Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 46


__ADS_3

Edwart dengan fikiran buruknya pergi meninggalkan kantornya. Ia yang tak bisa menghubungi istrinya itu memilih untuk pergi mencarinya.


"Berani sekali mengabaikan suami, lihat apa yang bisa dilakukan suamimu ini."


Ed terus saja bergumam kesal dengan tingkah Elena yang terus saja mengacuhkannya. Namun ditenga jalan tiba-tiba saja Jo menghubunginya dengan begitu panik.


"Apa!"


"Oke. Kamu kirim lokasinya saya segera kesana," Edwart begitu panik. Ia segera memutar arah mobilnya menuju dimana Jo berada.


Mata tajamnya seakan menyihir jalan itu menjadi kosong, seakan hanya dirinya yang menempati dunia ini.


Wajah merahnya memberitahu bagaimana ia berusaha mengontrol emosinya. Bagaimana ia bertaham agar tak termakan emosinya.


"Berani sekali kalian mengusik saya," geramnya mencengmeram erat kemudinya.


"Tangan kaki kalian akan jadi taruhan disana!"


Kecepatan mobilnya melebihi batas normal, melesat begitu cepat bagai terbang keudara. Dan beruntungnya Ed, jalan yang ia lalui tak ramai oleh banyak kendaraan.


**


Selesai memimpin meeting proyek, Elena mengantarkan klien bisnisnya keluar menuju lift. Raut wajah bahagia tak lagi bisa disembunyikannya, kelancaran meeting ini membuat dirinya kegirangan.


"Bisa kita bicara," Putra melihat rekan bisnisnya sudah pergi, dengan langkap pasti ia berjalan mendekati Elena.


"Aku tau pasti mau bahas tuan suamiku," batinnya saat bisa menebak obrolan Putra.


"Tentu saja," lanjutnya santai.


"Oke, kita ke teras ruang saya aja."


Menuntun jalan, Putra mempersilahkan Elena untuk masuk terlebih dahulu. Mengajaknya berdiri diatas gedung perusahaannya dibawah lindungan payung.


"Apa benar yang diucapkan oleh pak Edwart tempo hari?"


Putra tak ingin berbasa-basi, dengan begitu yakin ia bertanya kepada Elena.


Namun El tak menjawabnya, ia menatap lekat wajah Putra. Menatap matanya dalam seakan mengajaknya berkomuniksi.


"Lihatlah," menunjukkan jari manisnya.

__ADS_1


Tubuhnya lemas seketika, beruntung ia berpegang pada pembatas dan tak terjatuh. Namun fakta ini menyakiti hari juga harapannya.


"Maaf, bukan aku bermaksud menyembunyikannya," ucap Elena penuh sesal.


"Tidak apa, aku bahagia jika kamu bahagia juga."


"Makasih ya Put, emang sahabat gue nih."


Tanpa sepengetahuan Putra, Lia datang mengunjunginya. Yasmin tak ada dimejanya, membuat Lia tersenyum menang.


"Bagus banget lampirnya ilang," senyumnya cekikikan.


Lia berjalan masuk, membuka pintu dan berjalan menuju meja besar tunangannya itu. Nihil, tak ada tanda-tanda Putra ada diruangannya.


"Kenapa pintu itu terbuka? Apa Putra disana," tanyanya saat melihat pintu teras terbuka.


Lia melangkah mendekatinya, betapa ia murka saat melihat tunangan yang dicintainya sedang memeluk wanita lain dengan begitu nyamannya.


"Kurang ajar!"


Didorongnya tubuh El begitu keras hingga tersungkur kelantai.


"Apa," balasnya dengan tatapan dingin.


"Jaga sikap kamu."


"Bagaimana aku harus menjaga sikap saat melihat tunangan aku sedang memeluk nyaman wanita lain."


"Sepertinya ada salah paham disini," seru Elena yang berusaha bangkit.


"Apa lagi salah paham!"


"Nona, saya sudah menikah."


"Jangan berbohong padaku hanya untuk menutupi hubungan kalian berdua."


Lia terlanjur emosi, amarah menguasainya. El tak mungkin menangani Lia dalam keadaan ini. Satu-satunya cara adalah ia menghubungi Edwart, mengkonfirmasi pernikahan keduanya agar Lia berhenti cemburu olehnya.


"Dia memang sudah menikah. Pelukan itu untuk mengucapkan selamat," ujar Putra dengan jujurnya, namun nampaknya Lia masih belum puas dengan itu.


"Diam nggak!"

__ADS_1


"Biarkan saya menghubungi suami saya agar nina Lia percaya."


El mengeluarkan ponselnya, menekan nomor Edwart. Ed tak menyahutinya, membuat El mengerutkan dahinya dengan begitu kesal.


"Suami brengsek!" batinnya murka.


"Mana!"


"Bersabarlah nona, suami saya juga bukan pengangguran yang hanya dirumah bermain ponsel."


Tak lama ponselnya berdering. Tak butuh waktu lama dan Edwart langsung menghubunginya.


Sungguh kejutan Ed menerima panggilannya, apalagi langsung mendapat omelan dari tuan suami yang begitu langka.


Lia mengenali suaranya, tubuhnya mati rasa bahkan lidahnya begitu kelu.


"Ada apa sayang, apa ada yang menindasmu disana?"


"Tidak, hanya ada yang ingin berkenalan dengan tuan suamiku."


El mendorong ponsel hingga kearah Lia, tak lupa ia juga mengaktifkan spiker ponselnya.


"Ha-halo tuan muda," sopannya.


"Halo, saya Edwart Emardo suami sah dari Elena Muarsty."


"Oh iya, maaf tuan."


"Tak masalah, jaga istri saya. Kalau ada lecet saya hancurkan persahaan kalia."


Tak hanya Lia ataupun Putra, bahkan Elena pun sempet terkejut dengan ucapan Edwart suaminya.


"Dasar gila!" batin Elena begitu kesal.


...-----🍒-----...


...Hai semua, makasih ya udah mau mampir membaca....


...Mohon dukungannya ya semua, agar semangat updatenya....


...Jangan lupa like, komen and share supaya banyak yang baca. Gift juga boleh kok🤭...

__ADS_1


__ADS_2