Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 83


__ADS_3

Malam kian larut, Yasmin baru saja tiba diapartemen saat Jo juga baru saja masuk kedalam apartemennya.


"Dari mana aja," tanya Jo yang tiba-tiba menyalakan lampu ruangannya.


"Astaga kagetnya," spontan Yasmin memegangi dadanya.


"Dari mana aja kamu?"


"Apaan sih, ya dari kerjalah tuan."


"Jam berapa ini, kenapa pulang sampai larut?"


"Tuan ini udah kayak satpam aja nanyanya."


"Kenapa gue jadi perhatian sama dia ya," batin Jo.


"Tuan, setelah saya mandi bisa kita bicara sebentar?"


"Ya."


Hampir satu jam keduanya sama-sama membersihkan diri, kini mereka duduk saling berhadapan dimeja makan dengan jus jeruk ditangan masing-masing.


"Ada apa," tanya Jo.


"Dingin banget tuan ngomongnya. Kulkas aja sampai kalah dinginnya," ucap Yasmin mencebikkan bibirnya.


"Mau ngomong apa mau ngejek saya kamu ini."


"Iya maaf. Saya cuma mau bilang kalau saya akan pindah besok tuan."

__ADS_1


Jo sempat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Yasmin barusan, pikirnya selama ini ia sudah mencukupi semua yang dibutuhkan Yasmin dalam apartemennya. Lalu apa lagi yang kurang hingga wanita ini ingin pindah dari tempatnya.


"Apa yang kurang dari tempat saya?"


Yasmin melambaikan kedua tangannya, mengisyaratkan jika bukan karena hal itu dirinya berniat keluar dari apartemen. "Bukan tuan, bukan karena itu saya pindah."


"Lalu ?"


"Ehm, begini tuan kita kan bukan muhrim jadi nggak baik kalau kita tinggal berdua terlalu lama," cicit Yasmin.


"Benar juga apa katanya, kenapa gue nggak kepikiran ya," batin Jo merutuki kebodohannya.


"Terus mau tinggal dimana, dirumah lama kamu ?"


"Belum tau sih tuan, tapi nanti saya akan cari kontrakan yang lebih murah aja," ucap Yasmin.


"Kamu tenang aja, kamu bisa tinggal di apartemen dekat saya kalau gitu."


"Bodoh, apartemen mana yang gue tawarin sama Yasmin ya," batin lagi Jo dengan kebodohannya.


"Tuan," panggil lagi Yasmin.


"Ada kok, tenang aja. Kalau gitu istirahatlah saya ada urusan yang harus saya selesaikan."


.....


...


Dikamarnya,

__ADS_1


Edwart termenung disamping istrinya yang tengah pulas tertidur diatas ranjangnya, fikirannya kembali terbayang dengan pertemuannya tadi siang dengan rekan kerja barunya.


"Kenapa gue ngerasa orang tadi sekilas mirip dengan Elena ya," gumam Ed memandangi wajah tidur istrinya.


"Tapi dari semua informasi, El udah nggak ada keluarga lagi kan."


"Kalau pemikiran gue bener, tuan Malik adalah kerabat El."


Disaat Ed tengah kebingungan dengan pemikirannya, berbeda dengan Malik yang nampak begitu riang setelah pertemuannya.


"Tuan, perempuan itu sudah sadar," lapor anak buah yang menjaga rumahnya.


Malik bergegas menemui Tania yang ditolongnya, saat kedua mata saling bertemu disitu Malik merasakan detak jantungnya sangat tak karuan. Langkah perlahan namun pasti makin membuat keduanya mendekat, Tania tak bisa membuang pandangannya dari Malik.


Walaupun sudah berumur dari uban yang terlihat dirambutnya, namun tubuh wajah serta penampilan Malik sangatlah trendi. "Syukurlah kamu sudah sadar."


"Terima kasih tuan," lirih Tania yang merasa tubuhnya sangat lemah.


"Saya Malik, siapa kamu?"


"Saya Cindy tuan," kenal Tania dengan nama yang dikarangnya.


"Cindy?"


"Benar tuan."


"Nama yang cantik, secantik wajahnya."


Semua orang dapat melihat ada rasa ketertarikan Malik pada Tania yang ada didepannya kini, namun sayangnya mereka belum mengenal siapa Cindy palsu yang ada didepannya.

__ADS_1


"Dia tertarik sama gue, gue bisa manfaatin dia buat balas dendam terhadap Elena."


__ADS_2