
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Pagi-pagi sekali Edwart sudah meninggalkan rumah, namun sebelum itu ia sudah berpamitan dengan Darma dan mengatakan apa yang sedang terjadi. Edwart juga meminta Darma untuk merahasiakan ini dari siapapun.
Dan disinilah dirinya sekarang. Dibandara bersama dengan Jo, tak hanya Jo tapi ada juga Yasmin yang ikut serta dalam penerbangan saat ini.
"Apa yang bisa saya bantu untuk tuan," tanya Yasmin.
"Ikut kami ke London, kamu bantu saya mengalihkan perhatian seseorang disana," pintanya.
"Baik tuan."
"Jo akan melindungi keselamatan kamu disana, kamu akan ada dalam pengawasan pengawalan kami."
"Saya percaya dengan tuan muda."
"Kita berangkat sekarang."
Jo dengan sangat perhatiannya memastikan kenyamanan Yasmin didalam pesawat pribadi tuannya tersebut. Jo selalu menanyakan keadaan Yasmin selama perjalanannya, ia bahkan memastikan jika wanita itu tak kekurangan makanan selama diperjalanan.
Hari mulai gelap saat mereka tiba di negara yang ditujunya, Edwart segera membawa mereka menuju hotel yang sudah dipesannya. Kamar Yasmin tepat bersebelahan dengan kamar yang digunakan Jo, sedang kamar Edwart berada tepat didepan kamar Jo.
"Istirahatlah, besok pagi-pagi sekali kita harus bertindak."
Saat Yasmin akan melangkah masuk, Jo menahan lenganya.
"Ada apa tuan Jo?"
__ADS_1
"Ambilah ini," mengajukan sebuah flash disk kepada Yasmin.
"Apa ini," menatap flash disk yang kini berada ditangannya.
"Pelajari itu malam ini, itu akan membantumu mengatasi kelicikan Tania nantinya."
"Terima kasih," mengangkat benda tersebut sebelum hilang dibalik pintunya.
"Saya harap kamu akan baik-baik saja," batinnya sedikit cemas dengan keikut sertaan Yasmin kali ini.
Dirumah sakit, Matius sudah didipindahkan keruang rawatnya. Namun karena kondisinya yang masih belum stabil ia harus mendapat perhatian khusus dari para dokter disana. Malik belum beranjak meninggalkan Matius sedikitpun, ia masih dengan setia menemani asistennya tersebut.
"Silahkan tuan beristirahat, biar kami yang menjaga tuan Matius menggantikan anda."
"Tidak, sebaiknya kalian semua berjaga didepan, jangan sampai ada yang mencelakai Matiusku lagi," ucapnya dengan tatapan kosong menatap Matius diranjangnya.
Hingga fajar mulai menunjukkan celahnya, Malik masih terjaga menatap Matius yang masih terbujur kaku ditempatnya.
"Siapa kalian," tanya anak buah Malik yang membuat Malik mengerutkan dahinya.
"Siapa," seru Malik ditempatnya.
"Biarkan mereka masuk."
Edwart masuk dengan Jo dibelakangnya, kedunya terkejut dengan kondisi Matius saat ini. Malik menatap sekilas keduanya, lalu kembali menatap Matiusnya. Edwart mendekati Matius, mengulurkan tangannya menyentuh tangan Matius yang sangat pucat tersebut.
"Pak Matius, bangunlah. Kita bahkan belum juga melakukan rencana kita bersama," bisik Edwart.
"Tuan muda, Yasmin sudah masuk," bisik Jo.
"Om, kita pindahkan pak Matius sekarang juga ke Jakarta."
.....
...
Yasmin sudah ada didalam rumah yang kini ditempati Tania itu, bahkan semua pelayan memberikan hormatnya pada Yasmin. Mereka tahu jika Yasmin adalah orang dari tuannya yang ditugaskan untuk membereskan Tania.
"Dimana dia," tanya Yasmin dengan tegasnya.
__ADS_1
"Masih tidur ditempatnya nona."
"Bawa saya kesana, kalian berdua bawakan saya dua ember air penuh."
Yasmin datang kepada Tania dengan dua ember ditangan pengawal. Tania sangat pulas dalam tidurnya, bahkan saking pulasnya ia tak tahu jika ada yang memasuki kamarnya.
"Siramkan air itu padanya."
Byurr..
"Akhhh, akhhh," teriak Tania yang terkejut.
"Brengsek kalian berdua," teriaknya saat melihat dua orang laki-laki didepannya.
"Anda yang brengsek, sudah melukai orang masih bisa tidur dengan nyenyaknya," seru Yasmin dengan geramnya.
Dua orang itu menyingkir, memperlihatkan keberadaan Yasmin dibalik tubuh besarnya. Tania bangkit dari ranjangnya, ia membersihkan wajahnya dari sisa air tadi. Berdiri tegak menatp lantang Yasmin didepannya.
Plakk..
"Berani sekali memukulku," bentak Tania.
"Gunakan matamu untuk yang lebih berguna."
"Kau-
"Seret dia, bawa dia kembali ke tempat tuan Matius tertembak."
Tania diseret dan dilempar ke lantai yang terdapat darah Matius yang sudah mengering. Tangannya terkepal kuat menatap tajam Yasmin yang kini berdiri didepannya.
"Bersihkan lantai ini sampai bersih dari noda darah."
"Siapa loe berani nyuruh gue, suruh pelayan jangan gue!"
"Sepertinya harus menggunakan cara tuan Jo semalam ini," batinnya
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••
Hai semua .. jaga selalu kesehatan kalian ya,🌹
__ADS_1