Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 11


__ADS_3

Dengan telaten Elena menyuapkan sesuap demi sesuap nasi pada Edwart yang sibuk dengan pekerjaannya.


Bahkan setelah nasin habis, Edwart masih terus makan lauknya tanpa henti. Bahkan saat Elena berhenti menyuapinya, ia akan memelototinya.


"Tuan suami minum dulu.." menyerahkan gelas berisi jeruh hangat.


Edwart yang tak memperhatikan langsung meminumnya, padalah itu masih sangat panas.


"Aww panas. Kamu sengaja mau bakar lidah saya !!" Marahnya.


"Maaf, salah sendiri nggak ditiup dulu main minum aja.."


"Jadi kamu nyalahin saya!!"


"Enggak, saya yang salah.."


"Yaudah kalau gitu tiupin dulu sampai dingin.."


"Iya.. "


Dengan patuh El meniup-niup minuman milik Ed itu. Hingga akhirnya minuman itu sedikit lebih dingin.


"Tuan sudah agak dingin.."


Edwart meminum minumannya, tidak ada lagi ocehan yang keluar dari mulutnya. Selesai minum ia kembali fokus dengan laptopnya.


Sambil menunggu suaminya kerja, El memilih memakan kepala bakarnya. Begitu tenang membuat Edwart sedikit mengalihkan pandangannga.


"Apa itu.." tanyanya ketus pada Elena.


"Ini ??"


"Iya.."


"Ini kepala ayam yang dibakar.."


"Terus kamu makan itu sendirian!! Gak liat ada saya juga disini !!"


"Tuan suami mau ??"


"Maulah .."


"Nih.." menyodorkan satu tusuk kepala ayam kepada Edwart.


"Kamu lihat tidak saya lagi kerja, kalau saya makan sendiri itu bisa kotor tangan saya.." oceh Edwart memekakan telinga Elena.


Dengan kesal El mulai memisahkan daging dengan tulangnya. Lalu ia dengan tangannya mulai menyuapi suaminya itu.


Namun tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatian mereka. Ia adalah Rose, sekretaris pribadi Edwart dikantor.


Rose memang tinggal disalah satu kost dekat dengan jalan ini. Dan hampir setiap malam ia juga keluar sekedar untuk membeli makan malam dijam tengah malam.


Saat ia memilih tempat duduk, tanpa sengaja ia melihat Edwart yang sedang bekerja dengan laptopnya.


Namun bukan Edwart yang menarik perhatiannya, Rose merasa penasaran dengan sosok gadis dihadapan bos nya itu yang sedang menyuapi bos nya dengan telaten.


"Siapa wanita yang sedang bersama si bos ??" Gumamnya penuh tanya.


Rose ingin sekali menghampiri bos nya itu. Namun mengingat watak juga sifatnya membuat ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Nggak ah, nanti kalau gue samperin gue di semprot lagi.. "


"Masa enggak di kantor enggak diluar kena marah mulu.."


Rose terus bergumam hingga ia memutuskan untuk pergi membeli makanannya. Namun saat ia akan kembali ke kost, ia masih melihat Edwart duduk dengan seorang perempuan.


"Siapa ya sebenarnya wanita itu ?? Masa ia pacar baru si bos, tapi kan istrinya baru meninggal satu bulan lalu.." gumamnya penasaran.


Namun pada akhirnya itu hanya menjadi rasa penasarannya saja, sebab ia lebih memilih pergi menghindari amukan bos nya.


Waktu sudah hampir pukul 3 subuh, dan Ed baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Namun saat ia menutup laptopnya ia sempat tertegun menatap El yang tertidur beralaskan kedua tangannya.


"Dia ?? Kenapa wajahnya teduh banget kalau lagi tidur.. " batin Ed memandangi wajah El.


Namun tersadar dengan apa yang ia pikirkan membuat Ed terkejut hingga tanpa sengaja tangannya menyenggol El hingga terbangun.


"Hoammm, udah selesai tuan suami ??" Tanyanya setengah mengantuk.


"Sudah.."


"Yaudah yuk pulang.."


"Hmm.."


Ed memilih berjalan lebih dulu, sedangkan El yang masih mengantuk berjalan dengan begitu pelan. Saking mengantuknya, tanpa sadar El tersandung dan hampir saja terjatuh.


"Awwww.. " pekiknya.


Namun beruntung ada seorang laki-laki yang menangkap tubuhnya hingga membuatnya tak terjatuh diatas tanah.


Ed mendengar pekikan istrinya, namun saat ia menolehkan kepalanya ia begitu kesal. Elena didalam pelukan laki-laki lain, dan keduanya terlihat nyaman satu sama lain.


"Ah, maafkan saya tuan. Bukan maksud saya kurang aja, tapi saya hanya ingin membantu istri anda agr tidak terjatuh saja.."


"Alasan, kamu cuma cari kesempatan buat peluk-peluk istri saya kan !!"


Elena begitu terkejut dengan ucapan Edwart barusan. Bisa-bisanya suami jahanamnya ini berucap hal yang membuatnya malu.


"Ah, maafkan suami saya mas. Dan terima kasih sudah menolong saya.." seru Elena memotong Edwart yang akan kembali bersuara.


