"Ehm, pergilah."


Malik begitu tak sabar ingin sekali memeluk tubuh princess yang selalu dirindukannya. Rasa rindu juga bersalah selalu saja menghantuinya bahkan menyiksanya hingga tak ada celah untuknya merasa bahagia.


Alasan dirinya selama ini masih sendiri adalah juga tentang princessnya. Bagi Malik rasanya ia tak pantas bahagia sebelum berhasil menemukan keponakannya tersebut, sebelum rasa bersalah yang teramat dalam ini mampu menemukan obatnya.


"Uncle berharap pertemuan kita bisa sesegera mungkin little princess," gumam Malik dengan mata berkaca-kaca.


Tania yang sudah bak nyonya rumah selalu saja bertindak seenaknya saat Malik tak ada dirumah, ia selalu saja membuat semua orang merasa kesal dan resah berada didalam rumah. Seperti siang ini, dirinya yang manja meminta beberapa pelayan untuk memijat seluruh tubuhnya.


"Aww, yang benar aja dong !"


"Maafkan saya nona."

__ADS_1


"Nona katamu!! Panggil aku nyonya, saya nyonya dirumah ini,"bentaknya tak terima.


Malik mempunyai pelayan yang seluruhnya memang berasal dari Indonesia, ia mempekerjakan semua orang dinegaranya dengan sangat baik layak nya keluarga sendiri tak seperti Tania saat ini. Sangat kasar juga arogan.


"Pijit kembali!"


Ada setidaknya tiga pelayan yang tengah memijat tubuhnya, ketiganya dengan penuh hati-hati memijat nyonyanya. Sangat hati-hati hingga membuat Tania kembali murka kepada mereka.


"Kalian ini bisa mijitin nggak sih, lemes banget," amuk Tania yang merasa semua tak sesuai keinginannya.


"Ma-ma-maafkan kami nyonya."


"Akhhhh! Pergi kalian semua, " Tania yang mengamuk membuang semua ramuan pijatnya, lalu ia juga mengusir semua pelayan dari kamarnya.


"Benar-benar bodoh semua. Lebih baik berendam aja."


...


Jakarta,


Malam yang sangat larut ketika tiba-tiba saja Ed terbangun dengan rasa lapar yang sangat mengganggunya. Ia yang selalu menjaga pola makannya selama ini tak pernah sekalipun merasa kelaparan tengah malam seperti malam ini.


"Sial! Makan malam tadi udah banyak, kenapa sekarang tiba-tiba lapar kayak orang belum makan tiga tahu," kesalnya namun sangatlah lapar.


Ed yang sangat malas kembali merebahkan dirinya, namun baru saja matanya terpejam ia sudah bangkit kembali dengan ekspresi kesalnya. "Bener-bener ya ini cacing-cacingnya, minta dihajar olah raga lagi."


"Mau gimana lagi, makan aja lah," serunya yang pada akhirnya berjalan keluar menuju dapurnya.

__ADS_1


Dimalam yang sangat dingin ini Ed tengah kepanasan, berkeringat bertarung dengan panasnya api yang sedang menyala didepannya. Membuat nasi goreng seadanya, Ed bercucuran keringat mengaduk nasi dengan sangat hati-hati karena ini adalah seumur hidupnya ia memasak seorang diri.


"Kalau sampai Jo lihat ini, bisa turun harga diri gue," gumam Edwart sambil memindahkan nasinya kedalam piring.


Elena terbangun, ia mencari suaminya yang tak ada didalam kamar dengannya. Namun suara berisik dari dapur membuat El menebak keberadaan suaminya. "Pasti didapur tuh."


"Hoek, hoek .."


El terkejut saat melihat suaminya tengah memuntahkan sesuatu yang baru dimakannya, dengan sangat panik El berlari menghampiri suaminya.


"Sayang kamu kenapa," panik El.


Ed terlihat membilas mulutnya sebelum menjawab apa yang dipertanyakan oleh istrinya. "Yank aku lapar, bikin nasi goreng tapi rasanya bikin mau muntah yank," adu Ed manja sekali.


"Rasanya apa?"


"Asin," malu Ed.


El tersenyum melihat reaksi manja yang diberikan suaminya, lalu iapun berjalan dan mencoba nasi goreng yang dibuat spesial dengan tangan kekar seorang Edwart.


"Jangan dimakan ihh, nanti sakit perut," cegah Ed ketika El hendak memasukan sesuap sendok.


Namun El tetaplah El yang tak bisa dilarang, bukan tentang itu namun tentang reaksi yang diperlihatkan El setelah merasakan nasi goreng ala Edwart.


"Yank," panggil Ed.


"Enak ini mah yank, aku suka," menyantap dengan lahap semua nasi gorengnya.

__ADS_1


...‐Terima kasih semuanya, maaf kalau banyak ketikan yang typo ‐...


__ADS_2