Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Chapter 3


__ADS_3

CHAPTER 2


Hawa pagi hari ini masih terlalu dingin meski waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Mikasa enggan terbangun, bergelung dalam selimut nadanya masih kurang nyaman setelah apa yang terjadi kemarin lusa. Meski, begitu seharusnya ia menyadari jika ada dua balita manis tengah menungguinya dengan bertopang dagu dengan salah satu dari mereka tengah berwajah kusut menanggung kesal.


“Kapan Mommy bangun?” tanya salah seorang dari mereka, si Bungsu Jaladri tidak sabar. Melirik kakak kembarnya yang lahir tujuh menit lebih darinya.


“Sebentar lagi, Ok!” jawab si kembar Sulung Jaladra sambil menepuk kepala adiknya agar sedikit bersabar.


Jaladri merengut tidak senang tapi tetap mengangguk kembali dan memerhatikan Ibu mereka yang masih dalam dunia mimpi. Waktu berjalan terlalu lambat, Jaladri mulai tidak sabaran padahal baru beberapa detik lalu dia mengangguk setuju untuk menunggu beberapa saat lagi. “Aku lapar, Kak. Tidak tahan. Ayo, bangunkan Mommy?”


Si Sulung Jaladra yang baik hati dan penuh perhatian bingung, ia tidak tega membangunkan Mommynya tapi, juga tidak tahan melihat adik kembarnya kelaparan. Di sini tidak ada orang dewasa selain Mommynya yang bisa memasak, sebelumnya mereka sudah ke dapur dan melihat\-lihat tapi, tidak ada makanan yang bisa di makan semua mentah. Tidak Roti atau sereal bahkan, kue dan snack lainnya.


“Mommy Bangun!” Jaladri tidak tahan, ia menggoyang tubuh Mikasa tidak sabar.” Aku lapar, Mom.”


Mikasa melenguh keras, semakin mengeratkan selimutnya. “Mommy, masih ngantuk. Pergi sana!”


“Mommy!”


“Ahh, Adra, Adri!” Mikasa merengek tidak tahan diganggu.


“Mom, ini sudah siang. Aku dan Adri kelaparan.” Lapor Jaladra jelas, menarik selimut yang menutupi wajah Ibunya. “Bangun, Mom… atau kami laporkan pada Nenek, ya? Mommy gak becus mengurus kita.”


“Y\-yah!” salak Mikasa langsung setengah duduk menatap tajam kedua putranya. “Kalian, kalian…” Tunjuknya, lalu kehabisan kata\-kata. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika wanita tua, mantan mertuanya yang galak itu tahu jika dia menelanarkan cucunya bisa habis dia dipukul rotan peninggalan turun temurun mereka itu.


Jaladra tersenyum lebar, senang karena akhirnya Ibunya bangun dan taktiknya berhasil. “Mommy, jangan marah. Kami tidak mungkin bicara seperti itu, kok. He ..he…,” ucapnya menghibur ketika melihat wajah cemas Ibunya. Mereka adalah anak\-anak pintar dan sangat tahu bagaimana hubungan Ibu dan Nenek mereka yang tidak harmonis.


Mikasa gemas, mencubit pipi anak sulungnya yang nakal. “Tapi awas saja kalian bicara seperti itu lagi.”

__ADS_1


“Janji,” sahut Jaladra mengangkat jari kelingkingnya.


“Baiklah, Mommy maafkan tapi, lain kali tidak boleh,” ujarnya sambil mengaitkan jari kelingking mereka. Cup … cup …lanjutnya, mencium pipi si Kembar. “Ok, Mommy cuci muka dulu, baru nanti buat sarapan. Kalian menonton tv saja dulu.”


“Tapi, jangan lama. Adri sudah sangat lapar.”


“Baik, baik. Tuan Muda ,.. Mommy tidak akan lama.”


