Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Tc 116


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Yasmin tertawa begitu bahagia melihat raut wajah terkejut dari mereka semua, ia merasa puas dengan semua rencana yang dengan susah payah dirancangnya kini berhasil.


"Hhaha, kalian pasti tak menyangka bukan dengan semua ini? Kalian terlalu menganggap gue remes, lemah dan tak berguna. Sekarang kalian lihat apa yang bisa gue lakuin," murkanya melampiaskan semua kemarahannya.


"Gila loe, sampai keponakan saya dalam bahaya awas aja loe," seru Malik.


"Hhaha, apa apa? Apa yang mau tuan lakuin, bunuh silahkan bunuh," menantang dengan sangat beraninya.


Malik berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman anak buah Tania, namun semakin ia berusaha lepas maka cengkraman mereka juga semakin bertambah kuat.


"Om tenanglah," ucap Edwart dengan tenangnya.


"Ed, kamu bisa tenang saat istri kamu disana dalam bahaya," tanya Malik yang tak habis fikir dengan suami keponakannya itu.


"Tuan," panggil Jo yang juga merasa heran.


"Tenanglah dulu, kita lihat sejauh mana wanita ini bisa tertawa puas. Karena pada akhirnya hanya sang pemenang yang bisa tertawa terbahak-bahak," ucap Edwart dengan senyumannya.


Tania menghentikan tawanya, ditatapnya wajah santai Edwart dengan kerutan dikeningnya. Tania tahu bagaimana Ed melindungi Elena istrinya, tapi ekspresi ini membuatnya penuh dengan tanya.


"Kenapa tersenyum, oh atau jangan-jangan sebenarnya loe emang nggak perduli ya dengan istri loe itu," ucapnya penuh tanya.


"Menurut loe?"


Tania murka, ia merasa kini Ed sedang mempermainkannya. Ia melangkah maju dan mencengkeram kerah Ed dengan begitu kuatnya. Matanya yang memerah menahan amarah menatap Ed dengan penuh kebencian.


"Menyerahlah, mungkin gue bisa mengampuni istri loe itu."


"Mimpi, dalam kamus Edwart Emardo nggak ada namanya menyerah terlebih dengan iblis macam loe ini."


Plakk,,

__ADS_1


"Lancang, gue bisa pastiin nasib Elena bakal hancur hari ini juga. Kalau dia nggak mati maka gue yang akan mati," serunya.


"Deal, loe yang bilang sendiri ya ini," ucap Edwart dengan santainya.


Tania mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat hingga buku-buku tangannya terlihat.


Sedangkan dirumah, setelah kepergian Edwart dan yang lainnya ketiganya memutuskan untuk menunggu kabar diruang tengah bersama-sama. Namun samar-samar El mendengar ada langkah kaki dari arah belakang halamannya.


"Pah mah, sepertinya ada orang dibelakang," ucapnya.


"El, kamu yakin?"


"Yakin pah, kita periksa aja gimana?"


Dan ketiganya bangkit memeriksa halaman belakang sesuai dengan ucapan Elena.


"Siapa kamu," tanya Billy yang terkejut melihat seorang laki-laki masuk kedalam rumah lewat halaman belakang.


"Ssstt, pelankan suara anda tuan. Saya Mio, saya diutus tuan Edwart mengamankan keluarganya disini."


"Jadi suami saya yang menyuruh anda?"


"Benar nona muda, tuan berpesan agar anda tetap tenang dan waspada."


"Baiklah, saya dan keluarga saya akan duduk diruang tengah," ucap Sabrina."


Kini ketiganya duduk diruang tengah, dengan Mio yang berada dibalik tembok disebrang Elena. Mio tak ingin menampakkan dirinya agar ia tak ketahuan jika sudah berhasil menyusup kedalam rumah.


"Sebenarnya ini ada apa sampai anak saya menyuruh kamu kesini," tanya Maya bertanya-tanya.


