Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 61.


__ADS_3

Pukul delapan malam Aksa dan Inara sudah tiba di kediaman Airlangga. Saat keduanya masuk ke dalam rumah, semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka baru saja selesai menikmati makan malam.


Sayang tidak ada Rai di sana. Setelah makan malam tadi dia pamit meninggalkan kediaman Airlangga.


"Malam semuanya," sapa Aksa dan Inara bersamaan. Setelah itu mereka berdua ikut bergabung dengan semua orang.


Avika menatap remeh dan mengerucutkan bibir, lalu mencolek pinggang Aryan sebagai kode.


"Duduk di luar ah, malas lihat orang yang bermuka dua. Dasar munafik!" sindir Aryan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia bangkit dari duduknya dan menjauh dari semua orang.


"Tunggu Aryan, Kakak juga ikut!" sorak Avika. Dia lekas berdiri dan berjalan menyusul Aryan.


Tentu saja Aksa dan Inara merasa tersinggung dengan kelakuan mereka berdua. Apalagi saat mengatakan munafik tadi mata Aryan jelas tertuju pada Aksa, tajam dan mematikan.


"Hei, kembali ke sini!" panggil Aksa dingin.


Aryan dan Avika tak menyahut, bahkan menoleh pun tidak sama sekali. Keduanya melangkah menuju pintu samping dan memilih duduk di dekat kolam renang.


"Emang enak dicuekin," Avika tertawa terbahak-bahak, Aryan pun begitu.


Tidak lama, Bara juga ikut meninggalkan ruang tengah. Dia menyusul Aryan dan Avika ke kolam renang.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Aksa mengerutkan kening.


"Hahahaha... Makanya kalau punya adik tuh dianggap, jangan hanya sibuk dengan duniamu sendiri!" Baron menyindir dengan tawa yang menggelegar sesuai porsi tubuhnya yang besar.


"Aksa tidak mengerti, maksud Om apa? Memangnya Aksa salah apa sama mereka?" Lagi-lagi Aksa mengerutkan kening.


"Tidak salah, tapi sikap dingin kamu itu yang membuat mereka kesal. Apalagi setelah mengetahui kalian berdua akan menikah." timpal Hendru.


"Loh, apa hubungannya?" Aksa menyipitkan mata.


"Mereka merasa tidak dianggap, masa' mau nikah gak ngasih tau mereka? Apalagi saat tau kalau kamu akan menikah dengan Inara. Menurut mereka itu tidak masuk akal, masa' kakak nikahi adiknya?" sambung Arhan.


Aksa terdiam sejenak, begitu juga dengan Inara. Gadis itu merasa tidak enak hati karena merasa sudah mencuri perhatian Aksa dari adik kandungnya sendiri.


Lalu Inara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kolam renang. Sementara Aksa sendiri masih duduk di ruang tengah membahas pernikahan yang sudah di depan mata.


Sesampainya di kolam renang, Inara menghampiri ketiga saudaranya yang tengah berkumpul seperti biasa. Inara kemudian duduk diantara Aryan dan Bara.


"Ngapain ke sini?" ketus Avika dengan air muka cemberut.

__ADS_1


"Kak... A-Aku minta maaf," lirih Inara dengan mata berkaca.


"Untuk apa Kak Inara minta maaf? Kakak salah apa?" tanya Bara kebingungan. Bocah SMP itu belum tau apa-apa, Aryan dan Avika belum sempat memberitahunya.


"Kakak..." Inara bingung harus menjawab apa.


"Heh Bara, kamu belum tau kan kalau Kak Inara mu ini akan menikah?" Aryan menimpali.


"Menikah? Sama siapa?" tanya Bara terkejut.


"Sama Kak Aksa," jawab Avika cuek.


"Hah?" Bara membulatkan mata dengan mulut sedikit menganga. "Benar Kak?" tanya Bara pada Inara.


Inara menitikkan setetes cairan bening di sudut matanya. Dia merasa ketiga saudaranya itu tidak ada yang mendukungnya.


"Maafkan aku, aku tau ini salah. Jika kalian tidak setuju, aku akan membatalkan pernikahan ini. Aku tidak akan menikah dengan Kakak kalian. Maaf karena sudah mengambilnya dari kalian," Inara bangkit dari duduknya dan berlari memasuki rumah.


"Inara, kamu kenapa?" tanya Aksa saat menangkap keberadaan Inara yang tengah melintas di hadapannya.


Inara tak menyahut, dia terus berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar. Segera Inara mengunci pintu agar tak seorang pun bisa masuk menemuinya.


"Inara, buka pintunya sayang! Kamu kenapa?" teriak Aksa panik. Tapi Inara sama sekali tak menyahut.


Tidak berselang lama, Aksa kembali turun dan berjalan melewati ruang tengah. Rahang mengerat dengan tatapan tajam menjadi ciri khas nya ketika marah.


