
Jo dengan setia memijat tengkuk tuan mudanya hingga rasa mualnya hilang dan berganti dengan rasa lelah. "Sudah tuan?"
"Jo, bantu saya duduk disofa kamu dulu," pinta lemah Ed.
Sangatlah hati-hati saat Jo memapah tubuh kekar tuan mudanya, dan sangat hati-hati juga saat ia membantu tuan mudanya duduk diatas sofa ruangannya.
"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter?"
"Nggak, nggak perlu Jo. Tadi apa yang ingin kamu sampaikan sama saya."
Jo berlari kearah mejanya, mengambil semua file juga laptop miliknya kemudian kembali kesofa tempat tuan mudanya. Sambil memejamkan matanya dan bersandar, Ed meminta Jo menjelaskan semuanya.
"Tuan meminta saya menyelidiki soal tuan Malik bulan lalu."
"Terus apa yang kamu temukan."
"Saya tanpa sengaja menemukan jika tuan Malik ini menetap di London semenjak keluarganya semua meninggal."
"Lalu?"
"Dan sebelum meninggalkan kotanya, tuan Malik sempat mencari keponakannya yang selalu dipanggilnya princess."
"Princess," ulang Ed yang kini membuka matanya.
"Benar tuan muda, dan yang lebih mengejutkan adalah tuan Malik kini juga tengan mencari keponakannya tersebut."
__ADS_1
"Lalu, " tanya Ed dengan wajah penasarannya menatap lekat Jo.
"Tuan Malik saat ini juga tengah menyelidiki tuan muda."
Ed terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Jo tersebut, ia tak menyangka jika tuan Malik juga tengah menyelidikinya saat ini.
Ed bergelut dengan fikirannya, tak menyangka jika mungkin tuan Malik juga mempunyai kecurigaan yang sama dengan dirinya.
Sambil menahan gejolak diperutnya yang terus meronta-ronta, Ed menatap dalam Jo dengan perintahnya.
"Jo, aturkan jadwal pertemuan saya dengan tuan Malik, pastikan dalam waktu dekat kami bisa bertemu."
"Baik tuan muda."
"Tuan," teriak Jo.
"Hoek, hoek ."
Jo terus memijat tengkuk Edward, ia tak tega melihat wajah pucat tuan mudanya kini. "Apa nggak sebaiknya kita kedokter saja tuan?"
Ed menegakkan tubuhnya, menarik nafas dalam-dalam setelah mengeluarkan semua isi perutnya yang kosong. "Nggak usah Jo, tapi kamu tolong antar saya pulang saja ya."
........
Malik tengah fokus dengan semua berkas ditangannya saat Tania masuk dengan membawa sebuah kopi ditanganya. Dengan langkah anggun yang dibuatnya, Tania masuk dan mencoba menggoda Malik.
__ADS_1
"Tuan, saya bawakan kopi."
Malik mengangkat wajahnya, menatap Cindynya kini berdiri dihadapannya. " Kenapa repot-repot segala sih."
Malik mengambil gelas yang ada ditangan Tania, dan ia melihat tangan Tania penuh dengan luka merah.
"Kenapa dengan tangan kamu ini," tanyanya sangat khawatir.
"Yes, rencana gue berhasil," batin Tania kegirangan.
Tania sengaja melukai tangannya dengan menyiramkan air panas tepat mengenai tangannya. Ia sengaja sebab ingin menarik simpati dari Malik yang menyukainya.
"Udah diobatin belum ini, kamu ini kenapa nggak hati-hati sih," ucap Malik sambil memeriksa tangan Tania.
Tania hanya tersipu malu saat mendapat perhartian dari Malik, hatinya berbunga-bunga diperlakukan istimewa.
Dikamarnya,
Kini Ed tengah terbaring lemah setelah seharian diserang rasa mualnya, namun menjelang sore hari ia merasa jika tubuhnya sudah baik-baik saja.
"Gila ini badan kayaknya," gumamnay didepan cermin setelah membersihkan badannya.
Hanya menggunakan handuk untuk menutupi senjatanya, Ed memeriksa semua sisi tubuhnya yang dirasa aneh menurutnya.
"Kenapa ya ini?"
__ADS_1