"Tuan suami ayo pulang.." menarik paksa tangan Edwart.


Denga sangat kencang Ed menutup pintu mobilnya, membuat El yang sedang memasang siftbelt begitu terkejut.


"Nanti rusak pintu mobilnya.." ucapnya perlahan.


"Lalu kenapa kalau rusak!! Ini mobil saya, terserah saya mau berbuat apa sama mobil saya ini!!" Marahnya.


"Kalaupun rusak, saya bisa beli berapapun saya mau !!" Lanjutnya dengan begitu sombong.


"Iya tau tuan suami, maaf.."


"Lain kali kalau jalan pakai matanya. Sudah sebesar gini masih saja tersandung, memalukan !! Omelnya sambil melanjukan mobilnya.


--------------------------🕊----------------------------


Esok pagi yang cerah, secerah wajah Tania yang sudah siap dengan polesan make up nya. Tania begitu semangat, sebab hari ini ia akan bertemu dengan Edwart.


"Hari yang sudah gue tunggu, hari dimana gue bisa bertemu pujaan hati.." senangnya sambil mengoleskan pemerah bibirnya.

__ADS_1


"Sempurna .." serunya menatap wajahnya sendiri didepan kaca riasnya.


Tania begitu puas dengan tatanan make up nya. Dengan balutan gaun kerja yang pas ditubuhnya, membuat Tania nampak begitu seksi dan menggoda.


"Siap bertemu dengan calon suamiku !!" Serunya menatap puas dirinya didepan cermin.


Tania dengan riang menuruni anak tangga, duduk dimeja makannya sambil menyantap roti bakar favoritnya.


Orang tuanya tak pernah berada dirumah. Daddy nya selalu berada diperjalanan bisnis, sedang mommynya tak jauh beda dengan daddy nya yang selalu sibuk dengan bisnisnya juga.


"Selalu sarapan sendirian, berasa gue keluar dari batu.." gumamnya sambil tersenyum miris.


Tak menghabiskan sarapannya, Tania segera bergegas pergi menuju kantor Edwart. Tania yang berprofesi sebagai model kali ini terpilih untuk bekerja dengan perusahaan milik Edwart.


Sedang dirumah Ed sendiri sedang terjadi drama pagi yang dibuat sendiri oleh Edwart. Hanya karena warna dasi yang Elena pilihkan tak sesuai dengannya, Edwart memarahi El terus menerus hingga membuat El menahan air matanya.


Jo melihat semuanya, namun ia hanya bisa diam tak mencampuri urusan tuan juga nona nya. Karena jika ia ikut campur, maka Elena lah yang nantinya terkena imbas nya.


"Lain kali lihat warna apa kemejanya!! Jangam asal ambil dasi aja !!" Omelnya.


"Maaf.." menundukkan kepalanya.


"Terus aja minta maaf dan mengulanginya lagi !! Berapa kali sudah ku katakan, dan kamu masih saja melakukan kesalahan.."


Elena hanya diam menundukkan kepalanya., namun ia tak dapat menahan air matanya lagi. Lelehan bening itu mulai turun membasahi wajahnya.


"Nangis!! Terus aja nangis!! Selalu nangis kalau dimarahi!!"


"Jadi wanita jangan gampang nangis, cengeng, lemah !! Dimarahi dikit aja nangis .. " kesalnya lalu pergi meninggalkan Elena yang sudah menangis.


Edwart begitu uring-uringan dibuatnya, pagi ini mood nya begitu hancur gara-gara bertengkar dengan Elena.


"Apa tuan baik-baik saja ??" Tanya Jo dari kaca spionnya.


"Apa saya terlihat baik-baik saja !!" Kesalnya.


Sesampainya di kantor, Edwart turun dengan dikawal Jo dibelakangnya. Namun saat tiba di lobby, tiba-tiba saja Tani berlari memeluk lengannya dengan sangat erat.


"Edwart aku merindukanmu .." senangnya berucap.


"Lepaskan!! Apa yang anda lakukan!!" Amuknya mencoba melepaskan Tania dari lengannya.


"Tidak mau, aku begitu merindukanmu Ed .." seru Tania tak tahu malu, sedangkan dirinya saat ini menjadi pusat perhatian semua orang.


"Tolong lepaskan tuan saya nona.." seru Jo menarik Tania dari Edwart, namun Tania berpegang kuat pada lengan Edwart.


Edwart yang begitu muak serta marah dengan sangat kasar menghempaskan tangan Tania hingga membuatnya terjatuh.


"Awww.. sakit Ed ," serunya bernada manja.


"Sudah kubilang lepaskan!!! Tapi anda dengan tak tahu malunya terus menempel kepada saya," marahnya menunjuk Tania.


"Lain kali jaga sikap anda, jangan bersikap secara tidak sopan. Terlebih kepada saya!!" Ancamnya, lalu berlalu pergi.


"Ed.. Edwart !!" Teriak Tania memanggil.


"Apa kalian ngeliatin saya !!" Marahnya saat beberapa orang secara terang-terangan menatap dan menggunjingkan dirinya.


"Awas loe Ed, gue pastiin loe bakal bertekuk lutut dibawah gue!!" Gumamnya sambil berdiri.

__ADS_1


__ADS_2