Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 43


__ADS_3

Tania begitu ketakutan, ia mengenali siapa yang kini berbicara dihadapannya. Tiba-tiba saja semua gelap bagi Tania.


"Lepaskan. Buka penutup matanya," teriaknya terus memberontak.


"Astaga, berisik sekali mulutnya."


"Baik bos," seru anak buah yang seakan tau apa maksud tuannya. Tak hanya mata, mereka bahkan menutup mulut Tania dengan lakban yang begitu tebal.


"Kalo begini dan damai semuanya," senyumnya.


**


Malam semakin larut, namun Elena masih belum sadarkan diri. Ia begitu menikmati tidur lelapnya.


"Tidur saja, bangunlah esok pagi agar lebih rileks," Ed yang dingin kini membelai sayang wajah istrinya.


Entah kemana dendam juga amarahnya selama ini, apakah mungkin hilang tertimbun rasa cinta yang mulai hadir?


Entahlah, namun sikap Edwart kali ini jauh berbeda dengan biasanya. Kini ia terlihat sangatlah lembut juga penyayang istri.


"Apa yang kamu lakukan pada saya Elena, apa yang kamu berikan pada saya."


"Mengapa saya tidak bisa melepaskan wajah kamu ini dari ingatan saya," membelai bibir ranum istrinya.


Edwart begitu menikmati malam ini, malam yang ia harap akan bertahan panjang agar mereka bisa berdua.


Edwart memanfaatkan situasinya, ia mendekap hangat tubuh istrinya. Tangan kekarnya itu mulai perlahan menjelajahi setiap inci bagian tubuh Elena.


Terbawa hingga dibawah alam sadarnya, Elena tiba-tiba saja mengeluarkan suara lenguhanya saat tangan itu bermain diarea perutnya.


"Ternyata kamu menikmatinya," tersenyum senang saat melihat reaksi istrinya.


"Ahhh," lenguh El saat Ed dengan sengaja mencubit perutnya.

__ADS_1


"Malam ini akan menjadi malam yang panjang kita," seringainya penuh kesenangan.


Edwart mengecup bibir Elena, perlahan kecupan itu berubah menjadi ******* yang begitu memabukkan.


Ed terlena dengan ciumannya, tangan juga dengan lihat membuka setiap kancing kemeja yang Elena kenakan.


Satu demi satu kancing itu dibukanya tanpa melepaskan pagutan keduanya. Edwart tak tahan, ia beralih menindih tubuh Elena, menjelajahi tubuh itu dengan bibir seksinya.


Edwart berhasrat, kabut gairah memenuhi diri juga pikirannya. Dengan tergesa-geda Ed melepas semua benang yang menutupi keduanya.


Perlahan namun pasti, Ed menyatukan keduanya. Membuat malam yang dingin berubah menjadi malam panas penuh gairah.


Hingga pagi menjelang, keduanya baru bisa terlelap kelelahan. Elena yang tanpa sadar mengikuti hasrat suaminya terbangun dengan begitu kelelahan.


"Kenapa badan gue rasanya kayak habis dilindas truk semen ya," keluhnya saat membuka matanya.


Berusaha bangkit dari tidurnya, El begitu terkejut saat selimut itu terjatuh dan menampakan tubuh polosnya.


Matanya begitu membulat saat melihat ada Edwart tidur disisi nya juga tanpa busana. Namun yang lebih mengherankan lagi saat ia melihat ada beberapa jejak ciuman ditubuh suaminya.


"Astaga, apa jangan-jangan semalam aku gitu ya," batinnya begitu malu.


Elena tak menyangka jika dirinya bisa berbuat seliar itu, sampai bisa membuat jejak bercintanya dengan Edwart suaminya.


"Udah puas belum liatin wajah aku," serunya parau.


"Kepedean sekali, saya mau kekamar mandi."


Elena bersikap begitu ketus, bukan karena ia masih marah karena perbuatan Ed yang lalu terhadapnya. Ini lebih karena ia merasa sangat malu dengan perbuatannya.


"Mau dianterin nggak," goda Edwart.


"Bisa diam aja nggak. Mending tidur aja lagi deh," kesalnya.

__ADS_1


"Dih marah, semalam minta nambah paginya marah-marah," goda Edwart dengan begitu jahilnya.


"Saya tau, pasti sengaja kan semalam. Pasti kamu memanfaatkan keadaan," tuduhnya.


"Kalau iya kenapa, toh pada akhirnya bukan saya yang minta lagi lagi dan lagi."


Elena malu sekali mendengar ucapan suaminya yang begitu lugas, rasanya ingin sekali ia menenggelamkan wajahnya agar Edwart tak melihatnya.


"Ayo lagi sayang, puaskan aku."


"Diam nggak," seru Elena.


"Ahh sayang, ahh tuan suamiku enak sekali," goda lagi Edwart.


"Bisa diam nggak sih," kesalnya malu.


"Aww syank, sakit tapi enak."


Tak tahan lagi, Elena mendekati suaminya dan membekap mulut Edwart dengan tangannya. Keduanya berkelahi dipagi hari dengan begitu romantisnya, menyisakan mentari yang masih enggan mengganggu romansa dua sejoli.


"Hih! Ngeselin banget sih," teriak Elena kesal, ia berlari begitu saja ke kamar mandi meninggalakan selimutnya yang ditarik Edwart.


"Hahaha, ngambek."


"Bisa gila gue liat tubuh polosnya pagi-pagi. Sabar ya bro," ucap Edwart pada pusakanya.


...---------🕊--------...


Hai, terima kasih sudah mampir dirumah ElenaEdwart. Jangan lupa tekan favorit ya supaya nggak ketinggalan updatenannya. Silahkan tinggalkan like komen juga dukungan kalian, semakin banyak pembaca semakin semangat update nya ..


...❣...


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2