
Malam hari para orang tua duduk di ruang tengah membicarakan kelanjutan hubungan anak-anak mereka. Membahas persiapan resepsi Aksa dan Inara yang rencananya akan digelar bersamaan dengan nikahan Avika dan Rai, sayang mereka masih bingung memikirkan masalah Aryan dan Dara.
Jika Dara bersedia menikah dengan Aryan, mereka ingin pernikahan itu dilangsungkan dihari yang sama. Namun hingga detik ini Dara belum bisa memberi kepastian, dia masih ragu dan takut menjalin rumah tangga dengan pria yang sudah memperkosanya.
Aina sudah berusaha meyakinkan Dara tapi nampaknya dia belum bisa meluluhkan hati gadis itu. Dia juga bingung dengan cara apa lagi harus membujuk Dara agar mau menjadi menantunya.
Di taman samping rumah, anak-anak mereka tengah duduk menikmati semilirnya angin yang berhembus kencang. Aksa duduk bersama Inara dengan posisi saling memeluk, tangan Aksa berada di pinggang Inara sementara kepala Inara menempel di lengan Aksa.
Sepertinya kehadiran adik-adiknya tidak mampu menyurutkan keinginannya untuk bermesraan dengan sang istri. Dia malah sengaja memanasi mereka tanpa malu sedikitpun.
Ya, begitulah Aksa, sebelas dua belas dengan Arhan di waktu muda.
Sementara Rai dan Avika duduk dengan sedikit jarak yang membentang diantara mereka. Rai tentu saja segan pada Aksa, apalagi Avika belum resmi jadi istrinya.
Tidak jauh dari mereka, Aryan dan Dara duduk dengan jarak yang cukup jauh. Aryan tau Dara masih risih dengannya, dia harus menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan gadis itu.
"Kak Aksa sudah nikah sama Kak Inara, lalu Kak Avika sama Kak Aryan kapan? Bukankah pasangan kalian sudah ada? Gak iri lihat Kak Aksa bisa mesra-mesraan dengan Kak Inara?" seloroh Bara mencairkan suasana.
Ucapannya itu sontak membuat semua mata memelototinya, kecuali Aksa yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Anak ingusan, masih kecil sudah kepo sama urusan orang dewasa. Masuk sana, belajar yang rajin biar otaknya encer!" tawa Aksa.
"Kak Aksa ih, siapa bilang aku masih kecil? Aku sudah dewasa loh Kak, aku juga sudah punya pacar." gerutu Bara. Air mukanya mengeruh dengan mata menatap tajam.
"Ck... Jangan bertingkah, belajar dulu yang giat. Pacaran itu tidak baik, apalagi buat anak SMP sepertimu. Jangan sampai Kak Aksa bilang sama Papa buat mindahin kamu ke pesantren, mau?" ancam Aksa menahan tawa.
"Jangan dong Kak, masa' aku masuk pesantren sih." Bara menggembungkan pipi. "Ya sudah, aku tidak akan pacaran lagi. Tapi kalau sudah SMA boleh kan?" tawarnya.
"Tidak boleh, pacaran itu merusak otak dan pikiran. Kalau sudah cukup umur, mending langsung nikah saja biar tidak menimbulkan fitnah dan dosa. Iya kan sayang?" terang Aksa, lalu mengecup pucuk kepala Inara.
"Alah, kayak yang paling benar saja kau ini." timpal Rai mengukir senyum miring, lebih tepatnya mengejek.
"Loh, memang aku benar kok. Salahnya dimana?" Aksa mengerutkan kening. "Kau sendiri tau bahwa aku tidak pernah pacaran sebelumnya. Sekalinya suka sama wanita, ternyata adikku sendiri. Hahaha... Dunia ini terlalu sempit ya," tawa Aksa pecah di tengah kegaduhan yang terjadi diantara mereka.
"Untung saja Inara juga suka padamu. Jika tidak, Avika akan melangkahi mu lebih dulu." sahut Rai dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Mana bisa, semua tergantung izin dariku. Jika aku tidak mengizinkan, maka Avika belum boleh menikah." tegas Aksa penuh penekanan. "Lagian kau ini bisa sopan gak sih jadi orang. Aku ini calon kakak iparmu, manggil kakak kek biar sopan!" geram Aksa menajamkan tatapan.
"Hahaha... Iya Kak Aksa, prettt..." Rai malah tertawa tanpa segan sedikitpun.
Rasanya aneh saja jika dia harus memanggil Aksa dengan sebutan kakak, selama ini mereka berdua sudah terbiasa berkata semaunya sendiri. Tapi bagaimanapun juga, Rai tetap harus belajar menghargai Aksa sebagai calon adik ipar yang baik.
"Dasar adik ipar durhaka. Jika aku mencabut izinku, baru tau rasa kau." ketus Aksa kesal.
"Sudah dong Kak, kenapa jadi ribut begini sih? Tidak malu sama calon adik ipar yang lain?" selang Inara yang ikut menimpali.
Sedari tadi pandangannya tertuju pada Dara yang hanya diam dan menekuk wajah. Inara mengerti apa yang gadis itu rasakan saat ini.
Lalu Inara menjauh dari Aksa, dia berjalan menghampiri kursi yang diduduki gadis itu dan duduk diantara Aryan dan Dara.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Inara dengan ciri khasnya yang lembut, lalu menggenggam tangan Dara yang ternyata sudah basah dengan keringat.
