
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, motor yang dikendarai Aksa masuk ke gerbang kediaman mewah Airlangga. Inara menautkan alis saat motor itu terparkir di depan rumah.
"Kenapa pulang? Aku tidak mau bertemu Bunda dan Ayah," ketus Inara.
"Sssttt... Jangan ngomong begitu, kita harus berani menghadapi ini. Kamu percaya kan sama Kakak?" bujuk Aksa.
"Tapi Kak-"
"Kalau kamu benar-benar sayang sama Kakak, tolong nurut! Kakak akan memperjuangkan kamu semampu Kakak. Kalau mereka masih tidak setuju, kita kawin lari saja." seloroh Aksa menahan tawa.
"Apaan sih Kak? Emangnya bisa kawin sambil lari?" Inara mendengus kesal.
"Mau dipraktekkan dulu?" goda Aksa.
"Dasar Tuan mesum," Inara meloncat turun dari motor. Aksa ikut turun dan menggenggam tangan Inara dengan erat, lalu keduanya masuk ke dalam rumah.
Saat tiba di ruang tengah, langkah keduanya terhenti tiba-tiba. Ternyata ada tamu yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Nah, ini orangnya sudah pulang." ucap Hendru begitu melihat kedatangan Inara dan Aksa.
"Inara, kemari sayang! Duduk di sini dulu sama Bunda!" panggil Nayla.
Inara terperanjat, dia mundur satu langkah dan bersembunyi di balik tubuh Aksa. Air muka yang tadinya cerah seketika menggelap saat menangkap keberadaan pria asing dan kedua orang tuanya.
Aksa yang melihat itu nampak marah dengan tatapan tajam seperti mata elang. Dia mengeratkan rahang dan menarik tangan Inara ke dalam dekapannya.
"Apa-apaan ini? Siapa mereka?" seru Aksa meninggikan suara.
"Aksa, tolong jaga sikap kamu Nak!" kesal Aina.
"Aksa nanya Ma, siapa mereka?" Tanpa mempedulikan ucapan Aina, Aksa kembali meninggikan suara.
"Aksa, tolong duduk dulu!" Papa-"
"Pa, Aksa tidak ingin berbelit-belit. Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan Aksa? Siapa mereka? Apa tujuan mereka datang ke sini?" cerca Aksa dengan berbagai macam pertanyaan, tatapannya sangat mematikan.
"Dia Erick, dan ini kedua orang tuanya." Hendru menimpali dan memperkenalkan mereka pada Aksa.
"Oh, jadi pria ini yang ingin Ayah jodohkan dengan Inara?" Aksa tersenyum sinis.
"Iya, kamu benar. Dia-"
"Tidak ada seorangpun yang boleh menikahi Inara selain Aksa, termasuk pria itu." tegas Aksa penuh penekanan. Dia bahkan tidak mau mendengar penjelasan Hendru.
"Aksa, apa yang kamu bicarakan?" Nayla ikut menimpali.
"Sudah jelas Bunda, Aksa bilang tidak seorangpun boleh menikahi Inara. Inara milik Aksa, Inara hanya akan menikah dengan Aksa." tekan Aksa penuh keyakinan.
"Kak..." lirih Inara ketakutan.
__ADS_1
"Sssttt... Kamu diam saja, biar Kakak yang bicara!" Aksa mempererat pelukannya.
"Aksa, kamu jangan main-main! Ini-"
"Aksa tidak pernah main-main Bun. Kalian semua tau betul bagaimana sikap Aksa selama ini." Aksa lagi-lagi tak membiarkan siapapun berbicara.
"Dan kalian bertiga, silahkan tinggalkan rumah ini! Perjodohan ini tidak akan pernah terjadi," terang Aksa sembari mengepalkan tangan.
"Cukup Aksa! Kamu-"
"Maaf, sepertinya kami harus permisi dulu. Silahkan selesaikan masalah keluarga kalian terlebih dahulu." Pak Eko bangkit dari duduknya dan menarik tangan anak serta istrinya.
"Tunggu Pak Eko!" seru Hendru.
"Maaf Pak Hendru, kami pulang dulu." Mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah itu.
Setelah kepergian ketiga orang itu, Hendru bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Inara yang masih berada di pelukan Aksa. Sorot matanya terlihat tajam dan mematikan.
"Sini kamu!" Hendru hendak menarik tangan Inara, tapi Aksa dengan cepat menepisnya.
"Jangan sekali-sekali Ayah berani menyakiti Inara. Aksa tidak akan tinggal diam meski Ayah adalah orang tua kandung Inara." bentak Aksa.
"Aksa cukup, kamu-" Ucapan Aina tiba-tiba terhenti saat Arhan menggenggam tangannya.
"Biarkan saja!" ucap Arhan.
"Tapi Bang-"
"Arhan benar, kita liat saja bagaimana anak itu menentang keputusan calon mertuanya." timpal Baron.
Mau tidak mau Aina akhirnya menurut dan diam seribu bahasa.
"Aksa, Ayah mohon tolong lepaskan Inara. Hubungan kalian ini tidak benar Nak," bujuk Hendru.
