
Setelah semua anggota keluarga selesai sarapan, Aryan dan Dara baru turun dari kamar mereka. Sebenarnya Dara malu turun terlambat dalam keadaan rambut yang masih nampak basah. Dia takut menjadi bahan becandaan, apalagi di hadapan kakak iparnya Aksa yang tidak pernah mengenal tempat dalam berucap.
"Ck... Turun juga kamu? Kirain mau di kamar seharian," ucap Aksa dengan senyum mengejek. Dia yang tadinya hendak meninggalkan meja makan, kembali duduk saat melihat kedatangan Aryan dan istrinya.
"Memangnya kenapa? Jangan usil jadi orang!" jawab Aryan enteng lalu membawa Dara duduk di kursi mereka.
"Siapa yang usil? Orang cuma-"
"Sssttt... Lemes banget sih mulutnya. Ayo, ikut aku!" potong Inara. Dia menggenggam tangan Aksa dan membawanya ke ruang tengah. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin mereka berdua akan berdebat tanpa henti.
Setelah Aksa menghilang, Aryan dan Dara pun menyantap makanan mereka. Sesekali Aryan menyuapi istrinya meski Dara sudah menolaknya, tapi Aryan memaksa sehingga Dara terpaksa menerima suapan suaminya.
Di ruang tengah, Aksa dan Inara pamit pada tiga ibu yang sudah membesarkan mereka. Begitu juga dengan Rai dan Avika, mereka berempat meninggalkan rumah menyusul Arhan dan Hendru yang sudah pergi lebih dulu.
Hari ini mereka berempat sengaja menaiki mobil yang sama. Seperti biasa Rai mengendarai mobil dan kali ini Avika yang duduk di sebelahnya, sedangkan Aksa memilih duduk di belakang agar bisa berduaan dengan istrinya. Dia masih sangsi mengingat tubuh Inara yang masih panas sejak tadi malam, tapi Inara harus tetap ke kampus menyusun tugas akhir.
Selepas menurunkan Avika dan Inara di tempat tujuan, Aksa pun memastikan bahwa Andi dan Dori sudah siaga menunggu keduanya. Setelah itu dia pindah ke bangku depan dan menyuruh Rai melanjutkan perjalanan menuju Airlangga Group.
Namun saat di lampu merah, tiba-tiba pandangan Aksa tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tepat di samping mobilnya. Dia menangkap keberadaan seorang wanita yang tengah duduk di bangku kemudi, wajah wanita itu terlihat jelas dari kaca jendela yang terbuka.
"Rai, itu dia." gumam Aksa mengarahkan telunjuknya pada wanita yang mengenakan pakaian berwarna hitam itu, sekilas terlihat seperti hoodie.
Rai memutar leher mengikuti arah telunjuk Aksa, keningnya mengernyit seketika. "Dia siapa?" tanyanya bingung.
"Wanita iblis itu, siapa lagi?" sahut Aksa setengah berbisik, tapi masih terdengar jelas di telinga Rai.
__ADS_1
"Maksudmu Tasya? Ibu tirimu itu?" kembali Rai mengernyit dengan mata menyipit.
"Ibu tiri kepalamu, istri Papaku cuma satu, bodoh!" umpat Aksa menggertakkan gigi lalu menjitak kepala Rai meluapkan kekesalan.
"Aww..." Rai meringis sembari mengusap kepalanya perlahan. "Lalu kita harus apa?" imbuhnya mencari tau.
Aksa diam sejenak memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah jelas di depan matanya.
"Ikuti dia!" titah Aksa sesaat setelah kesadarannya kembali. Sesuai janjinya, dia akan melenyapkan iblis betina itu agar tak lagi mengganggu ketenangan keluarganya.
Sesaat setelah lampu merah berganti hijau, Rai kembali melajukan mobilnya. Dia sengaja mengikuti mobil sedan berwarna hitam itu sesuai perintah Aksa. Sementara Aksa sendiri mulai sibuk menyiapkan alat tempur dan mengisinya dengan peluru. Tidak hanya satu tapi Aksa menyiapkan tiga revolver sekaligus dengan jenis yang berbeda.
Satu dia selipkan di pinggang, satunya dia ikat di betis dan satunya lagi di dekat mata kaki. Tak lupa pula dia menyediakan peluru cadangan untuk berjaga-jaga.
