
Jo membawa Yasmin kembali kedalam kamarnya, ia meminta Yasmin untuk segera beristirahat dan merebahkan dirinya. Tubuhnya yang lemah membuat Yasmin segera tertidur pulas dalam sekejab saat tubuhnya berada diatas ranjang empuk.
"Kenapa gue khawatir banget sih sama dia," batinnya menatap damai wajah Yasmin yang tengah tertidur pulas.
"Udahlah, sebaiknya gue hubungin tuan muda dulu."
Jo menghubungi Edwart untuk menanyakan kondisi nona mudanya saat ini, namun ia terkejut saat mendengar semua yang diceritakan tuannya. Jo tak menyangka jika ada masalah yang sebesar ini sedang dihadapi oleh tuan juga nonanya.
"Maafkan saya tuan, saya lalai dengan tugas saya."
"Sudahlah Jo, tapi kemana saja kamu ini?"
"Saya mengurus teman nona muda yang juga terluka tuan, dia sendirian jadi saya yang membantu merawatnya."
"Yaudah, lebih baik kamu juga istirahatlah."
Dimarkas,
Ketua hendak membersihkan tikus yang ia tebar didalam ruangan milik Tania, namun sesampainya didalam tiba-tiba seseoran memukulnya dengan begitu keras.
"Mampus loe, sebaiknya gue cari jalan keluar dari sini."
Tania berhasil melepaskan diri dari tawanan Edwart, rantai yang sempat dilepas darinya tak disia-siakan. Ia segera menyusun rencana agar bisa lolos dari jeratan Edwart yang selalu menyiksanya.
"Tahanan kabur!!"
__ADS_1
"Tangkap dia."
"Jangan larii."
Begitulah teriakan semua orang yang melihat Tania keluar dari dalam markas. Semua orang berpencar, namun hingga langit berubah warna tak ada satupun yang berhasil menangkapnya kembali.
"Bodoh kalian semua, satu wanita aja kalian nggak sanggup menangkapnya," amuk Ketua pada anak buahnya.
Ketua terus saja memegangi tengkuknya yang terasa sakit akibat dipukul oleh Tania. Namun kini ia lebih takut dengan reaksi tuannya jika tahu tawanannya berhasil kabur dari markas.
"Bagaimana saya harus menjelaskan ini sama tuan muda," bingungnya.
"Maafkan kami ketua."
Semua anak buahnya menundukkan kepalanya merasa bersalah karena lalai melakukan tugasnya. Ia tak tahu juga harus bagaimana membantu ketua dalam menjelaskan semua kejadian ini.
Sedang dijalanan yang sangat sepi, Tania tengah tertatih-tatih melangkahkan kakinya menjauh dari kejaran mereka semua. Sakit disekujur tubuhnya membuatnya langkahnya begitu berat, bahkan rasanya ia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sebentar saja.
"Tolong," lirihnya meminta pertolongan.
Sepi, tak ada satupun kendaraan atau orang yang melintasinya. Ia putus asa, rasanya ingin sekali ia pergi jauh karena takut akan tertangkap kedua kalinya. Namun tubuhnya tak bisa menuruti ingin nya.
"Tolong," rintihnya dalam tangis. Rasanya semua teras begitu perih ditubuhnya, apalagi kini rintikan hujan membasahi dirinya menambah sensasi perih yang begitu menyiksa dirinya.
Namun ditengah rasa putus asanya itu, sebuah sorot lampu membuat penglihatannya terganggu. Tania begitu bersemangat menghadang mobil itu, meminta pertolongan pada sang pemilik tersebut.
__ADS_1
"Tolong saya," rintihnya tepat didepan mobil yang tengah melaju.
Cittttt..
Suara rem begitu nyaring terdengar ditelinga, tubuh Tania yang sudah tak kuat kini tergeletak lemah tak sadarkan diri dijalan.
"Ada apa?"
"Maaf tuan, ada yang menghadang mobil kita."
"Lihat dan pastikan kondisinya."
Seorang supir turun dari mobil memeriksa keadaan disekitarnya. ia terkejut saat ada seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri tepat didepan mobilnya. Ia kembali dan melaporkan pada tuannya.
"Perempuan itu pingsan tuan."
"Bawa."
.
.
.
...‐Terima kasih semua dukungannya, maaf jika ada yang kurang berkenan semua .. ‐...
__ADS_1