Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 67.


__ADS_3

Tepat pukul empat sore, empat mobil itu sudah terparkir di parkiran apartemen. Semua orang turun dan melangkah memasuki bangunan tersebut. Tidak dengan Rai yang masih duduk diam di tempatnya. Tamparan tadi membuat dadanya ngilu hingga detik ini.


Rai tau dia salah melakukan itu pada Avika. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Mungkin dia terlalu berharap rasa itu akan mendapat balasan tapi justru balasannya terasa sangat menyakitkan.


Setelah semua orang menghilang dari pandangannya, barulah Rai turun dan berjalan menuju unit milik Aksa.


Di atas sana ternyata sudah ada Hendru yang datang membawa penghulu. Saat Inara memasuki unit, mata Aksa membulat dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Inara hanya diam sambil menekuk wajah, gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipilihkan Aksa untuknya.


Rasa rindu itu kian membuncah hingga ubun-ubun. Aksa hendak melangkahkan kaki tapi Arhan dengan cepat menahannya.


"Mau kemana?" tanya Arhan mengulum senyum.


"I-Itu..." Aksa terbata dan mengusap wajah dengan kasar. Hampir saja dia lupa bahwa di sana sudah banyak orang yang berdiri mengelilinginya.


"Sabar, nanti akan jadi milikmu juga." seloroh Arhan menahan tawa. Ternyata Aksa sama bobroknya dengan Arhan tempo dulu, melihat calon istri mereka dengan dandanan secantik itu membuat otak mereka berhenti bekerja untuk sejenak.


Tidak menunggu lama, acara akad langsung saja dimulai. Semua orang duduk di tempat yang sudah disediakan, Aksa dan Inara pun duduk berhadapan dengan Hendru dan penghulu.


Tidak jauh dari mereka, ada Baron dan Pak Anang yang akan menjadi saksi untuk pernikahan tersebut. Sedangkan Rai sendiri duduk menyendiri dari kerumunan semua orang. Dia merasa tidak pantas bergabung dengan keluarga terpandang itu, apalagi setelah mengingat kejadian tadi.


"Bagaimana, bisa kita mulai?" tanya penghulu.


"Iya, silahkan!" jawab Aksa cepat. Dia sudah tidak sabar ingin memiliki Inara seutuhnya.


Sesuai arahan dari penghulu, Hendru dan Aksa pun berjabat tangan. Hendru mengucap ijab dengan jelas dan lantang, Aksa pun menjawabnya dengan suara tak kalah lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Inara Putri Prasetio binti Hendru Prasetio dengan mas kawin tersebut, tunaiiii..."


"Sah..."


"Sah..."


Baron dan Pak Anang mengucap kata sah dengan lantang, yang lain mengikutinya bersamaan.


Sontak Aksa mengusap wajah dan menghela nafas berat, dia tidak menyangka bisa selancar itu tanpa terpeleset sedikitpun.


Setelah kata sah berkumandang, penghulu segera memimpin doa. Setelah itu Aksa menyerahkan mahar dan memakaikan cincin kawin di jari manis Inara, Inara pun melakukan hal yang sama.


Lanjut Inara mencium tangan Aksa dan Aksa pun mengecup kening Inara. Saat bibir Aksa hendak turun, Arhan dengan sigap menarik jas putranya. Aksa tidak jadi mengecup bibir istri yang baru saja sah menjadi miliknya itu.

__ADS_1


"Sabar," gumam Arhan.


Aksa mengulum senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Lagi-lagi dia terlihat seperti orang bodoh di hadapan semua orang.


"Hahahaha..."


Tawa semua orang menggelegar memenuhi seisi ruangan.


Setelah menandatangani surat nikah dan mendapatkannya. Penghulu meninggalkan unit tersebut, Pak Anang mengantarnya pulang.


Acara berlanjut dengan sungkeman kepada orang tua mereka, lalu foto bersama dan berakhir dengan acara makan-makan keluarga.


"Selamat ya, semoga kalian berdua bahagia selalu." ucap Rai pada Aksa dan Inara. Rai memeluk Aksa dengan tatapan sendu, lalu menjabat tangan Inara.


"Terima kasih Rai," sahut Aksa dan Inara bersamaan.


