
Setelah Aksa, Rai dan Baron menyelesaikan sarapan, ketiganya berpamitan kepada istri masing-masing dan bergegas meninggalkan rumah. Begitu juga dengan Tobi yang sejak tadi sudah lebih dulu pamit pada istri bisu nya yang bernama Sarah.
Mereka semua berbagi menjadi dua mobil. Aksa, Rai dan Andi masuk ke mobil yang sama sementara Baron, Tobi dan Dori masuk ke mobil satunya lagi. Dua mobil itu meninggalkan gerbang beriringan.
Di tengah perjalanan, Aksa mendapat pesan misterius dari nomor tak dikenal. Sebuah lambang kebesaran Onix terpampang jelas di sana.
Setelah membaca pesan itu, mau tidak mau Aksa terpaksa meminta Rai meminggirkan mobil yang dikendarainya, lalu menyuruh Rai dan Andi pindah ke mobil Baron yang ikut berhenti di belakang.
Sesuai permintaan pengirim pesan misterius itu, hanya Aksa yang diizinkan untuk datang. Jika berani membawa pasukan, itu artinya Dara hanya akan tinggal nama. Mereka juga mengirimkan foto terkini Dara yang dalam keadaan tak sadarkan diri dengan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
Saat melihat foto itu, seketika darah Aksa mendidih hingga ubun-ubun. Tidak seharusnya mereka menyakiti gadis tak berdosa itu sampai segitunya.
Seakan tengah membangunkan macan yang tengah kelaparan, mata Aksa tiba-tiba memerah dengan tangan mengepal erat. Urat-urat di tangannya menonjol hingga berderit tepat di lengannya.
"Jangan ada seorangpun yang mengikutiku!" tegas Aksa penuh penekanan.
Setelah berpindah ke bangku kemudi, mobil itu melesat pergi bak angin ****** beliung. Hitungan detik saja mobil itu sudah menghilang dari pandangan semua orang.
...****************...
"Siapa kalian? Tolong lepaskan aku!" lirih Dara sesaat setelah tersadar dari pingsannya. Tangannya terasa pegal, begitu juga dengan kakinya yang tiba-tiba tidak bisa digerakkan.
Saat Dara mencoba menarik tangan, terdengar suara rantai yang berderit. Terasa perih akibat gesekan besi yang melingkar di pergelangan tangannya. Bercak kemerahan timbul mengandung darah yang keluar dari pori-pori.
"Siapapun kalian, tolong lepaskan aku! Apa salahku pada kalian semua?" desis Dara dengan tatapan mengabur. Cairan bening menggenang di kelopak matanya.
Entah dosa apa yang sudah dia perbuat sehingga manusia kejam itu tega menyiksanya seperti seekor binatang. Dimana mata hati mereka? Tidak bisakah mereka sedikit berbelas kasih pada wanita tak berdaya sepertinya?
"Diam, tidak usah banyak bicara!" hardik seorang pria bertubuh tinggi besar, sorot matanya menakutkan, Dara tidak berani menatapnya.
"Kenapa harus diam? Apa yang kalian inginkan dariku? Jika kalian menginginkan kematianku, kenapa tidak kalian bunuh saja aku sekalian? Kenapa malah menyiksaku?" cerca Dara dengan sederet pertanyaan yang membuat para penjahat itu meradang.
"Plaak!"
"Aaaaaaaah..."
Sebuah cambukan mendarat di lengan Dara. Dia menjerit merasakan sakit yang teramat sangat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Tidak hanya sekali, mereka melakukannya berulang kali hingga suara Dara tak terdengar lagi di telinga. Dunia tiba-tiba gelap, bumi seakan runtuh menimpa tubuh ringkih nya yang sudah tak berdaya.
"Ma..." gumam Dara sesaat setelah mata almond nya tertutup. Mungkin sudah waktunya Dara kembali, tiada siapa yang dapat membantunya terlepas dari penderitaan ini.
Rasanya sekujur tubuh Dara hancur lebur tak bersisa, tulang-tulangnya rontok dan berpisah dari sendi. Bahkan untuk membuka mata saja dia tidak sanggup.
Setelah satu jam, mobil yang dikendarai Aksa tiba di depan sebuah gedung tua yang terbengkalai. Segera Aksa turun dengan tangan kosong sesuai permintaan musuh.
Saat memasuki tempat seram itu, sarang laba-laba membuat pandangan Aksa terganggu. Dengan susah payah dia menyingkirkannya sembari terus melangkah menuju bagian belakang.
