Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 111


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Malik terus setia menjaga Matius disampingnya, hingga sebuah keajaiban muncul malam itu. Matius membuka matanya, ia telah melewati masa kritisnya dan sadarkan diri.


"Tu tuan Malik," panggilnya begitu lemah.


Malik terperanjat mendengar suara yang diridukannya, ia terperanjat dan buru-buru bangkit menghampiri Matius diranjang kesakitannya. Mata Malik begitu berkaca-kaca, ia begitu bersyukur Matiusnya bisa kembali padanya.


"Kamu bangun Matius, kamu sadar," bahagianya hingga berkaca-kaca.


"Tuan, dengarkan saya," lirihnya masih menahan sakitnya.


"Nggak nggak, jangan banyak bicara dulu. Saya panggil dokter," ucapnya dan berbalik memunggungi Matius.


"Tinggalkan Cindy tuan," ucapnya membuat langkah Malik terhenti.


Perlahan Malik membalik tubuhnya, kembali menetap Matius dengan tatapan penuh tanya. Malik berjalan kembali mendekati Matius, digenggamnya tangan lemah itu.


"Ada apa Matius, apa yang kamu sedang sembunyikan dari saya," tanyanya.


"Tolong bantu saya duduk tuan," pintanya.

__ADS_1


Malik membantunya, menyesuaikan ranjang agar lebih nyaman bagi tubuh Matius yang sedang terluka. Kini mata kedua laki-laki itu terkunci satu sama lainnya.


"Katakan," ucap Malik dingin.


"Cindy itu palsu, dia sebenarnya adalah Tania. Tania yang sedang dicari oleh tuan Edwart saat ini."


Malik tak percaya dengan apa yang didengarnya, ia tak percaya jika Cindy yang dicintai mampu menipunya dengan begitu kejam. Tapi jika itu benar, apa yang harus dilakukannya? Ia tahu siapa Tania, wanita yang selalu menyakiti little princessnya.


"Tolong jangan membohongiku Matius. Kumohon." ucap Malik ingin menolaknya.


"Dia berbahaya tuan, saya rela jika itu saya yang terluka. Tapi saya tidak bisa jika itu anda."


Malik terdiam, ia mencengkeram kuat kepalanya yang terasa begitu sakit. Sungguh kenyataan yang melukai hatinya. Kenyataan yang membuah hatinya begitu hancur berantakan dibuatnya. Ia menghubungi anak buahnya yang menjaga Tania, ia meminta mereka mengantarkan Tania kepadanya di Jakarta.


......


...


Bumil yang kelelahan tertidur tanpa sengaja dengan televisinya masih menyala. Namun dalam tidurnya ia nampak begitu gelisah, keningnya berkerut juga keringat membanjiri tubuhnya. Elena ketakutan, ia memeluk dengan erat bantal yang ada ditangannya.


"Nggak, tolong jangan. Om, jangan om. Nggak," ngigaunya.


Matanya tiba-tiba terbuka dengan nafas memburu, matanya menatap disekelilingnya seakan sedang mewaspadai sesuatu. Elena mengigil ketakutan, memeluk kakinya sambil menggumamkan sesuatu.


Ia yang ketakutan tanpa sadar mengambil ponselnya dan menghubungi Edwart, hanya ada Edwart kini dipikiran juga rasa takutnya.


"Sayang, sayang kamu dimana," panik Ed saat menerima panggilan dari istrinya.


Ed yang kebetulan sedang keluar untuk membeli makan terkejut saat ponselnya begetar dan lebih terkejut saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Sayang tolongin aku, aku takut," cicitnya begitu lirih.


"Kamu dimana sekarang," segera bergegas pergi setelah meninggalkan dua lemba uang dimeja makannya.

__ADS_1


'Aku ada di apartemen Yasmin yank, tolong."


"Kirim lokasi, aku kesana sekarang."


Ed yang panik segera masuk kedalam mobilnya, namun baru saja menggunakan siftbelt pesan dari Elena masuk. Kening Ed berkerut melihat pesan tersebut.


"Sialan," umpatnya dan melajukan mobil miliknya.


Edwart merasa bodoh ketika menyadari jika istrinya ternyata berada satu atap dengannya, ia merutuki dirinya yang tak menyadari jika Jo pernah mengatakan telah membelikan Yasmin apartemen disebelahnya. Ada rasa bahagia karena berhasil menemukan istrinya namun juga ada rasa panik mengingat suara istrinya dibalik telpon barusan.


"Jangan sampai hal buruk datang ke istri gue, gue matin kalian semua."


Tak lama mobilnya tiba dihalaman apartemen, ia berlari dan buru-buru memasuki lift. Ia terus berdoa dan berharap agar istrinya akan baik-baik saja.


Ting,


Sampai, Ed berlari dan bergegas mengetuk pintu kamar Yasmin yang berhasil diingatnya. Ia panik saat tak ada sahutan apapun dari dalam, bahkan ia sudah memberitahu namanya namun masih begitu sunyi.


Klek.


Pintu terbuka, Elena muncul dari baliknya dan langsung berhambur memeluk tubuh suaminya. Kini Elena merasa lega dan tak begitu ketakutan lagi. Edwart mendorong tubuh keduanya masuk dan mengunci kembali pintu tersebut.


"Ada apa, ada yang mengganggumu," panik Ed bertanya sambil menyibak rambut istrinya.


"Nggak, tapi om Malik. Aku takut Tania nyakitin om Malik, aku takut om aku terluka.


"Ada apa ini, kenapa El bisa berfikir begitu. Baru juga tadi Jo memberi kabar kepulangannya dengan Tania," batinnya.


"Aku cuma punya om Malik sebagai keluargaku, kau nggak mau sendiri lagi," ucapnya sambil mencengkeram kaos yang Ed kenakan.


Tak ada pembicaraan lagi, Ed hanya memeluk tubuh istrinya yang sangat ketakutan. Ia termenung mengingat ucapan Elena, bagaimana bisa istrinya berfikri seperti itu padahal ia tak tahu tentang Tania juga Malik ?


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...

__ADS_1


__ADS_2