Aksa tidak bodoh, dia yakin ada konspirasi di balik kemunculan wanita itu. Tidak mungkin iblis gila itu berkeliaran tanpa pengawalan, Aksa bisa membaca permainan mereka.
Sementara Rai masih asik mengemudikan mobilnya, Aksa dengan cepat mengirim pesan pada Baron. Aksa meminta omnya itu menyusul dan mengirim anak buah untuk berjaga-jaga. Aksa juga menyalakan gps agar Baron dengan mudah melacak keberadaannya. Aksa sangat yakin Tasya akan membawa mereka pada anak buah Onix.
Setelah hampir dua jam mengikuti mobil yang dikemudikan Tasya, sampailah mereka di depan sebuah bioskop tua yang sudah lama tidak beroperasi. Tasya turun dari mobil itu dan masuk ke dalamnya. "Sasaran sudah ditempat," ucapnya. Ternyata sedari tadi Tasya tengah berkomunikasi dengan seseorang melalui handset bluetooth yang terpasang di telinganya.
Tidak salah lagi, ternyata Aksa benar. Tebakannya tidak meleset, Tasya memang tengah berkonspirasi dengan Oberoi. Hanya saja Aksa tidak tau bahwa musuh bebuyutannya itu ada di ibukota. Pikir Aksa dia hanya akan bermain-main dengan anak buah Oberai saja.
"Tunggu apalagi, ayo turun!" ajak Rai setelah mematikan mesin mobil lalu mengambil revolver yang disiapkan Aksa tadi dan menyelipkannya di pinggang.
Dengan langkah tegap dan wajah sangar, keduanya lekas turun dari mobil dan melangkah masuk menyusul Tasya. Sayang ruangan yang gelap membuat mereka berdua kesulitan menemukan sasaran.
__ADS_1
"Tempat apa ini? Apa yang mau dilihat kalau begini?" keluh Rai. Suaranya menggema memenuhi gedung tertutup itu.
"Kreeek..."
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderik dan terkunci dengan cepat, sebuah lampu ikut menyala menyoroti mata Aksa dan Rai. Sontak pandangan keduanya mengabur karena cahaya yang membuat silau. Mereka berusaha menutupi cahaya itu dengan lengan yang terangkat di depan wajah.
"Dasar pecundang, beraninya main petak umpet seperti bocah. Apa masa kecil kalian kurang bahagia?" seru Aksa dengan suara baritonnya yang menggelegar. Dia kemudian tertawa kecil mengejek permainan bodoh para musuhnya itu.
"Keluar kalau berani, hadapi kami berdua dengan tangan kosong, itupun kalau kalian memang jantan!" sambung Rai dengan suara lantang. Dia ikut tertawa, hal itu menyulut kemarahan para bajingan yang mendengarnya.
"Bug!"
"Bug!"
Mendadak tubuh Aksa dan Rai tersungkur di lantai setelah mendapatkan pukulan keras di punggung mereka.
"Hahaha... Ternyata kalian semua sukanya main belakang ya, apa enaknya sih?" tawa Rai pecah tanpa gentar sedikitpun, jatuh sekali tidak akan membuatnya mati semudah ini.
"Mereka sudah terbiasa kali, padahal main depan rasanya lebih maknyos." sambung Aksa yang ikut tertawa mendengar celetukan Rai. Keduanya berusaha duduk kala lampu itu kembali menyorot ke arah mereka.
"Diam kalian!" seru seorang pria dengan suara sangat lantang. Dia mengepalkan tinju tapi tak seorangpun bisa melihatnya di tengah kegelapan seperti itu.
"Kenapa kami harus diam? Mulut mulut kami, kenapa kamu yang sewot?" jawab Rai enteng. Meski dalam posisi duduk, dia berusaha menyisir keadaan di sekelilingnya. Tampak beberapa pasang kaki yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Hahaha... Mungkin karena suaramu terdengar cempreng, makanya dia menyuruhmu diam. Bikin telinga sakit saja,"
__ADS_1
Kembali Aksa tertawa terbahak-bahak, dia dan Rai sengaja membuat lelucon untuk mengalihkan perhatian.
Meskipun begitu, keduanya tetap waspada pada pergerakan sekecil apapun.