Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 104


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Tania yang terdesak dengan ancaman Matius tanpa sengaja melihat ada sebuah pistol didepannya. Pistol yang biasa Malik gunakan untuk latihan itu menjadi angin segar bagi Tania.


Malik membutuhkan Matius untuk menemaninya kembali ke kantor mengurus semua dokumen kepindahannya. Sudah semua tempat dicarinya, namun Matius masih belum terlihat batang hidungnya.


"Apa kalian melihat Matius," tanya Malik pada pelayannya.


"Tuan Matius ada diruang latihan tuan, sepertinya masih disana."


"Baiklah, silahkan kembali."


Malik berjalan mendekati ruang latihannya, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara letukan pistol terdengar dengan jelas dari ruang latihan. Ia berlari dan buru-buru masuk kedalam ruangannya.


Kakinya kelu, tubuhnya bergetar hebat. Mata Malik berkaca-kaca melihat apa yang terjadi didepannya saat ini. Matius tak bergerak, ia tergeleta dengan bersimbah darah ditubuhnya.


"Kamu, Cin.. Cindy. Kamu menembak Matiusku?"


Tania terkejut dengan kedatangan Malik, ia buru-buru menjatuhkan pistol dari tangannya. Ia panik, ia tak tahu harus berbuat apa setelah Malik memergokinya menembak Matius.

__ADS_1


"Matius, Matius bangunlah," Malik bersimpuh dan memeluk tubuh Matius.


"Aku mohon bertahanlah, aku akan membawamu segera ke rumah sakit."


"Tuan Malik ak-


"Tutup mulutmu itu," melirik tajam Tania yang dicintainya itu.


Malik menggendong tubuh Matius dipunggungnya, ia berlari namun berhati-hati agar tak menambah luka Matius lagi.


"Siapkan mobil," teriaknya yang langsung disahuti supir pribadinya.


Sampai dirumah sakit Matisu segera dilarikan di UGD, Malik terus berdoa agar tak ada hal buruk yang menimpa saudaranya tersebut. Tubuhnya sudah penuh dengan darah dari Matius, namun ia hanya bisa membiarkannya karena kini ia hanya ingin tahu kondisi Matius.


"Kamu harus baik-baik saja Matius, aku tidak bisa memaafkan siapapun jika hal buruk menimpamu," gumam Malik menunggu cemas didepan UGD.


"Tuan, sebaiknya tuan berganti baju dulu. Baju anda penuh dengan darah."


"Biarkan, aku hanya ingin Matius selamat," cemasnya.


Malam yang sangat dingin, dua sejoli tengah terlelap dalam tidurnya dengan saling berpelukan satu sama lain. Sebuah dering ponsel mengusik tidur Edwart yang sedang menikmati malamnya.


"Siapa sih ganggu malam-malam gini," gerutunya.


"Ehmm, siapa," tanyanya dengan mata terpejam.


"---------- "


"Oh, ada apa. Apa om Malik sudah tiba disana?"


"-------------------- "

__ADS_1


Mata Edwart terbuka dengan seketika, nafasnya menderu seperti habis maraton. Kabar itu benar-benar mengejutkan dirinya, ia bangkit dan keluar menuju balkon kamarnya. Ia tak mau Elena menyadari apa yang sedang terjadi disana.


"Apa yang terjadi disana?"


"---------- "


"Lalu bagaimana kondisi saat ini?"


"------------ "


"Tolong jaga om saya disana, saya harap kamu bisa menjauhkannya dari wanita itu ."


Ed segera memutus sambungan telponnya, ia sejenak termenung memikirkan nasib Matius disana. Ia tak menyangka akan ada kejadian seperti ini ditengah rencananya, ia khawatir jika Tania menyadari sesuatu maka itu ia menyerang Matius terlebih dahulu.


"Dia benar-benar membuat keruh saja," memijat pangkal hidungnya.


"Siapa yang membuat keruh," tanya Elena yang datang tiba-tiba memeluk punggung suaminya.


"Kenapa bangun?" tanyanya tanpa membalik tubuhnya. Ia menikmati pelukan hangat sang istri ditubuhnya.


"Suamiku hilang, jadi terpaksa aku mencarinya."


Edwart membalik tubuhnya, kini ia bergantian mendekap hangat tubuh sang istri agar tak terkena angin malam.


"Bukan hilang sayang, tadi ada telpon dari perusahaan luar. Aku nggak mau gangguin tidur cantik istri aku, makanya aku angkat diluar," mencubit hidung Elena.


"Udahkan, masuk yuk."


"Yuklah, dingin disini."


"Aku pelukin biar anget ya," goda Elena yang mendapat gelitikan pada pinggangnya.

__ADS_1


"Maafin aku yank, bukan bermaksud bohong. Semua demi kamu dan keselamatan kamu," batin Edwart


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••


__ADS_2