Derap langkah kaki Aksa diiringi derit kayu-kayu lapuk yang terinjak olehnya.
Tanpa Aksa ketahui, Aryan tiba-tiba keluar dari bagasi mobil. Ternyata sejak Aksa sarapan tadi, dia sudah mengendap masuk ke dalam bagasi lebih dulu.
Aryan tidak bisa tinggal diam, kali ini dia harus menyelamatkan Dara untuk menebus kesalahannya. Dia bahkan tidak takut mati asal Dara bisa kembali pulang.
Sebelum menyusul masuk, Aryan membuka pintu depan mobil dan mengambil revolver milik Aksa yang tersimpan di dalam laci dashboard. Tak lupa pula dia mengambil peluru cadangan untuk berjaga-jaga.
Entah keberanian dari mana, yang jelas Aryan hanya ingin memastikan keselamatan Dara. Bagaimana kalau ternyata istrinya tengah mengandung? Dia tidak ingin mereka berdua celaka, mereka berhak hidup meski Aryan sendiri yang harus mengorbankan nyawanya.
Setelah menyelipkan revolver itu di pinggang celananya, Aryan bergegas memasuki gedung tua itu.
__ADS_1
"Hahaha... Bagus, begini dong. Ini baru namanya bos muda Alliance, pemberani dan tidak takut mati." tawa seorang pria bertubuh tinggi besar pecah saat menangkap kedatangan Aksa. Pria yang tadi mencambuk Dara hingga tak berdaya.
"Aku sudah di sini, kalau begitu lepaskan dia!" ucap Aksa enteng, lalu menekuk kakinya di sebuah kursi kayu dan menyilangkan nya tanpa gentar sedikitpun.
"Kenapa buru-buru bos? Kami belum puas bermain-main dengannya," seru pria itu.
"Cukup bermain dengannya, sekarang lebih baik bermain denganku. Aku ingin melihat sebatas mana kemampuan kalian semua," Aksa tersenyum lebar seakan yang tengah dia hadapi hanyalah segerombolan banci.
"Jangan sombong, kau belum tau apa yang bisa kami lakukan pada wanita ini!" kesal pria lainnya.
"Percuma menyakiti seorang wanita, itu tidak mencerminkan sikap laki-laki sejati, lebih baik hadapi aku. Lagian untuk apa menyiksa wanita yang sudah lemah seperti itu? Sebentar lagi juga mati," ucap Aksa santai seakan nyawa Dara tak berharga di matanya.
"Banyak bacot," seorang pria berlari dan melayangkan kakinya ke wajah Aksa.
"Bug!"
"Aaaaah..."
Jeritan pria itu melengking merusak gendang telinga saat Aksa menangkap kakinya dan memutarnya ke belakang. Bunyi tulang patah terdengar jelas di telinga.
"Kenapa? Sakit?" Aksa tersenyum mengejek dan semakin menekan kuat kaki pria itu.
"Lepaskan dia, atau aku akan menembak kepalamu!" pria lainnya menodongkan senjara ke arah Aksa.
"Ya sudah, tembak saja! Kenapa pakai acara tawar menawar segala?" tantang Aksa tanpa takut sedikitpun.
"Sombong sekali kau," bentak pria itu.
"Dor..."
Belum sempat pria itu menarik pelatuk, dia sudah tersungkur duluan bersimbah darah saat sebuah peluru bersarang di dadanya.
Sontak Aksa terperanjat dan memutar leher ke arah belakang, tapi tak menemukan siapa-siapa di sana.
"Aaaaaah..."
Lagi-lagi Aksa memutar leher ke belakang. Siapa yang melakukan itu? Bukankah dia sudah melarang yang lainnya untuk ikut?
Saat Aksa tengah terpaku dalam kebingungan, sebuah ujung revolver tiba-tiba menempel di dahinya. Dengan spontan Aksa mengangkat kedua tangan dan memutar leher perlahan.
"Nampaknya kau sudah tidak sabar untuk berakhir. Baiklah, akan aku kabulkan."
"Bug!"
Saat pria itu menarik pelatuk, tinju Aksa lebih dulu mendarat di hidungnya. Darah segar mengalir hingga menempel di punggung tangan Aksa.
"Dor..."
Pria itu menembak dada Aksa, beruntung Aksa dengan cepat menghindar dan bersembunyi di balik kursi tua.
"Dor Dor Dor..."
