Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 114


__ADS_3

Kini Tania tengah menikmati makan malamnya, dengan pemandangan Yasmin yang duduk terikat didepannya. Setelah berhasil kabur dari mereka semua Tania lantas memilih bangunan terbengkalai untuk dihuninya.


Gelpa, tak ada tempat yang layak untuknya tidur. Ditempat terbuka itu ia hanya mampu menggunakan cahaya ponsel sebagai penerang makan malamnya.


"Kita ini romantsi sekali bukan, makan berdua dengan minim penerangan," ocehnya sambil menyantap makanan.


"Hanya orang gila yang mau makan malam dengan loe dalam kondisi begini," balas sarkas Yasmin.


"Dan orang gila itu jelas loe lah," tak tahu malunya.


Ikatan ditangannya begitu kencang hingga begitu menyakitkan, Yasmin berusaha melepaskan diri namun yang ada tangannya hanya terluka.


"Nggak usah capek-capek kabur, besok juga mereka datang ngambil loe."


"Karena gue memang penting buat mereka, nggak sama kayak loe ini."


"Jangan memancing emosi gue," menendang kursi didepannya.


"Brengsek, makanan gue jadi berantakan," umpatnya melihat nasinya jatuh bercampur dengan tanah.


Tania menatap geram pada Yasmin yang malah tersenyum begitu manis didepannya.


Kini semua orang tengah berkumpul dirumah Edwart, mereka memikirkan cara bagaimana melepaskan Yasmin dari Tania.


"Kita nggak bisa gegabah, mungkin Tania memang sendirian tapi dia lebih berbahaya jika dibandingkan dengan 10 orang," ucap Edwart.


"Yang dia ingin cuma aku, biarkan aku menemuinya dan membawa Yasmin kembali," ucap Elena.


"Jangan gila kamu ya, " emois Edwart.

__ADS_1


"Nak, om tahu kamu perduli dengan teman kamu itu. Tapi kamu juga nggak bisa mengabaikan suami juga kandungan kamu," tutr Malik yang mengerti dengan perasaan Edwart saat ini.


"Kita fikirkan jalannya dengan kepala dingin, jangan sampai ada pertengkaran," ucap Billy.


"Tenang, teman kamu pasti baik-baik saja," ucap Maya.


Elena memeluk Maya dengan derai air matanya, ia merasa begitu bersalah karena melibatkan Yasmin kedalam masalahnya. Dan malam itu tak satupun dari mereka yang bisa memejamkan matanya hingga jarum jam terus berputar.


"Lalu apa jadinya rencana kita ini," tanya Elena tak sabaran.


"Kita menunggu Tania mengirimkan alamatnya," ucap Ed.


"Lalu?"


"Lalu kita akan kesana menenuhi undangannya."


"Aku ikut."


"Ikut yank."


"Aku bilang nggak ya nggak!"


"Pokoknya ikut."


"Aku bakal kunciin kamu didalam kamar kalau gitu."


"Kamu," geram Elena.


"Cukup. Ed bisa tidak jangan bersikap seperti itu dengan Elena," tegur Maya.

__ADS_1


"Mah, jangan memanjakan El. "


"Bocah tengik."


Malik menepuk bahu Edwart, ia tahu apa yang menjadi beban pikiran suami dari keponakannya itu. Keras kepala Elena itu membuat Edwart selalu was-was dengan tindakan nekat yang bisa saja Elena lakukan.


"Nak, benar kata suami kamu. Ini terlalu berbahaya untuk kamu juga kandungan kamu."


"Tapi om-


"Kamu dirumah sama mertua kamu ya, biar om yang beresin Tania ini."


"Om," rengeknya.


"Nggak El, om bilang nggka," tegas Malik menolak keinginan keponakannya.


Elena yang merasa kesal menghentakkan kakinya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Edwart benar-benar dibuat kesal dengan tingkah istrinya itu, bisa-bisanya ia lari tanpa ingat ucapan dokter tempo hari.


"Lari aja terus jangan sampai jalan," teriak Edwart melirik Elena.


"Suka-suka aku," balas Elena.


"Anak itu," geram Ed yang ingin mengejar istrinya, namun Billy segera menahan tangan putranya itu.


"Biarkan istri kamu ini, kasih dia waktu."


Edwart hanya mengusap kasar wajahnya, menyembunyikan kekalutan juga kecemasannya dari semua orang yang ada disana. Yang ia takutkan adalah meninggalkan Elena sendiri tanpa pengawasannya, sebab ia takut jika semua ini adalah jebakan Tania saja.


Ed sadar jika Tania mungkin masih mempunyai kaki tangannya di Jakarta, dan tak menutup kemungkinan itu akan digunakannya kali ini untuk serangan baliknya.

__ADS_1


"Aku takut kalau ini akhir buruk bagi kita."


__ADS_2