
Baru saja mendudukan dirinya, Billy juga Maya kembali berdiri saat mendengar ucapan anaknya.
"Apa maksud kamu," tanya Maya kesal.
"Aku mau mama sama papa keluar dari rumah aku sama El," ulang Ed dengan nada rendahnya.
"Nggak bisa, mama akan tetap tinggal disini."
"Yaudah kalau gitu," pasrah Ed.
"Yaudah apa," tanya Maya curiga.
"Yaudah aku sama Elena yang akan pindah kalau gitu."
Maya memelototkan matanya, ia mendekap erat tubuh Elena seakan tak ingin meninggalkannya. Billy menatap curiga putranya.
"Apa yang kamu rencanakan!"
"Cuma mau hidup berdua sama istri aku pah."
"Jawab jujur Edwart Emardo," bentak Billy mengejutkan.
"Apa sih pah, aku udah jujur juga."
"Papa tau gimana kamu. Minta tinggal berdua pasti ingin kembali menyiksa istrimu kan," tuduh Billy pada putranya.
Ed lelah, ia menghempaskan dirinya diatas sofa. Menyandarkan tubuhnya serta memejamkan kedua matanya.
"Kalau orang tua ngomong dijawab!"
Kesal Billy, ia melempar bantal sofa tepat mengenai perut Edwart.
"Apa sih papa. Aku nggak akan nyiksa istri aku juga," kesalnya balik.
"Pah,mah."
Elena menengahi ketiganya, ia menjelaskan situasi keduanya saat ini. Memastikan kepada kedua orang tuanya, jika Edwart tak akan berani berlaku kasar lagi dengannya.
__ADS_1
Billy juga Maya terkejut mendengar penjelasan Elena, namun keduanya tak menampik hal itu bisa terjadi. Bagaimana bisa laki-laki normal layak Edwart tak luluh dengan pesona Elena yang begitu memikat.
"Baiklah, mama sama papa bakal pulang. Tapi kamu ingat ya nak, pulang kalau dia macam-macam."
"Mama tenang aja ya," senyum El.
"Sebenarnya siapa sih anak mama sama papa ini," tanya Edwart dengan iseng.
"Elena," seru keduanya bersamaan, membuat Edwart melongo dibuatnya. Sedang El hanya diam mencoba menahan tawanya.
**
Tania murka, ia menghancurkan seisi kamarnya. Mulutnya terus saja berujar kemarahan, membuat semua pelayannya mundur ketakutan.
"Brengsek! Gue bakal balas penghinaan ini."
"Gue bakal balas berlipat-lipat sampai kalian menderita!"
"Gue pastiin kalian semua menderita! Akhhh!"
Tania menggila, ia tak bisa mengontrol dirinya. Amarah membutakan dirinya, Tania yang sudah tak terkendali membuka lacinya dengan begitu paksa.
Hingga pagi menjelang, Tania masih enggan membuka matanya. Ia masih setia dengan mimpi indahnya.
Berbeda dengan Tania, Elena sudah terbangun dan menyibukkan dirinya didapur. Semalam, Edwart juga meminta Bulan membawa dua pelayan dirumahnya.
Kini hanya ada Ed juga El berdua dirumah, sedang pelayan hanya akan datang ketika kedua pergi bekerja.
"Masak apa," tanya Ed yang tiba-tiba saja menghampiri istrinya kedapur.
"Nasi goreng sama telur ceplok," sahutnya.
"Aku mau telur mata sapi, tapi jangan sampai hancur kuningnya."
"Iya, bawel banget deh pagi-pagi."
"Orang request kok, suka-suka lah."
__ADS_1
"Yaudah sana mending tuan mandi dulu," ucap El yang tak menyadari kata-katanya.
"Tuan ?"
Elena tersadar, ia mematikan kompornya dan membalik tubuhnya. Ditatapnya wajah laki-laki yang kini juga sedang menatapnya dengan begitu tajam.
"Bukannya bisa emang manggil gitu ya."
"Ya ini kan udah nggak biasa lagi," kesal Ed tiba-tiba.
Elena melangkah maju, merapatkan tubuh keduanya. Dengan begitu manja El mengalungkan tangannya pada leher Edwart.
"Emangnya tuan suami ini maunya dipanggil apa sih," memainkan jarinya pada dada bidang Edwart.
"Jangan macam-macam," ditangkapnya jemari nakal istrinya yang siap membangunkan cerobong asap dalam dirinya.
Elena tertawa melihat raut wajah kesal bercampur malu suaminya. Rasanya begitu lucu juga memuaskan.
Edwart kesal, ia membalas istrinya dengan cara seksinya. Membungkam dengan bibirnya, menelan semua tawa Elena.
Edwart membalik posisinya, mendudukan Elena diatas meja bar dapur tanpa melepas ciuman keduanya.
Ed melepas ciumannya, menatap wajah merah Elena yang kehabisan oksigen akibat ulahnya.
"Jangan lupa nafas," disentilnya kening Elena.
Perlahan namun pasti Ed kembali menyatukan bibirnya, ******* habis bibir ranum milik istrinya. Elena terbuai, ia mengalukan tangannya pada leher Edwart.
Bahkan ia juga menyatukan kedua kakinya dibelakang tubuh suaminya. Meremas perlahan rambut Edwart, El mencoba menahan gejolaknya.
"Ke atas."
...-----🍒-----...
...Hai semua, makasih ya udah mau mampir membaca....
...Mohon dukungannya ya semua, agar semangat updatenya....
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen and share supaya banyak yang baca. Gift juga boleh kok🤭...
...jangan lupa tekan favorit supaya nggak ketinggalan!...