Saat yang lain tengah asik mengucapkan selamat pada Aksa dan Inara, Rai berjalan menuju meja sofa. Dia meletakkan kunci mobil Aksa di sana lalu memilih pergi meninggalkan unit tersebut.


Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa selain kacung yang harus setia mengikuti perintah Aksa. Selama ini mungkin dia terlalu percaya diri, tapi akhirnya mimpi itu sirna sebelum memulainya.


"Aksa, Rai mana? Kenapa tidak ikut makan bersama kita?" tanya Arhan saat semua orang tengah asik menyantap makanan mereka.


"Kak, apa Rai sedang ada masalah? Tadi saat mengucapkan selamat pada kita, wajahnya terlihat sedih begitu. Seperti ingin menangis tapi tertahan," timpal Inara.


"Masa' sih?" Aksa menyipitkan mata.


"Iya, menurut aku begitu. Wajahnya nampak sendu," imbuh Inara.


"Kakak tidak tau, tapi akhir-akhir ini dia memang terlihat aneh. Bertanya pun suka berandai-andai, mungkin-" Aksa menghentikan ucapannya, matanya tertuju pada Avika yang tengah asik mengacak-ngacak makanannya.


Aksa sedikit curiga, sepertinya kepergian Rai ada kaitannya dengan Avika.


"Aryan..." panggil Aksa.


"Iya Kak," sahut Aryan. Dia memutar leher menghadap Aksa.


"Tolong cari Kak Rai ke bawah!" titah Aksa.


"Oke," Setelah mengatakan itu, Aryan dengan cepat meninggalkan unit tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di pintu masuk bangunan itu, Aryan menangkap punggung Rai yang hendak masuk ke dalam taksi. "Kak Rai..." sorak Aryan.


Rai menoleh ke arah sumber suara tapi tidak mempedulikannya. Dia lekas masuk ke dalam taksi dan meminta sang sopir melajukan nya.


"Kak Rai, tunggu!" teriak Aryan sambil berlari mengejar taksi, sayang Aryan tidak bisa menghentikannya.


Dengan langkah gontai Aryan kembali masuk ke dalam bangunan. Dia menekuk wajah saat memasuki unit milik Aksa.


"Kak Rai pergi," lirih Aryan.


"Pergi kemana?" tanya Aksa mengerutkan kening.


"Entahlah, dia baru saja menaiki taksi. Aku sudah mencegahnya tapi dia sama sekali tidak peduli." imbuh Aryan.


"Aneh," Lagi-lagi Aksa mengerutkan kening dengan mata sedikit menyipit.


"Biarkan saja, mungkin dia ada urusan." ucap Arhan.


"Urusan apa Pa? Kenapa harus naik taksi segala? Aksa sudah memberinya mobil," tanya Aksa.


"Siapa tau lagi janjian sama pacarnya," tebak Baron.


"Rai tidak punya pacar Om," jelas Aksa.


"Loh, ini kunci mobilnya di sini." sambung Aina yang tak sengaja melihat sebuah kunci mobil di atas meja.


"Deg!"


Aksa tersentak kaget, kalau seperti ini berarti Rai ingin pergi tanpa sepengetahuan dirinya. Aksa segera merogoh kantong celana dan mengeluarkan iPhone miliknya. Sayang panggilannya tidak diangkat sama sekali.


Setengah jam berlalu, Rai turun dari taksi dan meminta sang sopir menunggunya. Rai kemudian masuk ke kediaman Airlangga, lalu dengan sigap memberesi pakaian dan barang-barang penting miliknya.


Setelah semua beres, Rai keluar meninggalkan gerbang dan masuk ke dalam taksi. "Jalan Pak!" pinta Rai dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Rai tidak bisa lagi tinggal di rumah itu. Selain malu, dia juga merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat pada Avika. Rai tidak ingin berharap lagi, begini saja sudah membuatnya terluka. Bagaimana jika Avika menolaknya secara terang-terangan? Pasti rasanya lebih sakit lagi dari ini.


Rai juga tidak ingin persahabatannya dengan Aksa hancur gara-gara perasaan yang tidak bisa dia kendalikan. Biar dia saja yang mengalah dan menjauh dari hidup Avika. Mungkin mereka berdua tidak berjodoh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2