
"Brengsek, kenapa rencana ku selalu gagal begini? Kenapa ada saja yang datang disaat semuanya hampir berhasil." Satu persatu perkakas yang tersusun rapi di atas lemari pajang melayang karena amarah Tasya yang menggebu-gebu. Semua hancur layaknya kapal yang baru dihantam tsunami besar.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak akan tinggal diam sebelum mereka semua hancur seperti yang sudah mereka lakukan padaku." Mata Tasya memerah memancarkan kobaran api yang menyala. Dia meraih vas bunga yang ada di hadapannya.
"Craaang..."
Vas bunga itu melayang ke kaca besar yang menjadi pembatas ruangan, serpihan beling kecil berserakan di mana-mana.
"Can, bawa anak sialan itu kemari!" titah Tasya sembari menggenggam sebuah smartphone yang dia taruh di sisi telinga.
"Baik bos," sahut seorang pria dari ujung sana.
Mendadak seringai licik melengkung di sudut bibir Tasya, tidak ada cara lagi selain menjadikan seorang anak yang tak berdosa sebagai tumbal.
Sudah saatnya anjing peliharaan itu dikeluarkan dari kandang dan menggigit semua mangsa yang menjadi sasaran utama Tasya.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Tanya duduk di kursi goyang. Kepalanya menengadah menghadap langit-langit ruangan dengan jari-jari yang asik mengetuk lutut. "Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja? Tidak, kalian semua akan merasakan akibatnya."
Di sebuah gubuk kecil nan jauh dari pemukiman warga, seorang gadis cantik duduk dengan balutan dress lengan pendek selutut. Wajahnya benar-benar anggun dan polos, berkulit putih dan bertubuh mungil. Bibirnya berwarna merah dengan hidung lancip dan mata almond yang indah.
Gadis itu bernama Dara, dia dibesarkan oleh seorang nenek yang kini sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia meninggalkan Dara ketika berumur lima belas tahun dan sejak saat itu Dara tinggal sendirian tanpa bergaul dengan orang lain.
Sehari-harinya Dara memanfaatkan tanah kosong yang ada di pekarangan gubuk untuk berkebun. Hasil kebun itulah yang dia jadikan makanan pokok.
Kadang Dara memanen ubi kayu dan merebusnya, kadang memanen jagung dan membakarnya. Ada juga berbagai macam sayur-sayuran yang dia tanam sendiri. Sepertinya alam sangat bersahabat dengan dirinya, apa saja yang dia tanam pasti tumbuh dengan subur.
Sesekali ada dua orang pria yang datang mengantarkan beras dan bahan pokok lainnya, tapi sangat jarang.
"Braaak!"
Dara terperanjat saat pintu gubuknya ditendang oleh seorang pria yang sudah sering dia lihat sebelumnya. Pria itu yang sesekali datang mengantar beras untuknya.
"Sudah saatnya keluar, ayo!" ucap pria itu.
__ADS_1
"Keluar kemana? Bukankah aku tidak boleh menunjukkan diriku pada dunia ini?" Dara menautkan alis, dia menjawab dengan tutur kata yang lembut dan sopan.
Meski tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, tapi Dara mendapat pelajaran yang cukup baik dari sang nenek. Beliaulah yang selama ini mengajarkan Dara baca tulis dan berhitung.
"Jangan banyak tanya, ikut saja!" bentak pria itu. Dara membulatkan mata, dia benar-benar takut karena selama ini dia tidak perlu berurusan dengan orang luar.
"I-Iya..." Dara mengangguk lemah, tidak ada cara lagi selain menurut.
Tiga jam kemudian, sebuah mobil jeep berwarna putih berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Dara turun lewat pintu belakang dan terdiam sejenak saat memandangi keadaan sekelilingnya.
"Masuklah, bos sudah menunggumu di dalam!" titah pria itu.
"Bos?" Dara menautkan alis.