Tembakan beruntun dihujankan dua orang penjahat ke arah kursi tempat Aksa menyembunyikan diri, sayang salah satunya tak sengaja mengenai lengan Aksa. Aksa terperangah dan menekan lengannya dengan kuat.
Tidak apa, ini hanya luka kecil. Rasanya tidak lebih dari gigitan semut nakal.
Aryan yang melihat itu akhirnya keluar dari persembunyiannya. Dia tidak mungkin diam saja saat sang kakak terluka.
"Kak Aksa..." desis Aryan. Dia pun melemparkan revolver yang dia genggam ke kaki Aksa. Setidaknya Aksa bisa melawan jika ada senjata di tangannya.
__ADS_1
Sontak Aksa melongo, jadi tembakan tadi ulah adiknya. Bodoh sekali dia karena tidak menyadari kedatangan Aryan. Tapi dari mana pria ingusan itu muncul?
Saat Aksa tengah larut dalam lamunan singkatnya, kembali penjahat itu menembaki sandaran kursi.
"Dor Dor Dor..."
Seketika Aksa tersentak dan berguling ke tempat yang lebih aman. Aksa sengaja menjauh untuk mengalihkan perhatian penjahat itu.
Benar saja, mereka mengikuti pergerakan Aksa ke arah depan sehingga tak seorangpun yang menjaga Dara.
"Dor Dor..."
"Dor Dor..."
Baku tembak pun tak bisa dihindarkan. Aksa berusaha keras mempertahankan diri meski sebelah lengannya mulai mati rasa.
Disaat itu juga Aryan berlari menyelamatkan Dara.
Dengan segala cara dan upaya dia mencoba melepaskan rantai yang melingkar di tangan dan kaki istrinya. Air matanya tak terbendung menyaksikan ketidakberdayaan Dara. Bahkan hampir seluruh kulitnya meninggalkan bekas cambukan yang sudah membiru.
"Maafkan aku, maaf." lirih Aryan penuh penyesalan. Sungguh tak terkira betapa sakitnya yang dirasakan Dara saat ini. Meski matanya terbuka tapi dia tidak memiliki kekuatan untuk bicara.
Aryan plangak plongok mencari benda apa saja yang bisa dia gunakan untuk membuka rantai besi yang menyakiti istrinya. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah kapak dan lekas mengambilnya.
Dengan benda itulah dia menghancurkan gembok besi yang terpasang pada rantai kapal itu.
"Sayang, bicaralah! Ini aku," ucap Aryan sesaat setelah rantai itu terlepas dari tangan dan kaki istrinya. Dia menepuk-nepuk pipi Dara dan mendekapnya erat.
"Aryan..." gumam Dara dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Iya sayang, ini aku Aryan. Kamu harus kuat ya, jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu. Aku minta maaf, aku menyesal meninggalkan kamu sendirian. Maaf..." sesal Aryan terisak dan mempererat pelukannya.
Tidak lama berselang, terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka.
"Anak sialan, mampus kalian!"
"Dor Dor..."
"Aaaaaaah..."
Teriakan Aryan pecah memenuhi seisi gedung tua itu. Dua peluru yang tadinya untuk mereka berdua, ternyata malah bersarang di dada Aryan, dia berhasil menghadangnya hingga Dara terselamatkan.
"Aryan..." pekik Dara saat tubuh suaminya terjatuh di lantai.
"Dor..." penembak itu pun ikut tersungkur saat peluru Aksa berhasil menembus kepalanya.
"Aryan... Apa yang kamu lakukan?" tangisan Dara pecah melihat dua bekas tembakan di dada suaminya.
"Ja-Jangan me-menangis, a-aku mohon!" Air mata Aryan jatuh berderai, dengan tangan gemetaran dia menangkup pipi Dara dan mengelusnya lembut. "Ma-Maaf a-atas se-semua ke-kesalahan yang su-sudah aku lakukan. A-Aku ci-cinta kamu..."
Setelah menyelesaikan ucapannya dengan bersusah payah, Aryan akhirnya menutup mata. Raungan Dara menggelegar menembus langit ke tujuh.
"Aryan..."
"Tidak Aryan..."
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!"
Aksa yang melihat itu tak sanggup menahan diri, air matanya mengucur deras menyaksikan tubuh adiknya yang sudah tak berdaya di pangkuan Dara.
__ADS_1
Apa Aryan-?
Tidak mungkin, apa yang harus dia katakan pada keluarganya?