**


Mikasa tidak menghabiskan waktu sampai sepuluh menit di dalam kamar mandi, cukup cuci muka dan menggosok gigi segera setelahnya ia cepat memasuki dapur. Mengikat rambut pirangnya yang panjang, berkuncir kuda. Kemudian segera menyingsingkan lengan bajunya bersiap untuk berperang di dapurnya yang kecil dan minimalis ini. Pertama kali yang dia ambil adalah penanak nasi, ia hanya perlu menghangatkan nasi sisa kemarin yang tersisa banyak. masih sangat layak untuk dimakan jika, dibuangpun hanya menghasilkan ke\-mubaziran.


“Masak apa, ya?” tanyanya sambil menoleh melihat kedua buah hatinya yang sedang menonton televisi. Bersandar malas di sofa satu\-satunya yang ada di rumah ini. Rumah Mikasa adalah rumah kontrakan yang hanya memilki satu ruang tidur, kamar mandi, dapur juga sedikit ruang bersantai yang serbaguna. Karena di sana tempatnya menonton, menerima tamu dan tempat di mana mereka juga makan. Rumah sangat sederhana tidak terlalu luas tapi, cukup untuk ditinggali ketiganya.


Mikasa membuka kulkas dan melihat\-lihat. Bahan makanan yang tersedia sepertinya cukup untuk membuat sup tapi, si Kembar pastinya tidak cukup sabar untuk menunggu lagi. Akhirnya, Mikasa memilih menumis sayuran. Brokoli, wortel ditambah potongan sosis agar si Kembar masih bersedia memakan sayuran. Tidak cukup hanya itu Mikasa pun membuat omlete sebagai tambahan juga, tentunya susu untuk menambah gizi di masa pertubuhan mereka. “Masakan akan segera siap!”


Mikasa berjalan santai membawa semangkuk tumis sayurnya juga sepiring nasi yang sudah seperti gunung. Entah untuk mengirit sabun atau sudah menjadi kebiasan mereka. Mikasa hanya menyiapkan satu piring untuk berbagi makanan dengan si Kembar, saling bergantian menyuap. Yah, terkecuali di saat\-saat salah satu dari mereka sakit, ia harus mencegahnya sebelum mereka semua tertular. Itu akan sangat merepotkan. “Sudah siap. Ayo, kita makan!”


“Cepat, cepat Adri sudah lapaaar.” Bocah itu segera bangkit tidak sabaran saat melihat Ibunya datang ke depannya.


“Sabar sedikit, Mommy ambil Omeletnya dulu. Tunggu!”


“Biar Jala yang ambilkan, Mommy.”


“Anak baik, Terimakasih, Sayang,” ujarnya sambil menepuk kepala putra sulung kembarnya.


“Mom, cepat Adri lapar.”

__ADS_1


Mikasa menggeleng pasrah pada si Bungsu kembar. Bocah ini sangat rusuh jika menyangkut makanan, tidak bisa tahan lapar atau mulutnya akan terus mengoceh tidak sabaran, Meski, begitu Mikasa harus sangat bersyukur kedua anaknya bukan pemilih makanan. Mereka makan apa yang bisa dia buat, tidak merepotkan karena jujur saja Mikasa tidak jago soal memasak bakatnya hanya bisa disebut pas\-pasan.


~*~*~


“Hari ini kita mau ke mana?” tanya Mikasa setelah dia selesai memandikan kedua buah hatinya yang kini sudah wangi dan juga tampan menggemaskan.


"Ke mana saja, Mom. Yang penting Adri bisa dapat es krim,” jawab Jaladri di mana pikirannya hanya seputar makanan.


“Aishh, jadi hanya itu, huh? Di rumah saja sudah dapat es krim.” Mikasa menjadi gemas sendiri mencium pipi tembam Adri sampai berulangkali, tidak jauh berbeda ia juga melakukannya pada si Sulung Jaladra. Memeluk keduanya erat, hartanya yang paling berharga, tidak ada kebahagian yang bisa menggantikan mereka. Sebuah keputusan yang tepat sampai sekarang.


