
Tania marah saat mendengar Ed membenarkan jika dirinya memang sudah menikah, namun ia tetap berusaha menahan amarahnya.
Dengan senyum manisnya, ia meletakkan tangannya pada bahu Edwart dan berjinjit menyetarakan tingginya.
"Aku tunggu istri kamu yang begitu dibanggakan," bisiknya tepat ditelinga Edwart.
"Tunggu saja," menghempaskan tangan Tania dari bahunya. Edwart meninggalkan begitu saja Tania di loby kantornya dengan perasaan marahnya.
"Gila, gila gila!" ucap Edwart sambil mendudukan dirinya dikursi kerjanya.
Edwart begitu merutuki mulutnya sendiri. Bisa-bisanya ia mengatakan akan mengenalkan Elena malam ini, sedangakan istrinya itu menolak menemaninya.
"Ahh bodohnya, ini semua gara-gara Tania brengsek itu."
"Tuan," sapa Jo.
"Apa lagi."
"Apa saya yang mencoba berbicara dengan nona muda tuan," tanyanya.
"Nggak usah! Kalau kamu menemuinya pasti dia berfikir saya yang menyuruhmu," serunya begitu kesal.
"Lalu harus bagaimana tuan," Jo yang melihat tuannya kebingungan juga ikut kebingungan.
"Kalau saya tau mana mungkin saya gelisah begini," kesal Edwart pada Jo.
Jo yang tak tahu harus bagaimana hanya diam menundukkan kepalanya. Ingin rasanya ia menghubungi Elena dan meminta bantuan pada istri bos nya itu.
"Hacimm," bersin El tiba-tiba.
"Loe kenapa El, sakit ?"
"Nggak kok, mungkin ada yang lagi ngomongin gue aja."
Elena bersama Yasmin sedang mengerjakan berkas yang akan mereka berikan pada Putra untuk proyek bulan depan.
Keduanya begitu serius dengan laptop masing-masing didalam ruang meeting.
"Mbak Yasmin, laporan ini mau kita copy nggak?"
"Copy aja deh El, buat jaga-jaga aja."
__ADS_1
"Yaudah, kau kirim copy nya ke email mbak ya," seru Elena sibuk dengan layar laptopnya.
"Apa saya mengganggu," seru Putra yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruang meeting.
"Pak Putra," seru keduanya.
"Apa ini untuk proyek bulan depan," melihat-lihat berkas yang berceceran diatas meja.
"Benar pak, nanti jika semua sudah siap akan kita berikan sama bapak."
"Boleh juga. Tapi kedatangan saya bukan untuk itu sih," serunya meletakkan kembali berkas diatas meja.
"Bapak mau apa," tanya Yasmin bingung.
"Jadi nanti malam ada acara bisnis dan saya nggak ada pasangan untuk kesana."
"Dimana tungana pak Putra ?"
"Keluar negri El, sedang liburan sama teman-temannya."
"Kalau gitu sama El saja pak datangnya, soalnya kan nanti malam saya harus menyiapkan acara makan-makan untuk karyawan."
"Gimana El," tanya Putra menatap Elena penuh harap.
"Ngapain pulang El."
"Ganti baju lah mbak, masa saya ke pesta pakai baju kantor."
"Kelamaan, nanti kamu ikut aja sama saya buat beli baju."
"Pak Putra-
"Potong gaji bulan ini," potong Putra pada ucapan Elena.
Elena hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Putra saja. Ia segera mengemasi semua berkas juga barangnya karena Putra mengajaknya keluar.
**
"Tuan, semuanya sudah siap."
"Apa kita harus pergi Jo," ragunya saat semuanya sudah siap.
__ADS_1
"Tuan sudah siap dan semua juga sudah siap. Kita hadapi saja tuan," nasehat Jo.
"Yaudahlah, " bangkit dari duduknya, Ed berjalan keluar ruangan diikuti oleh Jo.
Suasana begitu meriah, banyak sekali pengusaha yang datang pada pesta Mr. Ricard. Edwart tiba, ia disambut dengan begitu istimewa oleh Mr. Ricard juga istrinya.
"Dimana istri pak Edwart," tanya Mrs. Ricard.
"Kebetulan istri saya sedang menjalankan tugasnya," kilah Edwart sedikit gugup.
"Wah, profesional sekali istrinya."
Banyak kalangan atas juga hadir, bahkan ada yang hadir hanya untuk bertemu dan menjadi anjing bagi Edwart.
Tania hadir, ia dengan gaun seksi nya memamerkan lekuk tubuhnya. Memanjakan mata tiap laki-laki yang hadir dalam pesta.
"Selamat malam Mrs. Ricard," sapa Tania yang berdiri tepat disamping Edwart.
"Malam nona Tania, makin hari makin cantik saja," puji Mrs. Ricard.
"Mrs. Ricard terlalu memuji."
Tangan Tania dengan nakalnya menggandeng lengan Edwart, membuat mata Mr. Ricard mentaap intens keduanya.
Namun belum sempat ia mengomentarinya, riuh para tamu mengalihkan pandangan mereka semua.
Sepasang laki-laki dengan perempuan masuk dengan begitu elegannya. Disamping laki-laki tampan itu ada seorang gadis dengan balutan dress panjang yang begitu sopan tapi tak menghilangkan kecantikannya.
"Pak, kenapa semua melihat kesini," bisik Elena pada Putra.
"Sesuai dengan perkataanku tadi, itu karena kamu terlalu mempeson."
"Wah, apa itu calon istri pak Putra ya?"
Celotehan Mr. Ricard membuat Edwart langsung menatapnya tajam, tiba-tiba saja ia merasa tak suka jika kecantikan Elena diperlihatkan pada semua orang.
"Dia bukan calon istri pak Putra," sahut Edwart menatap lurus istrinya.
"Tuan Edwart mengenalnya," tanya Mr. Ricard.
"Tentu saja, karena dia adalah nyonya Edwart."
__ADS_1
Mata Tania begitu terbuka saat mendengar apa yang dikatakan Edwart barusan. Tak hanya itu, bahkan pasangan Ricard juga begitu terkejut serta terpukau dengan nyonya Edwart.
"Selamat datang istriku."