Dara mengangkat kepala dan menoleh ke arah Inara. "Tidak apa-apa Kak," jawabnya gugup.
Inara mengukir senyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Dara. "Kamu jangan seperti orang asing begini. Sekarang kami semua keluarga kamu, kamu tidak perlu sungkan." jelasnya.
Kembali Inara mengukir senyum dan memeluk lengan Dara. "Kamu cantik, Aryan sangat beruntung mendapatkan calon istri seperti kamu." sanjungnya.
"Iya, kamu pasti akan terlihat semakin cantik saat di acara pernikahan kita nanti." timpal Avika. "Aku dengar resepsi Kak Aksa dan Inara akan dilangsungkan berbarengan dengan pernikahan kita. Pasti seru kan, ada tiga wanita cantik dan tiga pria tampan di atas pelaminan." Avika terkekeh sembari menutup mulutnya. Dia rasanya sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
"Dua wanita cantik dan satu wanita buruk rupa kali," seloroh Aksa mengulum senyum.
"Siapa wanita buruk rupa?" Inara memutar leher ke arah Aksa.
Mendadak air muka Aksa berubah kecut saat menyadari tatapan Inara yang tak biasa.
"Bukan kamu Ra, maksud Kakak tuh Avika." Aksa mengarahkan telunjuknya pada Avika sebelum Inara mengeluarkan taringnya.
"Kalau aku wanita buruk rupa, itu artinya Kak Aksa juga pria buruk rupa. Lupa kalau pabrik kita sama?" Avika menjawab enteng dengan senyum mengejek.
"Sudah, kalian ini seperti anak kecil saja." selang Rai. Dia lekas bangkit dari duduknya dan menggenggam tangan Avika, lalu membawanya menjauh dari mereka.
__ADS_1
"Hei, mau kemana kalian?" seru Aksa.
"Dasar kepo," umpat Rai dan melanjutkan langkahnya.
"Bara juga pergi ah, ribet lihat kalian semua." Bara pun meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Aksa, Inara, Aryan dan Dara saja di sana. Mereka berempat duduk berhadap-hadapan dan mulai berbicara dari hati ke hati.
Begitulah Aksa, terkadang dia memang pecicilan seperti Arhan dan suka bicara semaunya sendiri. Tapi disaat berlawanan, dia bisa menjadi sosok kakak yang tegas dan berwibawa.
Aksa benar-benar memperlakukan Dara seperti adiknya sendiri. Dia menasehati gadis itu dan meyakinkannya bahwa Aryan adalah pria yang baik. Dia ingin Dara membuka hatinya untuk Aryan, paling tidak mereka harus menikah terlebih dahulu. Aksa yakin seiring berjalannya waktu Dara bisa melihat ketulusan hati Aryan dan menerimanya sepenuh hati.
Aksa juga menjelaskan bahwa wanita yang menjebak mereka malam itu bukanlah manusia. Dia iblis betina yang menjelma dalam wujud seorang perempuan, dia tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuannya.
Maka dari itu Aksa menekankan bahwa Dara sudah berada di tempat yang tepat. Iblis itu tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja, apalagi setelah tau bahwa Dara sudah masuk ke dalam keluarga Airlangga. Aksa juga akan menjamin keselamatan Dara jika dia bersedia menikah dengan Aryan.
"Iya Kak, aku mau." angguk Dara. Dia akhirnya setuju menjadi istri Aryan.
Sontak Aryan terperanjat dan memutar leher ke arah Dara. Darahnya berdesir dengan jantung berdetak tak menentu. "Dara..." lirihnya dengan mata berkaca.
"Iya, aku mau." ulang Dara, tapi tak berani menatap wajah Aryan.
Inara yang mendengar itu reflek menghamburkan diri dari tempat duduknya. Dia memeluk Dara erat layaknya sahabat sekaligus saudara.
"Yeay... Aku punya saudara perempuan lagi." sorak Inara saking bahagianya. Dara menitikkan air mata dan balas memeluk Inara.
Tanpa pikir Inara lekas melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Dara, lalu membawanya memasuki rumah. Kehadiran Aksa dan Aryan mendadak tak berharga lagi di matanya.
"Nah, lihat kan? Begitulah perempuan, kalau ada temannya, suami main dilupakan begitu saja." keluh Aksa sembari menyandarkan punggungnya pada tampuk kursi. Dia menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar.
"Sabar Kak, sekali-sekali mengalah untuk adikmu ini." kata Aryan mengulum senyum. Dia sangat bahagia setelah mendengar penuturan Dara tadi.
"Ya, sekali-sekali tidak masalah. Kalau keseringan awas saja kamu," ancam Aksa dengan tatapan mematikan.
"Setidaknya sampai Dara benar-benar menyatu dengan keluarga ini. Kakak tidak kasihan apa? Dara belum sepenuhnya menyesuaikan diri. Dia tidak tau cara bergaul dengan orang lain, biarkan dia menganggap Kak Inara sebagai teman. Kak Inara cocok dengannya, tidak seperti adik kakak itu. Sibuk dengan calon suaminya mulu," ucap Aryan.
__ADS_1
"Iya, iya, terserah kamu saja." sahut Aksa, lalu mereka berdua menyusul masuk ke dalam rumah.