"Tuan suami sedang memprediksi jika Tania akan mengirim anak buahnya kemari untuk menyerang aku mah. Tuan suami mungkin juga sudah meminta anak buahnya untuk berjaga didepan rumah, bukan begitu Mio," ucap Elena.


"Benar sekali nona, anda memang istri kebanggaan tuan muda kami."


"Anak buah Tania kemungkinan akan segera bergerak, sebab ini sudah lebih dari satu dua jam setelah tuan Edwart berangkat."


"Kami akan selalu disini, saya juga akan melindungi istri juga menantu saya."


"Baik tuan Billy."


Dan benar saja, tak lama terdengar suara ledakan terdengar dari halam depan rumah Elena. Mereka menghancurkan gerbang dengan boom buatan, gerombolan laki-laki mulai masuk menyerang halaman rumah Elena.


Rumah yang mereka sangka hanya terdapat tiga orang manusia tak menyangka muncul puluhan laki-laki yang datang menghadang kedatangannya. Semua anak buah Tania terkejut, namun mereka tak bisa kabur sebab semua anak buah Edwart sudah mengepungnya.


Terjadilah perkelahian hingga merusak seluruh halaman rumah Edwart, Elena hanya bisa mendengar kebisingan tanpa bisa melihatnya dengan jelas. Hatinya ingin sekali melihat, namun ia tak bisa mebahayakan dirinya juga kandungannya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu didobrak, dua orang anak buah Tania berhasil masuk kedalam rumah.


"Target kita ketemu, segera habisin."


"Berani kalian maju, nyawa kalian melayang," ucap Mio yang keluar dari persembunyiannya.


Tak menunggu waktu lama, baru satu langkah keduanya melangkah Mio sudah menembak mereka dengan pistolnya.


"Terlalu lelah jika harus berkelahi," ucapnya menatap Elena.


Sedangkan diatas gedung Tania nampak pucat dengan ucapan Edwart padanya. Pembawaan Ed yang tenang membuat Tania semakin ketakutan, Jo memanfaatkan kesempatan untuk menolong Yasmin dari sandraan Tania.


"Yasmin lari, "teriak Jo setelah melukai tangan anak buah Tania.


Suasana kacau saat Yasmin berhasil kabur, Jo dengan kuat memegangi tangan Yasmin dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya.


"Nggak mau telpon anak buah kamu disana, tanya gih apa istri aku udah mati," tantang Ed.


Tania semakin ketakutan, Ed begitu tenang juga berani. Namun suara peringatan membuyarkan dirinya.


Matius datang dengan beberapa polisi dibawah, mereka meminta Tania untuk segera melepaskan para sandera ditangannnya.


"Brengsek, loe jebak gue ya Ed," murka Tania.


"Kalau loe ada persiapan kenapa gue nggak boleh ada persiapan juga."


"Brengsek loe!"


"Loe pikir selama ini loe bisa kabur karena loe hebat? Salah, loe bisa kabur karena gue memang masih membebaskan loe. Dan kalau gue mau loe mati, saat digudang itu gue bisa matiin loe dengan gampangnya."


"Loe pikir gue percaya."


"Terserah, tapi pada akhirnya gue juga Elena yang menang. Loe bisa pastiin sekarang, dan gue jamin loe bakal terima surprisenya."


Tania menghubungi anak buahnya dengan tangannya yang mulai gemetar. Namun saat telpon itu tersambung dan Tania belum sempat berbicara ada sebuah suara asing yang berbicara.


"Semua dalam kendali tuan muda," ucapnya.


"Bagus, bilang sama istri saya kalau kami baik-baik saja juga Tania akan bunuh diri saat ini juga."


"Baik." sambungan telpon terputus.


Tania terduduk tak berdaya dilantai, pandangannya kosong. Ia tak bisa menerima kekalahan ini, tapi Tania yang belum mau mengalah menodongkan sebuah pistol pada mereka semua.


"Kita mati bersama saja bagaimana?"

__ADS_1


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...


__ADS_2