
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Tania tak lagi bisa menahan amarahnya, ia yang menemukan pisau milik Malik segera mengambilnya diam-diam. Dan disaat Yasmin lengah, ia segera bangkit dan hendak menusukkan pisau tersebut padanya.
Mata Jo membulat melihat apa yang akan Tania lakukan, jaraknya yang cukup jauh dari Yasmin membuatnya tak bisa menggapai tubuh tersebut.
"Yasmin awas," teriaknya.
Sedang Yasmin yang terkejut dengar teriakan Jo sebisa mungkin menghindari serangan Tania, namun jarak yang terlalu dekat membuat Yasmin tak bisa menghindari tajamnya pisau Tania.
"Awww," pekik Yasmin memegangi lengannya.
"Brengsek, berani melukai Yasmin," murka Jo menatap tajam Tania yang juga dengan berani menatapnya balik.
"Kalian semua terlalu menganggap remeh saya. Bagaimanapun saya adalah Cindy, calon nyonya rumah ini," bangganya.
"Jumawa, loe terlalu tinggi berkhayalnya," ledek Yasmin ditengah kesakitannya.
Tania benar-benar tak suka dengan Yasmin yang berlagak didepannya, ingin sekali dia kembali mengarahkan pisau itu kepadanya. Tak bisa, sebeb Jo kini berada tepat disampingnya dan jika ia memaksa menyerang maka dia hanya mengantarkan nyawanya.
"Cari ruang bawah tanah, kurung wanita pembangkang ini disana," perintah Jo tanpa ingin dilawan.
__ADS_1
"Siap," dua orang laki-laki lantas menyeret tubuh Tania keluar.
"Lengan kamu terluka, kita kerumah sakit sekarang," panik Jo melihat darah yang terus mengalir membasahi baju Yasmin
"Aku baik-baik aja, kita nggak bisa meninggalkan rumah ini. Tania terlalu berbahaya jika ditinggalkan," ucap Yasmin.
"Tapi-
"Aku bisa obatin ini sendiri kok," meyakinkan Jo dengan tatapannya.
"Kalian tolong panggilkan dokter yang biasa tuan Malik gunakan."
"Baik, tunggu sebentar tuan."
Jo membelitkan sebuah kain mencoba menahan agar darah tak lagi keluar dan mengalir membasahi lengan Yasmin. Perhatian itu membuat jantung Yasmin berdetak begitu tak karuan, pipinya terasa begitu panas saat merasakan sentuhan langsung dari tangan kekar Jo.
.........
"Ahh, bisa rebahan juga akhirnya," merebahkan diri diatas ranjang nyaman milik Yasmin.
"Tapi nggak ada makanan disini, mau keluar juga malas. Pesen aja deh," memainkan ponselnya sambil tiduran.
Sebelum menuju ke apartemen, Elena sempat berhenti disebuah restoran dan memesan beberapa makanan disana. Dan sekarang ia kembali kelaparan, berdalih jika itu akibat ia berjalan jauh dari parkiran hingga lobby.
Setelah menyantap makanannya juga membersihkan diri, El bersiap untuk tidur sebab sudah hampir pukul sepulu malam.
Diluar itu Edwart kembali, ia pulang kerumahnya setelah memastikan jika Malik juga Matius aman dan baik-baik saja. Karena rasa lelahnya dan matanya sudah sangat mengantuk, ia tak langsung pergi ke kamanya melainkan masuk ke kamar tamu.
Hingga mentari bertengger dengan begitu gagahnya diatas langit, Ed baru saja membuka matanya. Ia dengan malas keluar dan menuju kamarnya.
"Pah, kita harus cari kemana lagi ini," tanya Maya frustasi.
"Papa juga nggak tahu mah, kemana anak ini perginya," jawab Billy yang tak kalah pusing.
__ADS_1
"Siapa yang sedang kalian cari ?" Ed menuruni anak tangga sambil memicingkan matanya.
"Kapan kamu kembali Ed," tanya Billy.
"Semalam pah, aku lelah jadi tidur di kamar bawah. Dimana istri aku," tanyanya sambil mencari keberadaan istrinya.
"Pergi."
Ekspresi Ed langsung berubah mendengar apa yang diucapkan oleh mamanya, istrinya pergi? lalu kemana ia pergi?
"Jangan bercanda mah, dimana Elena," tanyanya ulang.
"Ed, seharusnya kamu tetap mengabari istri kamu apapun keadaannya. El itu sedang hamil, hormonnya susah sekali ditebak," tutur Billy.
"Iya, dia itu merindukan suaminya. Tapi suaminya hilang nggak ada kabar dan nggak bisa dihubungin," ketus Maya yang kesal tehadap anaknya.
Ed memijat pangkal hidungnya, ia benar-benar tak habis fikir dengan istrinya itu. Sudah tahu sedang hamil dengan seenaknya keluar tanpa pengawalan, terlebih ia tak tahu kemana istrinya itu kini berada.
"Dimana kamu sayang," batinnya.
"Pergi, carilah dimana istri kamu ini."
"Kalau gitu aku pergi dulu," pamitnya dan melesat pergi dengan mobil pribadinya.
Ed mengelilingi kota Jakarta, mengerahkan anak buahnya untuk segera menemukan istrinya. Namun hingga fajar tiba ia masih tak bisa menemukan sang istri. Rasanya Elena hilang bersamaan dengan mentari yang kini sudah berganti.
"Kamu dimana sayang, kamu lagi apa? apa kamu baik-baik aja," ucapnya seorang diri.
Sedang yang kini tengah dikhawatirkan malah asik dengan berbagai camilan juga es krimnya sambil menonton drama korea kesukaannya.
"Hahaha, lucu banget sih mereka ini. Jadi kangen suami deh," gumamnya.
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••
__ADS_1