Kenangan itu terbersit kembali, perasaan kini dan masa lalu bercampur teringat jika kebahagiannya saat ini hampir saja dilepaskannya hanya karena alasan usia yang masih sangat muda juga … tanpa statusnya sebagai seorang istri. Gairah masa muda serta cinta yang menggebu\-gebulah yang menjadi penyebab Mikasa dan Deswan, ayah si Kembar harus mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka perbuat.


Delapan belas tahun usia saat Mikasa dan Deswan saat itu, mereka baru saja lulus dari Sekolah Menengah. Deswan yang melanjutkan ke perguruan tehknik dan Mikasa, memilih untuk mencari pekerjaan. Meski, ada jarak serta waktu yang tidak seintens dulu, keduanya tetap berhubungan dan saling mencintai sampai akhrnya keduanya lupa batasan dan menghasilkan benih di tubuh Mikasa.


Belum saja Deswan memiliki gelar sarjana tapi, dengan cepat ia sudah akan menerima gelar ayah muda. Pria muda itu didik terlalu ‘luar biasa’ oleh kedua orangtuanya satu sisi bisa menjadi bajingan tapi, sisi lain dia bisa menjadi pria penuh tanggungjawab. Sama sekali pemuda itu tidak keberatan dengan kehamilan kekasihnya, Mikasa. Ia dengan lantang dan tanpa sungkan segera meminta restu kedua orangtuanya karena hanya dia, yang memilki orangtua. Mikasa adalah anak yatim piatu jelas tanpa orangtua juga sanak keluarga.


Jauh berbeda dari tanggapan Deswan. Mikasa sakit kepala, ia sulit menerimanya takut dengan apa yang akan dia hadapi di masa depan. Bertahun\-tahun ia hidup dalam kesendirian juga kemiskinan, berjuang hanya untuk bisa makan,sekolah dan tentu bermimpi hanya untuk meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih baik. Tetapi, dengan kehamilannya ini ia mungkin harus banyak bergantung pada kekasihnya juga keluarganya.


Menikah menjadi hal mudah tidak lagi memedulikan apa yang dikatakan orang meski, kedua orang tua Deswan kecewa. Semua sudah terjadi dan hasilnya sudah berbuah. Deswan dan Mikasa menjalani pernikahan usia muda mereka … kondisi kehamilan Mikasa menjadi awal ujian keduanya. Kehamilan di usia muda tidak mudah dihadapi. Beberapa bulan lamanya Mikasa harus mengalami morning sick yang cukup menyiksanya ditambah emosi yang turun naik juga masa mengidamnya yang tidak kenal lelah. Perlahan\-lahan kondisi tersebut membuat hubungan keduanya tidak seindah bayangan, rapuh dan goyah hanya karena pertengkaran sepele.


Meski, begitu pemuda bernama Deswan ini masihlah tahu dan mengerti akan tanggung jawabnya dia pun masih mencintai Mikasa dan kedua anak kembar mereka. Kehidupan keluarga mereka menjadi lebih baik dan harmonis setelah lahirnya si Kembar tetapi, Tuhan terlalu mencintai Deswan. Terjadi sebuah kecelakaan motor. Deswan pemuda yang saat itu masihlah berumur dua puluh satu tahun harus rela meninggalkan istri, kedua anak kembarnya sekaligus kedua orang tuanya



“Mom?!”


__ADS_1


Mikasa terbangun dari bayangan masa lalunya. Ia tersenyum, menatap kedua anak kembar menciumi mereka lagi. "Maaf, barusan Mommy melamun. Sekarang, Ayo pergi!" Lanjutnya penuh semangat, mencoba menipis kisah masa lalu dan rasa sakitnya. Sekarang semua sudah berlalu tidak bisa diulang atau diperbaiki. Melainkan hanya satu terus melanjutkan hidup dengan lebih baik dari sebelumnya.


__ADS_2