
Dikamar lainnya, Matius tengah sangat serius melihat layar laptopnya. Entah apa yang kini dilihatnya, namun terlihat dengan sangat jelas jika ia sedang menahan emosinya.
"Benar-benar perempuan tidak tahu malu, berani sekali menyiksa pelayan disaat tuan tidak ada," geramnya mengepalkan kedua tangannya.
Yah, saat ini Matius tengah melihat rekaman cctv yang ada dirumah Malik. Ia memang menaruh rasa tak suka juga curiga dengan Tania, itu sebabnya ia meminta salah seorang penjaga untuk terus memantau dan melapor padanya.
Dan malam ini saat matanya akan terpejam, sebuah pesan menyita perhatiannya. Pesan yang berisikan tentang kejahatan Tania dirumah tuannya. Rasa-rasanya Matius ingin sekali membuang jauh wanita itu dari sisi tuannya.
Terlalu emosi hingga membuatnya begitu kehausan, Matius membawa gelas kosongnya dan turun kelantai bawah. Samar-samar ia mendengar suara tuannya tengah tertawa dengan seseorang.
"Selamat malam tuan, tuan Edwart,"sapa Matius.
"Malam pak Matius."
"Oh Matius, ada apa?"
"Saya hanya haus tuan, ingin mengambil air minum saja."
"Oh, kalau begitu kamu temani Ed makan ya. Rasanya mata saya sudah tidak mampu menahan angin malam," candanya.
"Baiklah tuan."
Setelah berpamitan dengan Ed, Malik segera kembali kekamarnya. Tinggalah Matius dengan Edwart yang tengah menyantap makanannya. "Ada apa om," tanya Ed.
"Tidak ada tuan Ed."
"Sepertinya om tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat."
"Apakah terlihat dengan jelas?"
"Sangat jelas, rasanya kedua alis om tengah menahan beban batu diatasnya," canda Ed yang ingin mencairkan suasana.
__ADS_1
"Tuan Ed, " ragu Matius.
"Ehm, ada apa ?"
"Ehm, apakah tadi tuan sempat bercerita sesuatu pada tuan Ed?"
"Oh, hanya menceritakan tentang calon istrinya saja."
Raut wajah Matius berubah langsung mendengar hal tersebut, rasanya ingin sekali marah namun harus ditahannya. Dan Edwart melihat perubahan itu, ia segera menyudahi makannya dan menatap serius Matius didepannya.
"Ada apa om?"
"Sebenarnya saya tidak suka dengan pilihan tuan saya," sendunya.
"Kenapa om, apa ada yang salah dengan dia?"
"Lebih dari itu tuan, wanita ini asal usulnya sangat tidak jelas. Ketika ditanya ia mengaku tak memiliki lagi keluarga, tapi saya merasa jika itu hanya sandiwara."
"Belum, saya ragu. Saya hanya takut menyakiti tuan Malik saja," menundukkan kepalanya sedih.
"Apa separah itu?"
"Wanita ini sangatlah licik, saya merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan."
"Maksud om Matius gimana ya," tanya Ed penasaran.
"Perempuan ini terlihat sedang merencanakan sesuatu, tapi saya merasa ini adalah buruk."
"Dimana kalian bertemu?"
"Dijalan-
__ADS_1
"Sayang," panggil Elena yang tiba-tiba muncul.
"Nona muda," sapa Matius.
"Om Matius belum tidur juga," tanya El.
.....
...
Esok hari, Sabrina sudah siap dengan baju kantornya. Hari ini ia berencana ikut dengan Edwart ke kantor, sebab ia sangatlah bosan berada dirumah.
"Mau kemana?"
"Mau ikut suami aku kerja."
"Nggak ada, dirumah aja."
"Ikut!"
"Sayang, hari ini aku itu mau ke proyek. Disana bahaya, jadi aku nggak mau kamu ikut kesana," jelasnya.
"Tapi aku bosen sayang," ucapnya dengan wajah sedih melasnya.
"Lain kali gimana?"
"Nggak mau," usap Elena yang berlari keluar dari dalam kamar.
Semenjak hamil memang mood Elena selalu berubah-ubah, mudah sekali menangis lalu tertawa. Selalu membuat Ed merasa skait kepala dengan tingkah istrinya.
"Kenapa wanita hamil membingungkan," memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1