Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 80


__ADS_3

Malik Ibarhim, seorang pembisnis yang sangat ternama hingga keluar dari negaranya. Laki-laki yang sangat disegani dalam dunia pembisnis, orang yang sangat dingin juga terkenal kejam disekitarnya.


"Bagaimana," tanyanya pada salah seorang anak buahnya.


"Maaf tuan, kami belum bisa menemukan apapun tentang prinsess tuan."


Malik terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, ada gurata marah juga kecewa yang sangat jelas tergambar dari wajahnya. Ia menahan semua amarahnya, dengan isyarat tangannya ia meminta anak buahnya segera keluar dari ruangannnya.


"Apa lagi yang bisa saya lakukan untuk menemukan princessku ini," gumamnya.


Malik sudah menyebarkan semua anak buahnya demi menemukan princessnya, ia berharap segera bisa kembali bertemu dengan orang yang sangat ia temui.


.....


...


Dikamarnya,


Elena nampak memainkan ponselnya dengan sangat fokus, jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari namun mata Elena masih sangat terjaga. Edwart mulai terganggung dalam tidurnya, ia beberapa kali membalikkan tubuhnya dari posisi tidurnya.


Samar-samar Edwart mendengar suara-suara dari kamarnya, perlahan matanya mulai terbuka. Sungguh Edwart terkejut saat melihat istrinya masih terbangun dan tertawa menatap ponselnya.


"Astaga, sayang," seru Edwart.


El yang terkejut melihat suaminya terbangun segera mematikan ponselnya dan menyembunyikan dibalik bantal. El tersenyum canggung menatap suaminya yang menatanya tajam.


"Tidur, udah jam berapa ini."

__ADS_1


"Iya, iya ini juga udah mau tidur kok," memposisikan dirinya berbaring sambil memeluk selimutnya.


Edwart kembali berbaring dalam tidurnya, kantuk sangat membuat Edwart mudah kembali tertidur tanpa memperhatikan istrinya. El yang sudah memastikan jika suaminya kembali tertidur dengan perlahan mengambil bantal juga ponselnya.


Dengan sangat hati-hati El melangkah menuju kamar mandinya, didalam bathup ia memposisikan bantal untuk dirinya berbaring disana. "Udah siap semua ini."


Elena berbaring didalam bathup dan kembali menikmati drama korea kesukaannya. Larut dalam drama yang dinikmatinya hingga El tak menyadari jika kini sudah pukul 03.00 pagi. Ed kembali terbangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya Ed saat menyadari jika istrinya tak berada disebelahnya.


"Kemana lagi anak ini," seru Ed mencoba mencari istrinya.


Namun pandangannya tertuju pada kamar mandi yang lampunya menyala, Ed mengerutkan dahinya menatap kearah kamar mandi. Perlahan Ed turun dari ranjangnya dan mendekati kamar mandi miliknya tersebut.


Samar-samar ia mendengar suara Elena tengah tertawa sendiri didalam kamar. "Istri nakal gue ini emang bener-bener ya."


Edwart membuka pintunya, berjalan masuk perlahan kedalam kamar mandi. Matanya begitu membulat melihat Elena sedang berbaring didalam bathup sambil cekikikan melihat ponsel miliknya.


"Bener-bener ya kamu ini, jam berapa ini masih aja main ponsel."


"Maaf sayang," sesal El yang melihat kemarahan pada suaminya.


"Bawa kesini ponselnya," mengulurkan tangannya.


"Aku tidur kok."


"Kemarika ponselnya atau nggak usah pakai ponsel sama sekali," ancam Ed yang sudah sangat kesal.


Dengan enggan El memberikan ponselnya, Ed yang menerimanya segera menyimpannya kedalam saku celananya. "Mau sampai kapan tiduran disana, bangun."

__ADS_1


El berjalalan mengikuti langkah suaminya, kembali berbaring diatas ranjang sambil memeluk selimutnya.


"Kesini," pinta Edwart.


El menggeser tubuhnya mendekati suaminya, Ed memeluk erat tubuh El dalam dekapannya. "Yank, kamu mau bunuh aku ya. Nggak bisa nafas ini."


"Tidur nggak."


El memejamkan matanya mendengar ucapan suaminya, ia membalas dekapan Edwart dan perlahan terlelap dalam tidurnya.


Pagi yang begitu cerah membangunkan Ed dari tidurnya. Ditatapnya El yang masih sangat pulas dalam tidurnya, membaut ia ragu untuk membangunkannya. Hingga dirinya sudah siap dengan pakaian kerja, El masih saja pulas dalam tidurnya.


"Ckkckck, istri nakal emang ini."


Ed keluar meninggalkan istrinya didalam kamar, menikmati sarapan seorang diri hingga Jo datang menemuinya.


"Gimana Jo," tanya Ed.


"Semuanya sudah siap tuan, kita bisa berangkata nanti siang."


"Bagus."


Saat hendak meninggalkan rumah Ed berpapasan dengan dua pelayan rumahnya. "Jaga nyonya, jangan biarkan dia keluar. Kalian jangan masuk kedalam kamar."


"Baik tuan."


"Jo pastikan rumah saya aman."

__ADS_1


__ADS_2