
Jo tengah membantu Yasmin untuk menyantap sarapannya. Tubuh yang sangat lemah membuat Yasmin sungguh tak ada tenaga untuk menggerakan tubuhnya. Dan suka tak suka Jo membantu wanita itu menghabiskan sarapannya.
"Sudah tuan," tolak Yasmin saat Jo kembali mengarahkan sendok kehadapannya.
"Sekali lagi," paksanya.
"Sudah tuan."
"Sekali lagi atau nggak usah makan sekalian," ancam Jo membuat Yasmin begitu jengah.
Yasmin dengan terpaksa menelan semua bubur yang Jo suapkan untuk dirinya. Suara dering ponsel membuat keduanya menatap bersamaa ponsel yang berada diatas nakas. Namun Jo mengabaikannya dan memilih kembali menyuapi Yasmin kembali.
"Tuan, angkatlah. Siapa tahu penting," ucap Yasmin.
"Nanti saja."
"Itu bunyi terus loh tuan, angkat saja saya nunggu kok."
Jo kembali menatap ponselnya yang kembali berdering, dilihatnya satu nomor itu terus saja menghubunginya. Dengan rasa penasarannya Jo menerima panggilan itu dihadapan Yasmin, dan dengan tampang seriusnya ia mendengarkan penerima telponnya.
"Jaga dia, saya segera kesana," panik Jo.
__ADS_1
"Selamat perut gue, akhirnya udahan juga acara makannya," batin Yasmin begitu lega saat mendengar jika Jo akan keluar meninggalkannya.
Selesai menerima telponnya, kini Jo menatap Yasmin dengan tatapan penuh keraguan. Ia begitu ragu untuk pergi dan meninggalkan Yasmin seorang diri didalam apartemennya.
"Kenapa tuan," tanya Yasmin tersenyum kecut menatap Jo yang juga menatapnya.
"Saya mau pergi sebentar, saya harap kamu bisa diam dan tidak bertindak macam-macam."
"Mau macam-macam gimana, lemes gini tuan."
"Baguslah karena saya ada urusan penting yang harus saya periksa."
"Pergilah, saya akan baik-baik saja."
...
Di markas,
Tania begitu histeris dan terus saja memberontak hingga membuat kedua pergelangan tangannya terluka. Beberapa anak buah Ed bahkan ketua sudah berusaha menghentikan Tania, namun semakin dilerai maka semakin Tania bertingkah hingga akhirnya ketua membiarkannya saja.
Tak berpapa lama datanglah mobil Ed bersamaan dengan Jo yang juga baru tiba. Jo segera membukakan pintu tuan mudanya dan mengikutinya masuk kedalam markas. Ketua menyambut kedatanga tuan juga bosnya, kemudian mengantarkannya menemui tawanan mereka.
__ADS_1
"Lepaskan saya, brengsek!"
Tania terus saja berteriak hingga suara itu terdengar oleh mereka yang berada diluar ruangan. Ed mendengar juga Jo tentunya, namun itu membuat Ed menyeringai mendengar perempuan itu terus saja berteriak.
"Lelah tidak terus berteriak," tanya Ed yang melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang Tania.
"Brengsek! Lepaskan aku Ed, apa salahku," tanya Tania seolah tak tahu apa-apa.
"Haha, saya nggak bodoh. Kamu pikir kamu siapa berani membohongiku," murka Edwart menatap tajam Tania.
Edwart melangkahkan kakinya mendekati Tania yang tengah berusaha melepas ikatan dikedua tangannya. Ed menyeringai saat tatapan mereka bertemu, Tania menyeringai membayangkan jika El kini sudah membusuk bersama cacing tanah.
"Hahaha, tuan muda Edwart pasti kini lagi bersedih bukan. Bersedih atas kematian istri barunya," tawanya begitu menggelegar, membuat mereka semua mengernyitkan dahinya.
"Mungkin sekarang tubuh istri tuan muda ini tengah membusuk bersama sampah yang ikut tertimbun didalam tanah."
Ed begitu geram, ia tak terima dengan apa yang diucapkan Tania. Edwart menarik keras rambut wanita itu hingga membuat kepalanya menengadah menatap langit-langit atap ruangan. Tania terus mengerang kesakitan saat Edwart mengencangkan tarikan tangannya.
"Kalian," teriaknya pada anak buahnya.
"Kami tuan."
__ADS_1
"Bawakan barang itu."
Mata Jo juga ketua melotot saat Edwart meminta barang yang selalu disimpannya itu. Barang yang bahkan membuat keduanya sempat bergidik ngeri saat pertama kali melihatnya.