
Edwart beserta Jo meninggalkan Jakarta dengan jet pribadi miliknya, kini bagi Ed ia harus fokus menemukan Tania agar tak membahayakan Elena. Malaysia adalah negara yang menurut informasi anak buahnya dimana Tania kini berada.
"Bodoh!!!"
"Bodoh kalian semua," teriak lagi Edwart murka pada anak buahnya.
Sesampainya Ed juga Jo di Malaysia, mereka segera menuju tempat dimana katanya Tania berada namun setelah sampai ternyata itu hanya alamat bangunan terbengkalai disana.
"Bagaimana bisa kalian mendapat informasi palsu dan memberikannya mentah-mentah kepada saya."
"Maaf kan kami tuan."
"Maaf maaf maaf lagi."
"Kembali ke Jakarta dan cari lagi dimana perempuan itu berada."
Sedang di Jakarta,
Elena kini baru saja terbangun saat alarm ponselnya berbunyi, ternyata sebelum Ed berangkat ia sempat memasang sebuah diponsel istrinya. El yang terganggu dalam tidurnya menggerutu kesal mendengar bunyi nyaring dari ponselnya sendiri.
"Astagaaaa," teriak El kesal sambil menutup telinganya dengan bantal tidurnya.
El menyahut ponselnya yang berada dinakas meja, dimatikannya lalu dilemparkan ponsel itu ke atas ranjangnya. Matanya menyisir semua sisi kamarnya, mencari dimana keberadaan suami yang sudah tak lagi ada disebelahnya.
"Astaga ternyata udah jam satu siang," seru El terkejut saat melihat jam dikamarnya.
__ADS_1
El bergegas turun dari ranjangnya dan membersihkan tubuhnya, ia sedikit menyesal menghabisakan malam dengan drama diponselnya hingga membuatnya kini kesiangan.
"Salah sendiri kan bikin aku jadi pengangguran, jadi ya gpp sekali-kali bangun siang," ucap El menghibur dirinya didepan cermin.
Selesai berhias diri El segera turun kelantai bawah menuju meja makan. Disana semua makanan sudah tersaji lengkap menanti untuk disantap. "Wow, bikin laper nih," gumam El melihat semua makanan yang tersaji.
"Selamat siang nona," sapa kedua pelayan yang bersiap meninggalkan rumah.
"Oh siang," balas El sangat ramah.
"Selamat makan siang nona, kami berdua pamit dulu."
"Iya, makasih ya. Hati-hati dijalan."
Menikmati makan siang seorang diri membuat El tak harus berbagi makanan, entah suka atau lapar namun El terlihat sangat lahap menikmati makan siangnya.
"Selamat siang nona, " sapanya.
"Siang, kalian ini siapa ya," tanya El sambil menatap semua laki-laki berbaju hitam yang ada disekeliling rumahnya.
"Kami adalah anak buah tuan Edwart yang khusus ditugaskan untuk menjaga nona muda."
El menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia merasa terlalu berlebihan jika suaminya menyediakan penjagaan ketat untuk dirinya. "Dasar tuan suami emangnya ya," batin El malu.
El segera memundurkan langkahnya kembali masuk kedalam rumah, mengurungkan niatnya untuk pergi akibat melihat banyaknya orang asin dirumahnya.
__ADS_1
"Bener-bener ya ini tuan suami, emang paling ngeselin," omel El sambil kembali kekamarnya.
Sangat kesal, El membantingkan dirinya diatas ranjang empuk miliknya. "Kenapa sih harus ada banyak orang asing."
"Kenapa juga aku harus dijagain ketat, emangnya aku istrinya presiden apa," ucap El ngedumel sendiri.
"Hey hey ngomong apa kamu ini."
El menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri saat mendengar suara Ed menggema didalam kamarnya. Ia begitu bingung mendengar suara suaminya namun tanpa wujudnya.
"Jangan-jangan hantu kali ya?"
"Hey, hey ngomong apa?"
El kembali menolehkan kepalanya mencari sumber suara. "Setan baik setan nakal jangan gangguin gue ya," cicit El.
Ternyata tanpa sepengetahuan dirinya, Ed memasang sebuah kamera cctv didalam kamarnya. Cctv full dengan audio yang memudahkan Ed melihat dan mengontrol istrinya dari rumah.
"Tega banget ngatain suaminya setan," ucap Ed.
"Tuan suami, dimana sih. Keluar dong," teriak El.
"Heh istri nakal, gimana bisa aku segede gini keluar dari cctv."
"Cctv," ulang El sambil celingukan mencari cctvnya.
__ADS_1
"Hey, jangan deket-deket wajahnya ke kamera. Haha pori-pori kamu kelihatan semau," tawa Ed begitu menggelegar.