
Gelap berganti terang. Dua sejoli itu masih terlelap dengan posisi saling memeluk berbagi kehangatan. Wajah Inara melekat di dada Aksa sementara tangannya melingkar erat di pinggang kakaknya itu. Aksa sendiri masih mendekap Inara layaknya guling.
Di bawah sana, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Hanya Inara dan Aksa saja yang belum turun.
"Sayang, Inara mana? Kok belum turun juga?" tanya Hendru pada Nayla. Air muka Hendru menggelap memikirkan kelakuan Inara yang menurutnya semakin membandel.
Beberapa waktu lalu Inara sudah meresahkan semua orang dengan menghilang tanpa kabar, kini gadis itu mulai berani pulang malam. Tentu saja Hendru tidak suka melihatnya, padahal kemarin pagi dia sudah berpesan agar Inara cepat pulang dan tidak keluyuran.
"Mungkin masih tidur Mas, aku lihat dulu ya." Nayla bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lift.
"Nay, sekalian bangunin Aksa ya." sorak Aina.
"Iya," angguk Nayla, lalu dia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
Nayla mengomel dengan bibir komat kamit mengatakan sesuatu, tapi entah apa yang dia ucapkan.
Setelah keluar dari lift, Nayla langsung berjalan menuju kamar Inara. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi tak mendengar sahutan dari dalam sana. Tanpa pikir, Nayla langsung menekan kenop pintu dan mendorongnya, dia melangkah masuk mencari keberadaan putri semata wayangnya itu.
"Inara, kamu dimana sayang? Ayah nyuruh Bunda manggil kamu, ayo cepat turun!" sorak Nayla. Dia menyisir setiap sudut kamar, tapi tak melihat Inara di mana-mana. Bahkan kamar mandi pun kosong tak berpenghuni.
Nayla menautkan alis. Kemana Inara? Apa dia tidak pulang semalaman?
Tidak mungkin, Nayla tidak yakin putrinya bisa bertindak bodoh seperti itu. Inara bukan gadis liar yang suka keluyuran kemana-mana. Pikir Nayla mungkin Inara sudah turun melewati tangga, jadi bisa saja keduanya selisih jalan.
Karena tak menemukan Inara di kamar itu, Nayla akhirnya keluar. Dia kemudian berjalan menuju kamar Aksa.
Sesampainya di depan kamar Aksa, Nayla mendapati pintu dalam keadaan tertutup tapi tidak rapat. Nayla pikir Aksa sudah bangun, dia pun mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam sana.
"Deg!"
Seperti ditimpa reruntuhan bangunan, jantung Nayla berhenti berdetak untuk sesaat. Pemandangan yang dia tangkap membuat kakinya tiba-tiba lemah, mata membulat dan mulut menganga.
Syok, tentu saja. Beruntung jantung Nayla masih berfungsi dengan baik, jika tidak dia bisa terkena serangan jantung detik ini juga.
"Inara..." hardik Nayla. Dia mengitari ranjang dan menyentak tangan Inara dengan kasar. Seketika Inara terperanjat dan membuka mata perlahan.
"Bunda..." gumam Inara dengan mata separuh terbuka.
__ADS_1
"Plaaak!"
"Aww..."
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Inara. Saking kerasnya, Aksa yang masih tidur pun langsung terbangun dibuatnya.
Aksa terduduk dalam keadaan linglung. Dia memijat kepala yang masih terasa pusing sebab minuman semalam.
"Bunda, apa yang terjadi?" tanya Aksa kebingungan. Sementara Inara sendiri sudah menangis sambil memegang pipinya yang terasa kebas.
"Apa yang terjadi?" Nayla mengepalkan tangan dengan gigi menggertak kuat. Dia menyeret paksa Inara turun dari ranjang hingga tubuh ringkih itu tersungkur di lantai.
"Aww... Sakit Bunda," lirih Inara menahan sakit.
"Dasar anak tidak tau diri. Jadi begini kelakuanmu selama ini hah. Pantas saja kamu menghilang dari rumah ini, kamu ingin bebas dan menjadi wanita liar? Berani sekali kamu tidur dengan kakakmu sendiri." bentak Nayla, lalu menarik rambut Inara tanpa belas kasih sedikitpun.
Nayla merasa malu memiliki putri seperti Inara. Putri yang dia harapkan bisa jadi kebanggaan keluarga, ternyata tak lebih dari gadis murahan.
