
Didalam ruangannya nampak Yasmin juga Elana diam terpaku dengan pemikiran masing-masing. Bahkan Putra yang sedang memperhatikannya pun tak direspon keduanya.
"Ekhmm," deham Putra membuyarkan lamunan keduanya.
"Pak Putra," gugup Yasmin saat menyadari Putra bersandar disebelahnya.
"Apa yang kalian berdua fikirkan, sampai saya masuk aja nggak ada yang sadar," tanya Putra.
"Itu pak, tadi Renata datang ke kantor-
"Terus?"
"Tunggu saya masih cerita ini pak, jangan dipotong."
"Iya lanjut," serunya.
"Dia tiba-tiba datang dan meminta maaf pada Elena pak, dia juga nitip maaf buat suaminya Elena pak," bingungnya, namun Putra hanya diam tersenyum.
"Kenapa pak Putra tersenyum ya," tanya El begitu tiba-tiba.
"Nggak, saya cuma nggak menyangka aja kerja cepat suami kamu El," puji Putra pada Edwart.
"Maksud pak Putra apa ya," tanya El.
"Nggak ada. Yaudah kalian berdua siap-siap karena habis ini kita ada meeting," bergegas pergi sebelum El terus menatapnya penuh curiga.
Sedang kini, Renata tengah duduk dengan begitu ketakutan dihadapan Jo juga beberapa anak buahnya yang lain. Rasanya seluruh tubuhnya mati rasa.
"Bos, apa yang harus kita lakuin," tanya salah seorang anak buahnya.
"Menurut tuan muda, suranya hanya bisa menimbulkan fitnah."
__ADS_1
"Meresakan," lanjut Jo menekan katanya.
"Baik bos, saya mengerti."
"A apa yang mau kalian lakuin," gugup Renata saat dua orang laki-laki berjalan mendekatinya.
Kedua orang itu menarik paksa Renata masuk kedalam kamar, dibaringkannya tubuh itu kemudian mengikatnya. Tak hanya itu, Jo bahkan menempelkan perekat pada mulut Renata agar tak bisa bersuara.
"Selamat menikmati akhir dari suara anda nona Renata," sinis Jo.
Renata begitu ketakutan dengan tatapan mata Jo, ancaman itu seolah-olah bukan hanya sekedar ancaman untuknya.
Dan seseorang mula menyuntikkan sesuatu ketubuhnya, membuat pandangannya mulai kabur dan perlahan menjadi gelap. Renata kehilangan kesadarannya, tubuhnya mulai dipindahkan masuk kedalam mobil dan dibawanya pergi.
"Itu harga mahal yang harus anda bayar nona, karena anda berani bermain-main dengan nona muda kami," gumam Jo menatap kepergian mobil anak buahnya.
.....
...
"Maaf bos, " ucapnya.
"Tak apa, keluarlah. Pastikan jangan ada yang menggangguku," pinta Billy.
"Baik bos."
Setelah melihat sekretarisnya keluar, Bily segera mendekati laki-laki tersebut yang diajaknya duduk diatas sofa ruangannya.
"Bagaimana?"
"Sesuai dengan yang bos harapkan."
__ADS_1
"Mana, saya mau lihat dulu," pinta Billy tak sabaran.
Laki-laki itu mulai menyalakan laptopnya, mencari file yang akan ditunjukkannya pada Billy. Dan reaksi Billy begitu terluka juga menahan amarahnya.
Billy begitu syok dengan apa yang dilihatnya, tangannha bergetar tak sanggup menopang tubuhnya.
"Bos baik-baik aja," tanyanya.
Billy hanya diam, ia hanya menggelengkan kepalanya mengisyratkan dirinya baik-baik saja. Namun tak bisa dipungkirinya bahwa rekaman itu benar-benar mengguncang dirinya.
Entah apa yang akan Billy lakukan lagi, ia begitu bingung tentang apa yang akan dilakukannya setelah melihat rekaman itu. Hatinya bimbang.
"Kamu."
"Saya bos," hormatnya.
"Kirimkan rekaman itu pada email anak saya."
Dan ditempat lain Jo begitu kewalahan menghadapi tuannya yang kehilangan kendali atas dirinya. Hingga mau tidak mau ia harus menghubungi El meminta pertolongan.
"Nona muda tolong tuan muda."
...-----🍒-----...
...Hai semua, makasih ya udah mau mampir membaca....
...Mohon dukungannya ya semua, agar semangat updatenya....
...Jangan lupa like, komen and share supaya banyak yang baca. Gift juga boleh kok🤭...
...jangan lupa tekan favorit supaya nggak ketinggalan...
__ADS_1