
Ed menunggu dengan cemas didepan ruang icu, wajahnya sudah pucat tak bertenaga mengingat bagaimana kondisi istrinya. Ia menyesal telah lengah dan membiarkan El pergi seorang diri tanpa pengawasannya.
Billy datang bersama dengan Maya dengan wajah tak kalah panik, mereka segera menghampiri Jo juga Ed yang sedang berdiri di depan icu.
"Ed bagaimana Elena," tanya Maya begitu panik.
"Kondisinya buruk mah, dia yang paling buruk dari dua temannya."
Tubuh Maya oleng seketika, namun beruntung Billy dengan sigap menangkapnay hingga tak sampai menyentuh lantai. Kini mereka hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan El didalam, sedang Yasmin juga Lia sudah lebih dulu dipindahkan sebab kondisinya tak cukup parah.
Ponsel milik Jo bergertar, sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya. Jo mengerutakan dahinya sambil bergumam,"Kenapa dia menghubungi, saya nggak ada suruh kayaknya."
"Permisi tuan, saya ijin menerima telpon," ijinnya dan diangguki oleh Billy.
"Ada apa," tanya Jo langsung.
"Tania ada ditangan kami bos, apa yang harus kami lakukan selanjutnya."
"Tania?"
"Benar bos, tuan Ed tadi mengirimkan kami sebuah pesan beserta foto perempuan ini dan meminta kami datang ke sebuah restoran."
__ADS_1
"Bagus, kalian bawa ke markas dan jaga dengan ketat. Saya sekarang ke sana," ucap Jo antusias hingga segera menutup sambungan telponnya.
Jo kembali, ia tak ingin menambah beban pikiran tuan mudanya hingga ia lebih memilih berpamitan dengan Billy dan mengatakan semuanya. Ingin sekali rasanya Billy ikut dan menguliti habis wanita iblis itu, namun ia tak bisa jika harus meninggalkan anak juga istrinya yang sedang kalut batinnya.
"Pergilah, kabari saya apapun perkembangannya," ucap Billy.
Maya terus saja menangis tak hentinya, ada rasa takut tersendiri yang menyelimuti hati juga fikirannya. Kehilangan Mimi membuat rasa trauma tersendiri bagi Maya, rasa trauma yang kini membuatnya begitu ketakutan untuk kehilangan Elena dalam hidupnya.
Billy menangkap gelagat aneh yang ditunjukkan istrinya, direngkuhnya bahu rapuh itu dan membawanya duduk ditempat yang telah disediakan. Ed ikut panik saat melihat wajah panik papanya.
"Ada apa pah," tanya Ed yang duduk bersimpuh sambil memegangi tangan mamanya.
Ed merasa menyesal melihat kondisi mamanya, ia seharusnya bisa lebih menjaga istrinya agar tak sampai terluka seperti ini. Rasa sesal yang kini sudah tak ada gunanya.
........
Jo tiba di markasnya, ia disambut oleh beberapa anak buah yang memang bertugas untuk berjaga didepan. Salah satu dari mereka mengikuti Jo masuk kedalam markas bertemu ketuanya.
"Bos," salam ketua mafia tersebut. Mereka ini adalah mafia terlatih yang memang sengaja dibentuk oleh Billy juga Edwart untuk membantu mereka menghadapi serangan kejahatan. Namun kini mereka lebih banyak menerima tugas dari Ed dari pada Billy yang biasanya hanya mengecek kondisi markas juga semua anggotanya.
"Dimana dia," tanya Jo yang mulai tersulut amarah.
__ADS_1
Mereka bersama-sama berjalan menuju kamar yang digunakan untuk menyekap Tania. Betapa miris keadaannya kini, tangan juga kakinya terikat dengan rantai yang terhubung disetiap sudut kamar kecil itu. Tak ada cara bagi Tania untuk bis lolos kali ini.
Plak..
Sebuah tamparan langsung dari tangan Jo menyadarkan Tania yang sedari tadi tak sadarkan diri. Wajah wanita itu memerah menahan amarah juga rasa panas dipipi akibat tamparan Jo. Ingin sekali ia menyerang balik Jo, namun saat ia melihat kondisi tangan juga kakinya membuat nya drop begitu saja.
"Kenapa, ayo sini maju. Lawan saya," tantang Jo mengejek. Tania menarik-narik tangannya berharap rantai itu akan terlepas.
"Nggak akan bisa, sampai tuan saya memberi perintah loe akan tetap membusuk disini!"
"Hahaha, mungkin saja saat ini tuan muda loe yang terhormat itu sedang menangis darah atas kematian istri busuknya itu."
"Hahahahhaha, jangan bermimpi. Nona muda saya baik-baik saja, dan tuan muda sedang menemani istri tercintanya tidur diatas ranjang dengan begitu romantisnya," ucap Jo yang memamerkan kondisi majikannya.
"Nggak, nggak mungkin. Gue udah kasih racun paing mematikan buat dia, nggak mungkin dia selamat," seru Tania begitu heran.
Jo mengepalkan kedua tangannya yang sedang begitu emosi, apa yang baru saja didengarnya begitu membuat marah siapapun yang mendengarnya terlebih bukan hanya El yang celaka. Ada Lia juga Yasmin yangy ikut terluka walau kini keadaannya baik-baik saja.
‐Jangan lupa terus like komen jg favoritnya and vote‐
...‐Terima kasih untuk selalu mendukung kami‐...
__ADS_1