"Aksa, apa yang terjadi Nak?" tanya Aina yang masih duduk di sofa bersama yang lainnya.


Aksa tidak menyahut, dia terus saja berjalan menuju kolam renang.


"Apa yang kalian lakukan pada Inara?" Suara Aksa menggelegar hingga menggema ke setiap sisi kolam. Ketiga adiknya itu terperanjat dan bangkit dari duduk mereka.


"Kak Aksa..." Ketiganya bergidik ngeri. Mereka tau persis bagaimana sadisnya Aksa ketika marah.


"Jawab pertanyaan Kakak!" bentak Aksa.


"Aksa, apa yang terjadi? Kenapa marah-marah pada adikmu?" Arhan yang baru tiba di sana menimpali. Yang lain juga ikut menyusul di belakangnya.


"Aksa, tolong pelan kan suara kamu! Kalau ada masalah bicarakan baik-baik," seru Aina.


"Pa, Ma, tolong kali ini biarkan Aksa yang bicara! Aksa yakin mereka sudah berbuat sesuatu pada Inara," selang Aksa.

__ADS_1


"Kak, kami tidak melakukan apa-apa pada Inara. Awalnya aku dan Aryan hanya ingin menggodanya, tapi belum apa-apa Inara sudah lari." jelas Avika.


"Bohong. Kalau hanya menggoda, tidak mungkin Inara sesedih itu dan mengurung diri di kamarnya. Kalian pasti sudah menyakiti perasaannya." geram Aksa.


"Tidak Kak, kami tidak bohong. Kami bahkan belum sempat berkata apa-apa. Tanya sendiri sama Bara jika Kakak tidak percaya." ucap Aryan.


Seketika mata semua orang tertuju pada Bara. Bocah ingusan itu merasa tersudutkan hingga air mukanya berubah pucat.


"Bara, katakan apa yang terjadi sebenarnya!" Kini Baron yang ikut berbicara.


Bara menekuk wajah sejenak, sedetik kemudian mengangkatnya lagi. "Yang dikatakan Kak Avika sama Kak Aryan benar Yah, tadi mereka hanya memberitahu Bara bahwa Kak Aksa dan Kak Inara akan menikah. Kak Inara sepertinya salah paham dan menganggap kami tidak setuju." ungkap bocah ingusan itu.


"Nah, dengar kan? Kami tidak melakukan apa-apa pada Inara. Target kami bukan Inara tapi Kak Aksa, kami marah karena Kak Aksa menyembunyikan berita penting ini dari kami semua. Kak Aksa sudah berubah, Kak Aksa tidak menganggap kami lagi." Avika mengerucutkan bibir.


Aksa terdiam sejenak, kepalanya serasa ingin pecah memikirkan situasi ini. Di satu sisi adik sekaligus belahan jiwanya, di sisi lain adik kandungnya sendiri. Tanpa bicara, Aksa lekas meninggalkan tempat itu dan kembali ke lantai atas. Dia mencari kunci serap dan membuka kamar Inara.


"Ceklek!"


Pintu terbuka sedikit, Aksa melangkah masuk. Inara yang tengah berbaring langsung menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.


Segera Aksa mengunci pintu dan berjalan menghampiri Inara. Aksa ikut berbaring dan menarik Inara ke dalam dekapan dadanya.


"Jangan sedih, mereka hanya bercanda. Mereka bukannya tidak setuju dengan hubungan kita, tapi mereka kecewa sama Kakak." Aksa menghela nafas berat.


"Kakak yang salah, harusnya Kakak membicarakan ini pada mereka. Mereka merasa tidak dianggap karena mengetahui ini dari yang lain." Aksa mengusap wajah.


"Kamu jangan sedih ya, besok semuanya akan baik-baik saja!" Aksa mengusap rambut Inara dan mencium pucuk kepalanya.


"Tok Tok Tok"


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Aksa melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang. Setelah membukakan pintu, Avika dan Aryan menyelonong masuk dan berhamburan naik ke kasur. Keduanya mengapit Inara yang masih berbaring dengan wajah lusuh.


"Maafin Kak Avika ya. Tadi Kakak hanya ingin menggoda kamu, Kakak setuju kok kamu sama Kak Aksa. Kakak tuh marahnya sama Kak Aksa bukan kamu," ungkap Avika.


"Aryan juga minta maaf ya Kak. Aryan juga setuju, tapi Aryan bingung kenapa kalian berdua bisa saling mencintai. Bukankah dulu Kak Aksa benci sekali sama Kak Inara, setiap hari dia selalu membuat Kakak menangis." ucap Aryan.


"Sudah, tidak usah mengungkit yang dulu-dulu! Mungkin dulu Kak Aksa sudah suka sama Inara, makanya senang bikin dia nangis." timpal Aksa membela diri.


Inara bangkit dari pembaringannya, mereka bertiga saling berpelukan. Saat Aksa ingin bergabung, Avika mendorongnya hingga urung memeluk ketiga adiknya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2