Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 57


__ADS_3

Tangan nakalnya yang terulur mulai menyentuh apa yang menjadi tempat favoritnya. Perlahan tangan itu mula berkeliling mencari tempat-tempat kesukaannya.


"Maaf ya sayang, nggak tahan," bisik Ed perlahan ditelinga istrinya.


Dan bagai singa liar, Ed menyerang Elena dengan begitu ganas hingga tak membiarkan istrinya sejenak untuk bernafas. Bahkan ponselnya yang berdering seklaipun tak mampu mengganggu kesenangannya.


.....


...


"Akhhhhhhhhhhhhhhhhh," suara nyanyian Elena dipagi hari.


"Bangun, bangun nggak ayo bangun," El yang merasa kesal terus saja menghujani suaminya dengan pukulan bantal.


"Astaga sayang stop, masih pagi ini," ucapnya sambil mencoba menangkis serangan Elena.


"Ngomong baik-baik oke, jangan main pukul," serunya saat berhasil menangkap bantal Elena.


"Apa yang udah kamu lakuin sama aku semalam," menekankan pertanyaannya.


Ed melepas bantal yang dipegangnya, seolah tak mengerti apa yang dibicarakan istrinya Ed mencoba mencari berbagai alasan.


"Ha, apa yang terjadi istriku. Apa ada yang terluka," serunya berpura-pura panik.


"Singkirkan tanganmu dari bahuku."


Ed mengangkat tangannya layaknya seorang pencuri, ia kini hanya bisa tersenyum kikuk dihadapan istrinya. Hanya bisa pasrah menerima konsekuensi dari kenikmatannya semalam.


Elena begitu kesal, bukan lagi tentang kejadian pagi diatas ranjang. Namun ini tentang ia yang benar-benar susah untuk berjalan, tentu akibat perbuatan suaminya yang nakal.

__ADS_1


"Sayang," panggil Ed perlahan. Namun El hanya diam tak menggubrisnya.


Saat akan kembali bersuara, ponsel miliknya berdering dengan begitu kerasnya. Sebuah nomor tak dikenal terpampang jelas di layar ponsel miliknya.


"Halo."


".... ..."


"Oke, saya segera kesana."


Edwart tak menjelaskan apapun pada istrinya, ia juga tak mengatakan siapa yang pagi-pagi sudah menghubungi dirinya. Ed hanya mencium sekilas bibir istrinya kemudian pergi begitu saja tanpa berpamitan.


"Dasar suami nyebelin," teriaknya.


Setibanya dikantor, El berusaha menutupi rasa nyeri yang dirasakannya saat berjalan. Dengan sangat perlahan juga hati-hati ia berjalan memasuki loby kantornya.


"Habis lahiran ya," ledek Yasmin yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.


"Habis ngapain itu sampai nggak bisa jalan," tanyanya menggoda.


"Udah deh mbak nggak usah godain gue, mending bantuin jalan yuk," pintanya.


Baru juga beberapa langkah keduanya berjalan, sebuah suara menghentikan kembali langkahnya.


"Habis ngelayanin berapa orang loe, sampai nggak bisa jalan gitu."


"Eh diam ya, nggak usah banyak bacot. Ini masih pagi tau."


"Eh Yasmin, jangan-jangan loe ya yang cariin dia pelanggan?"

__ADS_1


"Sembarangan banget ya tuh mulut kalau ngomong! Sini biar gue cabein mulut loe."


"Mbak Yasmin udah ya," tahan Elena saat Yasmin hendak melangkah maju.


"Tapi El-


"Kita biarin aja, nggak penting berurusan sama sampah yang bau tau."


"Ngomong apa loe barusan!"


"Sampah," ulang El pada rekan kantornya.


"Berani sekali loe ya, minta gue gampar nih emang," mengangkat tangannya.


El menahan tangan itu, menghempaskannya hingga membuat rekannya mundur beberapa langkah."


Semua orang melihat pertengkaran dipagi hari itu, sampai sebuah suara mengubah fokus pandang mereka semua.


"Permisi, " seru Renata dengan lantangnya.


Semua orang berbalik menatapnya, termasuk Yasmin juga Elena yang mengenali siapa pemilik suara tersebut.


"Wah datang lagi, pasti mau ngelabrak ya mbak."


"Anda salah, saya justru kesini hendak minta maaf dengan nona Elena."


Semua orang terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Renatan, hanya satu malam mampu merubah sikap seseorang. El hanya menatap penuh selidik wanita dihadapannya itu, mencari celah kalau-kalau ia berniat meipu dirinya.


"Saya minta maaf nona Elena, saya sudah lancang memfitnah hingga hampir melukai anda," membungkukan badannya dihadapan Elena.

__ADS_1


"Mohon sampaikan permintaan maaf saya juga untuk suami nona Elena, saya sungguh menyesal."


"Ha ???? Suami??"


__ADS_2