
Jo datang tepat pada waktunya, ia dari dalam mobilnya melihat Yasmin tengah diseret dengan paksa oleh kedua orang tuanya. Ia geram, ia segera berlari dari dalam mobilnya.
"Awww."
Jo menarik tubuh itu kedalam dekapannya, menatap tajam laki-laki yang kini juga menatap murka pada hadirnya saat ini. "Lepaskan anak saya. Dia harus segera pergi."
"Apa hak anda membawa dia pergi tuan."
"Saya ayahnya, saya berhak terhadap anak saya sendiri."
"Ayah angkat, bukan ayah kandung yang harusnya menyayangi putrinya."
"Banyak omong."
Terjadilan tarik menarik antara Jo dengan ayah Yasmin memperebutkan tubuh gadis tersebut. Ibu Yasmin tiba-tiba berteriak meminta tolong pada warga sekitar yang tengah lewat hingga membuat mereka semua bergerombol mengerubungi mereka berdua.
"Ada apa ini."
"Iya ada apa ini, kenapa kalian menarik-narik wanita ini."
"Tolongin saya bapak, ibu. Laki-laki ini hendak membawa kabur anak kami."
Yasmin terkejut mendengar apa yang diucapkan ibunya kepada para warga, ia tak ingin Jo mendapat amukan warga yang salah paham terhadapnya.
"Tunggu jangan salah paham, jangan percaya sama ibu saya."
__ADS_1
Warga yang saat itu hendak mengamankan tubuh Jo dari dirinya terhenti saat mendengar teriakannya. Kini semua menatap Yasmin penuh selidik, termasuk tatapan kedua orang tuanya yang begitu panik.
"Mereka, mereka orang tua angkat saya. Mereka ingin menjual saya," ucap Yasmin yang membuat kedua orang tuanya mendapat tatapan tajam dari warga.
Tak ingin dihajar masa, kedua orang itu pada akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut.
.....
...
Dirumah sakit,
Elena sudah merengek meminta pulang, hingga dokter datang dan mengijinkannya pulang namun dengan syarat jika dirinya akan melakukan medical cek up setiap satu minggu sekali hingga kondisinya dinyatakan benar-benar sehat.
"Kita pulang," girang El yang terus saja menampakkan senyum diwajah cantiknya.
"Tentu saja," melepakan tangan Ed dari wajahnya.
"Apa semuanya sudah siap," seru Maya yang baru saja datang bersama Billy.
Edwart juga Elena menyambut kedatangan kedua orang tuanya tersebut dengan senyum hangatnya. Maya yang sangat menyayangi El memeluk erat tubuh menantunya tersebut.
"Ma, lepasin mah. Nggak boleh lama-lama," ucap Ed yang menjauhkan tubuh Maya dari Elena.
"Astaga Ed itu mama kamu sendir masa iya kamu cemburu."
__ADS_1
"Bukan cemburu pah, cuma istri aku ini nggk boleh terlalu lelah."
"Apa hubungannya lelah sama pelukan mama sih, ngacok deh."
Billy hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan kedua orang tersebut, sedang Elena begitu bahagia saat dirinya merasa begitu disayangi dan sangat dicintai. Rasanya ia begitu terharu hingga air matanya mengalir tanpa disadarinya.
Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup lama kini mereka tiba dirumahnya, namun karena kondisi tubuh El masih sangat lemah ia tertidur sejak mobil mereka baru saja berjalan.
"Ed kamu angkat istri kamu, biar papa yang beresin barang-barangnya."
"Oke pah, aku bawa El masuk dulu."
Dengan hati-hati Ed menggendong tubuh El masuk kedalam rumah, direbahkannya tubuh itu perlahan diatas ranjang empuknya. Dan tak lama Billy masuk membawa semua barang milik El juga dirinya.
"Papa taruh sini ya Ed," meletakkan koper-koper dalam sudut kamarnya.
"Makasih ya pah, nanti aku turun setelah beresin El."
"Oke, papa tunggu dibawah ya."
Kini Ed menatap lekat wajah lelah yang terlihat dengan jelas diwajah istrinya, dibelainya dengan sangat hati-hati wajah itu dengan segenap rasa sayangnya.
"Maafin aku ya El, aku udah banyak banget nyakitin kamu."
"Maaf untuk semua kesalahan yang udah aku lakuin sama kamu, dan aku janji akan menjadi suami terbaik untuk kamu juga keluarga kecil kita."
__ADS_1
Dengan penuh sayang Ed mengecup kening El cukup lama, ciuman itu perlahan mengecup seluruh bagian wajah istrinya.
"Aku janji sayang, aku bakal jauhin kamu dari merek yang berniat jahat. Termasuk dia," menatap tajam tembok yang ada didepannya.