Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 79


__ADS_3

Edwart juga Jo segera mendatangi markas setelah mendapat telp dari anak buahnya. Edwart sendiri terpaksa meninggalkan Elena sendiri dirumah, ia benar-benar harus kemarkas malam ini juga.


"Tuan muda," sapa Jo saat melihat Edwart datang tak lama setelah dirinya tiba.


"Jo, bagaimana ini bisa terjadi," tanya Ed sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam markas.


"Tuan muda, bos," sapa ketua.


"Mana tawanan kita," tanya Ed menahann emosinya.


"Maafkan saya tuan."


Ed membanting semua barang yang ada disekitarnya, ia sungguh marah dengan keteledoran semua anka buahnya hingga Tania bisa lepas dari jeratannya.


"Apa yang kalian semua lakukan sampai dia bisa kabur!!"


Semua hanya menundukkan kepalanya, tak ada satupun yang berani menatap tuannya yang sedang mengamuk tersebut. Tak seorangpun bahkan Jo juga tak berani menengadahkan kepalanya dalam kondisi tuannya saat ini.


"Nggak becus banget jagain satu orang! Cuma satu orang dan kalian gagal!"


"Jawab! Kenapa kalian semua malah diam aja."


"Maafkan kami semua tuan, kami salah."


Edwart menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba mengontrol emosinya agar tak meledak ledak. Tiba-tiba ponselnya berdering, Elena mencoba menghubunginya.


"Kalian semua diam, istri saya menelfon."


"Halo sayang."


"Dimana?"

__ADS_1


"Lagi cariin kamu makan ini, ada apa? Apa ada yang sakit?"


"Nggak, cuma kangen aja."


Wajah Ed yang tadinya memerah murka kini berubah merona malu, dan semua melihat perubahan dari tuannya tersebut.


"Nona El memang jagoan," batin Jo mengakui kehebatan nonanya dalam mengontrol suaminya.


"Yaudah ini aku pulang ya, diam dikamar dan jangan kemana-mana oke?"


"Yaudah cepetan ya."


Edwart memutuskan sambungan telponnya, ia kini menatap sangat semua orang yang ada dihadapannya.


"Saya mau kalian terus cari wanita itu, pastikan juga jangan sampai dia berani menyakiti istri saya."


"Baik tuan," serempaknya.


.........


"Dimana dokternya."


"Masih dalam perjalanan tuan besar."


"Suruh dia segera, kasian wanita ini nampak sekali kesakitan."


"Apa tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja tuan?"


"Tidak usah, biarkan saja seperti ini."


Semua kini menundukkan kepalanya mematuhi ucapan tuan besarnya. Dan tak lama dokter datang dan segera mengobati Tania yang tengah terluka.

__ADS_1


"Apa yang sedang dialaminya dok?"


"Begini tuan, saya merasa kalau gadis ini habis mendapat siksaan."


"Siksaan dok?"


"Benar tuan, lukanya cukup serius. Dan saya perlu waktu untuk memulihkan kondisinya seperti semula."


"Apapun itu dok, pastikan dia baik-baik saja."


"Pasti tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Selepas kepergian dokter, dirinya terus saja menatap wajah pucat pasi yang tengah terlelap dengan damainya diatas ranjangnya.


Perlahan kaki itu mulai melangkah, mendekati ranjang dimana tubuh Tania terbaring lemah tak berdaya.


"Siapa kamu ini, siapa juga yang sudah dengan kejam menyiksam kamu?"


Tangan itu terulur, menyikap anak rambut yang menghalangi wajah cantik milik Tania. Sungguh indah cipataan Tuhan yang ada dihadapannya, semua yang ada pada dirinya begitu nampak indah.


"Cantik."


"Sangat cantik. Membuat saya terpesona dibuatnya."


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya, seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap masuk kedalam kamar dan memberi hormat pada tuannya.


"Saya sudah memerintahkan beberapa anak buah untuk mencari informasi tentang wanita ini tuan."


"Lalu?"


"Masih belum mendapatkan info apapun tuan."

__ADS_1


"Oke, kalian teruslah berusaha. Biarkan saya yang menjaganya."


"Baik, tuan Wiyoko." tersenyum sinis sekilas sebelum keluar dari kamar.


__ADS_2