
Edwart hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya ini, El dengan tegas meminta tanah kepada suaminya agar dibelikan. Tak bisa menolak hingga akhirnya ia hanya bisa memanggil tim pengacara juga notaris perusahaannya.
"Sepertinya ngidam keponakanku memang berbeda," tawa Malik yang melihat Elena kegirangan.
"Entahlah om, aku pusing rasanya," ucap Edwart memijat pelipisnya.
"Hahaha, hey boy. Tenanglah, om akan bantu jika itu membutuhkan banyak biaya," ucap Malik.
"Bukan soal itu om, aku hanya tidak bisa menebak lagi apa yang diinginkan istriku ini."
"Bersabarlah, ini juga ulah dari benihmu," candanya.
"Om bisa aja bercandanya," senyum Ed menanggapi ucapan Malik.
Tak hanya mendatangkan pengacara juga notaris, tapi Ed juga langsung memanggil arsitektur ternama untuk mendatanginya. Jo yang sigap sudah menyiapkan beberapa kursi dengan payung teduh untuk mereka, juga beberapa jamuna ditengah lahan kosong yang sangat panas.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk memancing om Malik," batin Edwart yang terus saja menatap Malik.
"Om," panggilnya.
"Ya?"
"Apa om nggak ada rencana untuk pindah ke Jakarta, maksudnya agar om bisa lebih dekat dengan Elena saja."
__ADS_1
"Om belum kepikiran soal itu Ed, tapi akan om pertimbangkan saran kamu ini."
"Hanya saran sih om, om kan juga lama terpisah dengan El pasti juga butuh waktu untuk saling melepas rindu."
"Benar Ed, rasanya tak cukup jika hanya satu atau dua hari bersama little princessku ini."
"Tapi apa yang kamu katakan ada benarnya Ed, om jadi kepikiran untuk membeli sebuah rumah didekat kamu ini," sambung Ed yang begitu antusias.
"Boleh saja om, aku bakal carikan rumah didekat sana nanti," seneng Ed.
"Bagus sekali."
"Tapi om, apa aku bisa minta sesuatu sama om Malik?"
"Apa Ed, selama om bisa pasti akan om penuhin."
Malik mengertukan dahinya saat mendengar permintaan Edwart barusan, ada rasa tak suka saat ia harus menyembunyikan kebahagiaanny pada Cindy.
"Ada apa memangnya Ed?"
"Bukan bermaksud yang bukan-bukan om, tapi om tahu sendiri di dunia bisnis ini gimana kita harus menjaga keselamatan. Aku hanya ingin menjaga keselamatan keluargaku saja," jelas Edwart.
"Om paham Ed, om sampai nggak kepikiran sampai kesana. Kamu tenang aja, nggak akan ada yang tahu identitas kalian selama kamu belum siap," menepuk bahu Edwart.
__ADS_1
"Terima kasih om," senang Edwart.
........
Dirumahnya, kini Maya sedang menikmati buah-buahan yang baru di petiknya.
"Enak juga ya buah kalau hasih sendiri," ucapnya sambil mengunyah jambu air ditangannya.
"El memang paling bisa ini," happynya.
Dirumahnya ada sebuah halaman yang luas dan terbengkalai, dulu saat El masih bermusuhan dengan Ed ia selalu menyempatkan diri untuk mengolah tanah disana. Dan saat dirasa sudah cukup subuh, El membaginya dan mulai menanam macam-macam buah juga sayuran disana.
Dan kini hasilnya begitu menggoda, sayurannya nampak begitu segar hingga bisa mengurangi jatah belanjanya hehe. Sedang buah-buahannya dibuat lebih pendek dari ukuran aslinya agar ia tak terlalu kesulitan saat memanennya. Bahkan kini Ed mempekerjakan tiga orang tukang kebun untuk merawat kebun buatan istrinya.
"Permisi nyonya, tadi ada kurir yang antar paket ini," ucap seorang pelayan yang menghampirinya.
"Dari siapa ini paketnya?"
"Maaf nyonya, saya kurang tahu."
Maya menerim paket tersebut dan mempersilahkan pelayannya untuk kembali bekerja. Maya meneliti bungkusan yang kini ada ditangannya, ia penasaran untuk siapa paket tersebut karena tak ada nama pengirim juga ditujukan pada siapa.
"Apa ya isinya, apa aku buka aja kali ya?"
__ADS_1
Maya bangit dan mengambil sebuah curter ditangannya, dengan sangat hati-hati ia membuak perlahan kotak tersebut.
"Akhhhhhhhh.. !!"