
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Tania yang masih tak ingin menerima kekalahannya teringat jika masih ada sebuah pistol yang sengaja disembunyikkanya dibalik tubuhnya.
"Kita mati saja bersama bagaimana."
Dor,,
Tania terlambat satu langkah lagi, sebelum ia menarik pelatuknya Matius sudah telebih dahulu membidiknya. Matius menembak tepat pada tangan kanan Tania hingga membuat pistol itu terlempar dari tangannya.
"Ambil Jo," ucap Edwart.
Semua anak buah Tania sudah berhasil ditaklukkan, polisi juga sudah mengamankan mereka dan mengirimkannya ke kantor kepolisian. Tania masih duduk terdiam tak berdaya, ia juga membiarkan darah mengalir hingga membasahi tanah.
Hati Malik begitu sakit melihat Tania yang begitu tak berdaya, anda ia bukan Tania yang berusaha melukai keponakannya mungkin kini Malik akan berlari dan memeluk erat tubuhnya. Namun sayangnya ia tetaplah Tania yang sudah menyakiti keponakanya, jadi Malik hanya bisa berharap Tania untuk bertobat.
__ADS_1
"Apa kalian fiktr semuanya sudah berakhir sekarang?"
Ucapan Tania itu membuat semua orang mengerutkan dahinya. Kini hanya ada kelima orang itu termasuk Tania, sedang yang lainnya sudah turun dan mengamankan semuanya.
"Apa lagi yang ingin kamu lakukan, sudah cukup semua kejahatan kamu ini," teriak Malik yang sudah begitu tak sabar.
"Sabarlah, ini masih terus berjalan. Semakin cepat maka akan semakin baik untuk kita," ucap Tania yang begitu ambigu hingga membingungkan semuanya.
"Katakan apa lagi yang ingin kamu lakukan," teriak Jo yang sudah begitu tak bisa menahan emosinya.
"Hhahahhahhahha."
Mereka semua begitu menatap heran Tania yang sedang tertawa terbahak-bahak didepannya, semua orang menatap ngeri wanita didepanya itu.
"Berjalan, semakin cepat semakin baik? Apa yang dimaksud wanita ini," batin Edwart yang terus memikirkan petunjuk dari Tania tersebut.
"Kita lompat dari sini," teriak Ed.
"Jangan gila, ini tinggi Ed," bantah Malik.
"Ada apa tuan, kenapa panik?"
"Jo, wanita busuk ini memasang bom. Kalau saya tidak salah bom itu akan meledak dalam hitungan detik, dimulai dari sekarang."
"Semua mundur sejauh mungkin, Ed dibawah ada gundukan pasir mungkin kita bisa selamat," ucap Malik.
Tanpa aba-aba dan hanya saling bertukar pandang, Jo serta Edwart menarik tangan Malik juga Yasmin terjun dari lantai dua.
__ADS_1
Blumm,,
Benar saja prediksi Edwart, bom itu meledak tepat saat mereka terjun kebawah. Namun beruntung gundukan pasir itu menyelamatkan nyawa mereka.
Semua orang begitu terkejut dengan ledakan tersebut, gedung itu kini hancur dan rata dengan tanah. Debu bertaburan, menutup jarak pandang juga mengganggu pernafasan mereka.
Matius histeris, ia panik memikirkan nasib kelima orang yang berada satu atap dengan Tania. Fikiran Matius sudah tak terkendali, bayangan buruk melintasi fikirannya. Ia terduduk lemas, tak sanggup lagi memikirkan apapun itu.
"Cepat panggil ambulance, mereka masih hidup."
Matius mendengar suara teriakan itu, samar-samar ia juga melihat tubuh Malik tengah digotong oleh beberapa anak buah Edwart.
"Syukurlah. Syukurlah mereka selamat," ucap Matius yang meneteskan air matanya tanpa sadar.
..
"Bagaimana, apa sudah ada kabar dari suami saya," panik Elena yang sedari tadi berjalan bolak-balik.
"Masih belum ada kabar nona, saya akan berusaha menghubungi mereka. Tolong nona tenang dulu."
"Mana bisa tenang kalau belum ada kabar dari suami saya," seru Elena.
Sebuah pesan mengalihkan perhatian Mio, pesan yang dikirimkan oleh salah satu anak buahnya.
"Nona, mereka semua dibawa kerumah sakit."
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...
__ADS_1