
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Edwart yang kelelahan tak sadar jika dirinya sudah tidur seharian, dan begitu ia membuka mata langit sudah berganti pemiliknya. Ia yang terkejut buru-buru membersihkan diri dan mengenakan baju milik Jo untuk berganti.
"Sial, gue tidur seharian. Lapar lagi," gerutunya.
Ed kembali terduduk ketika teringat dengan istrinya. Sudah dua hari ia kehilangan istri lucunya, tak ada satupun berita yang berhasil diperolehnya dan itu membawa penyesalan tersendiri untuknya.
"Apa kamu sudah makan sayang, kamu tinggal dimana," gusarnya.
Edwart benar-benar mengkhawatirkan istrinya itu, sedang orang yang terus dikhawatirkan itu kini begitu santainya menikmati makan malamnya sambil melihat kartun favoritnya.
"Hahah, lucu sekali sih. Kenapa spongebob itu menggemaskan, jadi pengen kesana deh," serunya.
"Wah, lobsternya gagah sekali itu," ucapnya ketika melihat tokoh kartu lery dispongebob.
"Kalau tuan suami telanjang dada terus pakai ekor udang gitu pasti seksi banget deh," membayangkan wajah suaminya.
Elena tak menyadari jika apa yang dipikirkannya itu begitu mempengaruhi emosinya, dan benar saja. Kini ia menangis begitu pilunya, ia sangat merindukan suaminya merindukan setiap inci tubuh suaminya.
"Huaaa, kangen tuan suami. Tapi tuan suami nggak rindu aku," tangisnya.
__ADS_1
Elena memutuskan untuk mengaktifkan ponselnya dan langsung menghubungi Maya. Gadis itu benar-benar merindukan suaminya, ingin rasanya ia pergi dan menyusul kemana suaminya pergi.
Maya yang masih tak mendapat kabar apapun dari kedua anaknya begitu cemas, ia tak begitu khawatir dengan Edwart tapi ia benar-benar cemas dengan Elena yang pergi dengan keadaan hamil seorang diri.
Namun matanya berkaca-kaca saat melihat seseorang menghubunginya.
"Angkat ma," seru Billy yang juga bahagia.
"Mamaaa," tangis pecah.
"Nak ada apa, kamu kenapa?"
"Mama, aku kangen kak Edwart," adunya.
Maya memegangi dadanya, ia mengira telah terjadi sesuatu dengan menantunya itu. Tapi ia bisa bernafas lega karena tangisan itu hanya tangisan kerinduan seorang istri.
"Sayang dengerin mama ya, suami kamu udah pulang. Dia sedang nyari kamu juga ini."
"Beneran ma, terus dimana suami aku?"
"Aku ada di-
Elena menjeda ucapannya, rasa kesalnya muncul dengan begitu tiba-tiba. Rasa kesalnya terhadap Edwart begitu mengganggunya. Ia pun memutuskan untuk tidak memberi tahu Maya dimana ia berada.
"Aku baik-baik aja kok ma, mama sama papa jangan khawatir ya."
"Tapi nak-
"Ma aku ngantuk, aku matiin dulu ya?"
"Baiklah, kamu hati-hati dan terus kasih kabar mama ya nak."
......
__ADS_1
...
Jo menemani Yasmin dan terus menjaganya, luka itu menyebabkan demam disepanjang malam Yasmin. Jo setia menemani dan terus mengompres untuk meredakan demam tersebut, dan pagi ini demam sudah turun juga wajah Yasmin tak sepucat sebelumnya.
"Syukurlah demamnya udah turun," gumam Jo saat mengecek kening Yasmin.
Namun begitu pagi ia menerima kabar yang begitu mengejutkan, salah satu pengawal Malik datang dan mengabarkan pesan dari Malik.
"Apa yang kamu katakan?"
"Benar tuan, tuan Malik mengatakan jika ia memaafkan nona Cindy. Tuan juga berpesan untuk mengantar nona Cindy ke Jakarta."
"Sialan, ular ini benar-benar sudah meracuni tuan Malik."
"Apa yang harus saya katakan kepada tuan Malik ketika kembali menghubungi tuan?"
"Berikan padaku jika tuanmu kembali menghubungimu."
"Baik, kalau gitu saya permisi.
Jo mengirimkan sebuah email kepada Edwart, ia berharap Ed segera membalasnya agar ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Dan tak lama emai balasan dari Ed masuk, senyum tersungging diwajah tampan Jo hingga ia tak menyadari jika Yasmin sudah membuka matanya.
"Apa yang membuat tuan Jo begitu bahagai?"
"Kamu sudah bangun tenyata."
"Ada apa tuan?"
"Bersiaplah, besok kita akan kembali ke Jakarta."
"Tania?"
__ADS_1
"Tentu saja kita membawanya," menyunggingka senyum penuh dengan misteri.
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...