Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 102


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Edwart mengepalkan tangannya mendengar apa yang dilaporkan Jo barusan, ia tak menyangka ternyata Tania masih memiliki kaki tangan yang berada di Jakarta.


"Ternyata kita terlalu meremehkan dia Jo, wanita ini sangat licik sekali," geram Edwart.


"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan," tanya Jo.


"Aku bakal pastiin om Malik segera pindah ke Jakarta dan membongkar semua kebusukan dia disini."


"Tapi sebelum itu kalian harus memperketat penjagaan terhadap Elena, saya nggak mau sesuatu seperti ini terulang."


"Tentu saja pak Matius, tapi saya butuh bantuan pak Matius saat ini," ucap Ed.


"Apapun, selama saya bisa saya pasti akan bantu."


"Bantu saya juga Jo mencari rumah untuk om Malik, karena saya nggak bisa ninggalin istri saya."


"Tentu saja, besok kita akan mulai mencari. Gimana asissten Jo," tanya Matius.


"Tentu saja pak Matius."

__ADS_1


Keesokan harinya, ada sekitar 20 orang penjaga datang kerumah Edwart dengan pakaian serba hitamnya. Elena sempat terkejut dengan dengan banyaknya penjaga rumah yang baru suaminya tempatkan, tapi ia tahu dengan jelas alasan dibaliknya.


"Sayang," panggil El pada suaminya yang sedang bersiap dengan sepatunya.


"Ada apa sayang, sini," ucapnya tanpa menatap istrinya.


"Penjaganya nggak kurang banyak ya itu," sindir El, namun Ed malah menganggap serius ucapan istrinya.


"Aku bakal panggil yang lainnya ya yank biar kamu lebih tenang dirumah," cemasnya menatap sang istri.


Elena hanya bisa menepuk dahinya, ia tak menyangka laki-laki yang dulu bengis kini begitu bodoh didepannya.


"Aku cuma bercanda sayang, kita sarapan bareng yuk," ajaknya.


"Tunggu dulu," menahan tangan istrinya.


Edwart memegangi kedua sisi pinggang istrinya, menatap tepat perut istrinya. "Anaka papa baik-baik ya didalam," ucapnya menciumi perut Elena.


"Bagaimana menurut tuan?"


"Pemikiran yang jenius Matius, saya sepaham dengan itu. Tapi kita belum memiliki rumah kita sendiri," sanggahnya.


"Tuan tenang saja, hari ini saya juga asissten Jo akan mencari rumah yang tidak jauh lokasinya dari rumah nona El juga tuan muda Ed."


"Saya berhutang banyak dengan kamu Matius."


"Tentu saja tidak, ini sudah kewajiban saya terhadap tuan."


Malik begitu bersyukur ada Matius disisinya yang selalu menolong dan melindungi dirinya, tak hanya itu saja bahkan Matius sudah seperti kakak bagi dirinya yang selalu menemaninya dalam segala kondisinya.


"Sebaiknya kita turun sekarang tuan, sepertinya semuanya sudah menunggu," ajak Matius.


"Mari Matius."

__ADS_1


Belum juga tiba dimeja makan, namun Matius sudah mendengar suara keribuatan dari meja makan.


"Nggak mau, aku mau makan buah nangka yank," rengek El.


"Yank ini masih pagi dan kamu belum makan apa-apa! Aku nggak mau kamu sakit perut nantinya."


"Ada apa ini," bisiknya tepat disamping Billy juga Maya.


"Biasa, drama romanan picisan," sahut Maya.


"Aku mau makan."


"Nggak boleh."


"Boleh."


"Nggak ya yank, kamu ini kok ngeyel sekali sih," kesal Edwart.


"Kasih lah Ed dikit, istri kamu lagi ngidam itu," bujuk Maya.


"Nggak mah, dia aja nggak mau makan nasinya. Mana bisa aku biarin dia makan nangkanya."


"Sayang, " tangisnya yang hanya bisa membuat Malik menggaruk tengkuknya.


Dhorrrr ...


Suara ledakan itu sangat kencang hingga mengejutkan mereka semua.


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••


*maaf ya membuat kalian semua menunggu lama untuk updatenya .. cuaca sedang tidak bagus dan itu berpengaruh pada kondisi tubuh, tapi walaupun nggak banyak aku usahain supaya bisa update ..


...Terima kasih semuanya*...

__ADS_1


__ADS_2