"Iya, kau pikir kau siapa? Kau itu hanya seekor anjing. Turuti apapun yang dikatakan bos, jangan membuatnya marah."
Lagi-lagi Dara hanya mengangguk, mungkin benar dia hanya seekor anjing peliharaan yang harus patuh pada tuannya.
Sesampainya di dalam, Dara bersimpuh di kaki Tasya. Kepalanya ditekuk dengan jari-jari yang asik memainkan ujung kukunya.
Awalnya Dara menolak. Meski dia tidak pernah bergaul dengan orang lain, tapi dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Sayang penolakannya dihadiahi sebuah cambukan dengan ikat pinggang.
Dara hanya bisa menjerit menahan rasa sakit yang menghujam tubuh mungilnya. Seberapa keras tangisannya memohon belas kasih, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh iblis betina itu.
"I-Iya, aku akan melakukannya. Tolong jangan cambuk aku lagi, sakit!" rintih Dara menangkup kedua tangan memohon ampun.
"Bagus, sekarang bersihkan tubuhmu!" titah Tasya tersenyum licik.
Dengan pipi yang sudah basah dan tulang belulang yang terasa remuk, Dara menguatkan diri bangkit dari ketidakberdayaannya. Dia masuk ke kamar mandi dan berendam di dalam bathtub dengan kulit yang sudah membiru di beberapa titik akibat cambukan yang dilayangkan Tasya di tubuhnya.
Menangis, hanya itu yang dapat Dara lakukan untuk mengobati rasa sakit yang menggerayangi permukaan kulitnya.
...****************...
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" Rai tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Aksa.
Setelah mengantarkan Avika pulang, dia kembali ke apartemen dan memilih tidur-tiduran seperti seorang bos besar.
"Tidak ada," jawab Rai enteng.
Aksa tersenyum kecut dan membanting tubuhnya di atas kasur.
"Huhhh..."
"Kenapa? Patah hati?" sindir Aksa.
"Tidak, siapa yang patah hati?" sanggah Rai.
"Yakin?" Aksa mengulum senyum.
"Yakin lah, jangan aneh-aneh!" ketus Rai. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan memilih duduk di sofa.
"Hahaha... Kenapa lari? Takut?" Aksa tertawa terbahak-bahak melihat gelagat aneh Rai. Dia tau sahabatnya itu segan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Bodoh, ditolak sekali saja sudah menyerah. Belajarlah dariku, ditolak sampai ratusan kali pun aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan." imbuh Aksa membanggakan diri sendiri.
"Jangan samakan aku dan kau. Situasinya jauh berbeda," geram Rai.
"Apanya yang beda? Posisi kita sama, sama-sama mengejar cinta seorang gadis yang sangat keras kepala. Tapi nyaliku lebih besar darimu. Kau saja yang cemen, belum apa-apa sudah menyerah." ejek Aksa.
"Kalau kedatanganmu hanya untuk menggangguku, lebih baik kau pergi saja dari sini. Aku tidak butuh kata-kata mutiaramu yang menyesatkan itu." Rai bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamar mandi. Lebih baik dia berendam untuk menyegarkan otaknya dari pada harus mendengar ucapan Aksa yang tak bermutu.
"Hei, jangan lari! Dasar pecundang," Aksa tertawa terbahak-bahak melihat air muka Rai yang sudah seperti kucing kecebur got.
Aksa memang sengaja datang untuk memanasi Rai. Siapa tau dengan begitu Rai merasa tertantang untuk kembali ke rumah dan melanjutkan perjuangannya untuk mendapatkan hati Avika.
Aksa tidak akan menghalangi Rai untuk mendekati Avika. Setelah apa yang terjadi semalam, Aksa sangat yakin bahwa Rai mampu menjaga adiknya dengan baik. Apalagi Aksa tau persis bagaimana karakter Rai. Dia bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta dan dia sangat menghargai seorang wanita. Semua sudah terbukti dari cara dia memperlakukan Avika dan menjaga kehormatannya.
__ADS_1
Bersambung...