"Dimana letak tidak benarnya Yah? Apa yang salah dengan hubungan kami? Kalian semua juga tidak ada yang menikah dalam perjodohan, kenapa Inara harus dijodohkan? Dia juga punya hati dan perasaan. Apa Ayah pernah menanyakan ini pada Inara sebelumnya? Apa Ayah pernah tau apa yang diinginkan Inara?" tegas Aksa penuh penekanan.
Hendru tiba-tiba terdiam mendengar itu. Benar, dia tidak pernah bertanya dan tidak tau apa yang diinginkan Inara.
"Kalau begitu katakan pada Ayah! Apa yang kamu inginkan?" Hendru melunak dan menatap Inara dengan sendu. Dia sebenarnya tidak tega melihat Inara yang tak henti menangis dari tadi.
Inara tak menyahut, dia hanya diam dan terus menangis di pelukan Aksa.
"Sudah, jangan menangis lagi!" Aksa menekuk kepala dan menyeka wajah Inara dengan tangannya.
"A-Aku..." Inara terisak, dadanya sesak untuk berucap. Bahkan untuk mengeluarkan satu kata saja rasanya begitu sulit.
"Inara, kamu jangan kelewatan! Dari sekian banyaknya pria di dunia ini, kenapa harus menggoda Aksa? Dia kakakmu Inara, apa kamu sudah gila?" hardik Nayla.
"Cukup Bunda, jangan menyalahkan Inara terus! Kalau Bunda mau marah, marahlah pada Aksa! Aksa yang salah, Aksa yang menjebak Inara dalam perasaan ini." jelas Aksa.
__ADS_1
"Kamu jangan membela Inara terus, dia bisa besar kepala." balas Nayla.
"Aksa tidak membela siapa-siapa Bun, yang Aksa katakan ini fakta. Aksa yang bersalah atas perasaan ini." Aksa mengusap wajah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Sekali ini saja tolong mengertilah! Aksa mencintai Inara, Aksa sangat mencintai putri Bunda. Kenapa kalian semua tidak bisa memahami ini? Apa yang salah dengan perasaan kami?"
Mendadak air mata Aksa jatuh di sudut matanya. Dia terduduk lesu membawa Inara yang masih memeluknya dengan erat.
"Aaaaa..." Inara berteriak saat tubuhnya ikut tersungkur bersama Aksa.
"Cukup Kak, sudah cukup menjelaskan ini pada mereka. Mereka tidak akan mengerti. Tolong bawa aku pergi dari sini, bawa aku kemanapun Kakak mau. Kembali ke Seoul juga tidak apa-apa, aku tidak ingin tinggal di rumah ini lagi." isak Inara berderai air mata.
Aksa menangkup tangannya di pipi Inara. "Kamu yakin ingin ikut bersama Kakak?"
"Iya, aku akan ikut kemanapun Kakak pergi. Aku tidak mau dijodohkan, aku mencintai Kak Aksa. Aku hanya ingin menikah dengan Kakak." angguk Inara.
"Deg!"
Semua orang terperanjat kaget. Tak ada yang menyangka bahwa cinta keduanya begitu besar. Inara bahkan rela meninggalkan kedua orang tuanya demi Aksa.
Sementara Arhan sendiri hanya tersenyum mendengar itu.
"Kalau begitu kalian pergilah, kembali ke Seoul dan menikahlah di sana. Papa merestui kalian," seru Arhan.
"Om juga merestui kalian, pergilah jika itu yang terbaik!" sambung Baron.
"Jika memang kalian berdua saling mencintai, Mama juga merestui kalian." tambah Aina.
"Tante juga, semoga kalian bahagia." Inda ikut menimpali.
Hendru dan Nayla saling melirik satu sama lain. Mereka terdiam mendengar semua orang yang sudah memberikan restunya untuk Aksa dan Inara.
Aksa bangkit dari duduknya dan mengangkat lengan Inara, lalu memeluknya dengan erat. "Kalau begitu kami pamit, maaf kalau kami sudah mengecewakan kalian semua."
Setelah mengatakan itu, keduanya melangkah meninggalkan ruang tengah.
"Mas, hentikan mereka!" sorak Nayla.
"Bagaimana cara menghentikannya? Aku sudah gagal menjadi seorang Ayah." lirih Hendru menahan tangisannya agar tidak jatuh.
"Aksa, Inara, tunggu!" Nayla berhamburan menyusul keduanya yang sudah naik ke atas motor.
"Sayang, tolong jangan pergi!" lirih Nayla berderai air mata.
"Maaf Bunda, Inara tidak bisa tinggal di sini lagi. Inara mencintai Kak Aksa, Inara tidak mau kehilangan cinta Inara. Biarkan kami pergi!" isak Inara, dia membuang pandangannya ke arah lain.
"Iya sayang, Bunda merestui kalian. Tolong jangan pergi, jangan tinggalin Bunda ya Nak!" pinta Nayla memohon.
"Percuma Bunda. Ayah tidak merestui kami, lalu untuk apa kami di sini?" sambung Aksa.
__ADS_1
"Siapa bilang Ayah tidak merestui kalian?" Tiba-tiba suara Hendru menggelegar dari balik pintu. Nayla, Inara dan Aksa membuka mata lebar-lebar.
Bersambung...