
Tania begitu tak tenang menikmati pestanya, pertanyaan Elena begitu mengusik dirinya. Namun ia juga tak pernah merasa jika ia pernah bertemu dengan Elena, dan ia yakin dengan hal itu.
"Siapa dia, siapa sebenarnya wanita yang dinikahi Edwart itu," gumamnya memegang segelas wine ditangannya.
Tak beda jauh dengan Tania, Elena juga terus memikirkan mengenai Tania. Dimana rasanya ia pernah bertemu, namun pikirannya seakan buntu.
"El, ini adalah mitra kerja lama perusahaan."
"Elena," sopannya saat Putra mengenalkannya pada rekan-rekan bisnisnya.
Putra mengenalkan El sebagai asissten sekretaris yang begitu teladan dikantornya. Pegawai dengan tingkat kecerdasan juga ketrampilan yang luar biasa bagusnya.
Namun ditengah tawa mereka, ada sepasang mata nampak begitu murka. Edwart dengan mata elangnya menatap tajam istrinya yang tengah riang tertawa diantara lelaki.
Dari jauh, ingin rasanya ia berlari dan membawa pergi istrinya itu. Mengurungnya disuatu tempat yang tak seorangpun bisa menemukannya.
"Tuan," panggil Jo yang melihat tuannya sedang melamun.
"Tuan Edward," ulanginya lagi.
Tak ada respon dan saat Jo ingin memanggil untuk ketiga kalinya, Mr. Ricard menahannya.
"Biar saya saja Jo," senyumnya.
"Maaf merepotkan Mr. Ricard," canggung Jo berterima kasih.
"Tuan, tuan Edwart."
Tak ada sahutan, namun Mr. Ricard mengikuti arah pandang kemana mata Edwart melihat.
__ADS_1
"Tuan mu ini sedang cemburu Jo, mau kamu panggil ribuan kali juga tak akan mendengarnya," tawanya saat mengetahui situasinya. Bahkan Mrs. Ricard pun ikut tertawa menatap sorot mata tajam Edwart.
"Lihatlah sorot matanya, seperti ingin melahap hidup-hidup seseorang, " seru Mrs. Ricard dengan tawa riangnya.
Jo merasa itu mustahil, ia tahu gimana tak sukanya Edwart pada Elena. Namun melihat sorot mata tuannya sedikit menggoyahkan keyakinannya.
"Biar saya buktikan rasa cemburu tuannya itu," seru Ricard yang melihat keraguan pada Jo.
Perlahan Mr. Ricard mendekatkan dirinya pada Edwart, bersandingan membuat Mr. Ricard dengan leluasa memandang sejurus dengan Edwart.
"Wah, istri anda benar-benar primadona ya," serunya sambil memainkan wine ditangannya, namun Ed hanya diam tak menyahutinya.
"Lihatlah tuan, istri anda begitu dikagumi banyak pria disana. Mata mereka tak berkedip sedikitpun saat menatapnya," godanya tak ingin menyerah. Sedangakan istrinya dan juga Jo hanya terdiam sebagai penonton.
"Astaga, tangan pak Putra nyaman sekali memeluk pinggang ramping istri tuan."
Mr. Ricard membuat suasana hati Edwart bertambah panas. Ada gemuruh yang ingin sekali ia keluarkan dalam dirinya.
Ketiganya tertawa melihat ekspresi juga kekejaman Edwart saat dirinya cemburu. Bahkan Jo yang semula ragu kini paham benar rasa yang mulai dimiliki tuannya.
Ed tak memperdulikan tawa mereka, ia melangkah maju menghampiri istrinya.
"Tuan," seru Jo hendak menghalangi, namun tangannya lebih dulu dicekal oleh Mr. Ricard.
"Biarkan saja Jo, dia suaminya dan dia berhak atas istrinya," ucap Mr. Ricard membuat Jo mengurungkan niatnya.
Edwart menarik tangan Elena dan memeluk pinggang istrinya tersebut. Putra menatap tajam sikap Edwart yang dirasa tak sopan itu, tak hanya Putra bahkan mereka juga menatap tak suka sikap Edwart itu.
"Tuan Edwart, anda bersikap tak sopan," tegur Putra pada Edwart.
__ADS_1
"Maafkan saya pak Putra, tapi saya terganggu saat istri saya ini tertawa riang dengan para laki-laki," ucap Edwart dengan lantangnya, membuat El begitu terkejut menatapnya.
Mata Elena membulat saat Edwart mengakui dirinya sebagai istrinya, bahkan didepan semua orang yanh ada disitu.
Tania mendengarnya dan ia tak terima dengan hal tersebut. Mengepalkan kedua tangannya, Tania bersumpah akan merebut kembali Edwart kesisinya.
"Mimi aja bisa gue singkirin, apalagi cuma tikus kek loe ini," seru Tania emosi.
Edwart menarik Elena ikut dengannya, ia bahkan tak membiarkan istrinya itu untuk berpamitan sedikitpun. Ia membawa istrinya untuk ikut bergabung kembali dimeja Mr. Ricard.
Ed tak memberi ruang bagi El untuk bergerak leluasa, ia mengawasi dan menemani kemana istrinya itu pergi.
"Mau kemana," tanyanya saat El berdiri dari bangkunya.
"Ke toilet tuan suamiku," serunya menekan kata.
"Yaudah ayo."
Elena buru-buru menekan suaminya untuk kembali duduk, dan itu membuat mereka tertawa melihatnya.
"Kenapa sih," ketus Ed.
"Aku bisa sendiri."
"Nggak, aku temenin."
"Nggak perlu," seru El mulai kesal.
Tak ingin malu berdebat, Ed pada akhirnya melepas istrinya ke toilet seorang diri. Tania melihatnya, ia berjalan mengikutinya.
__ADS_1
"Saya tau siapa anda."