"Ampun Bunda, sakit." isak Inara. Dia memohon sambil menahan rambutnya. Cairan bening di sudut matanya terus mengalir tanpa henti.
"Bunda..." sorak Aksa meninggikan suara sesaat setelah kesadarannya kembali.
"Aksa, apa yang kamu lakukan? Jangan membela gadis tidak tau diri ini!" bentak Nayla menajamkan tatapan, suaranya menggelegar hingga terdengar sampai lantai bawah.
"Bang, di atas sepertinya ada keributan. Apa yang terjadi?" tanya Aina sambil menoleh ke arah tangga. Jarak pintu kamar Aksa dengan tangga memang sangat dekat, sebab itulah keributan itu terdengar jelas sampai sana.
Aina langsung bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Arhan dan Hendru.
"Baron, jaga anak-anak. Jangan sampai mereka naik ke atas!" titah Arhan. Baru saja Baron mengangguk, Arhan sudah berlari menaiki anak tangga.
"Cukup Bunda, jangan terus-terusan menyalahkan Inara!" Aksa yang sudah tersulut emosi tak sengaja membentak Nayla.
Aksa kemudian membawa Inara berdiri dan memeluknya dengan erat. Dia tidak terima gadis yang sangat dia cintai dihina, Aksa tidak akan diam saja meski yang melakukan itu ibu kandung Inara sendiri.
"Aksa, kamu berani membentak Bunda?" Nayla meremas dadanya yang tiba-tiba terasa ngilu.
"Maafkan Aksa Bun, Aksa tidak bermaksud membentak Bunda." Aksa menundukkan wajahnya sejenak. "Tolong hargai Inara, dengan begitu Aksa akan tetap menghargai Bunda!" Aksa mengusap pipi Inara yang menyisakan bekas jari, hatinya sakit melihat Inara terluka.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Suara Arhan tiba-tiba mengangetkan mereka bertiga. Sementara Aina dan Hendru bergeming melihat Inara yang terisak di pelukan Aksa.
"Inara, kamu kenapa Nak?" sambung Hendru.
Inara tak menyahut, dia terus saja menangis di dada Aksa.
"Mas..." Nayla berhamburan ke pelukan Hendru. Air matanya menetes mengingat kelakuan menjijikkan putri semata wayangnya itu.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Bicara sama Mas!" Hendru mengerutkan kening sambil mengusap kepala Nayla.
"Inara Mas, putrimu..." Nayla tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Inara kenapa? Tolong bicara yang jelas!" desak Hendru.
"Putrimu sudah membuatku malu, aku jijik melihatnya. Dia-"
"Cukup Bunda!" potong Aksa. Dia mengeratkan rahang dan menatap satu persatu dari mereka dengan tatapan mematikan.
"Aksa, jaga bicaramu!" timpal Aina yang tidak suka mendengar Aksa meninggikan suara pada Nayla.
"Sudah, tolong semuanya tenang! Jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin!" Arhan ikut menimpali.
Inara sudah tak sanggup lagi menahan diri, dia benar-benar malu di hadapan semua orang.
"Lepaskan aku Kak!" Inara mendorong dada Aksa sekuat tenaga. Saat pelukan Aksa terlepas, dia berlari meninggalkan semua orang dan terus berlari menuruni anak tangga.
"Inara tunggu!" sorak Aksa. Dia bergegas menyambar ponsel dan pakaian yang tergeletak di dasar lantai, lalu menyusul Inara tanpa mempedulikan keempat orang tua yang masih berdiri berdekatan.
"Aksa, kalian mau kemana?" teriak Aina, tapi sama sekali tidak diacuhkan oleh Aksa.
Inara memasuki mobil, dia duduk di bangku kemudi dan segera menyalakan mesin. Saat mobil itu hendak melaju, Aksa dengan sigap membuka pintu dan mendorong Inara. Aksa memepet Inara di sampingnya.
"Kak Aksa, biarkan aku sendiri!" lirih Inara yang terus saja menangis setelah berbagi bangku dengan Aksa.
"Tidak Inara. Kalau kamu pergi, Kakak juga pergi." Aksa mengangkat pinggang Inara dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Keduanya saling berhadap-hadapan. "Diam di sini!" Aksa mengusap kepala Inara dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Sekarang peluk Kakak, menangis saja di pundak Kakak jika kamu ingin menangis! Kita akan pergi jika itu yang kamu inginkan. Kakak janji tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian."
__ADS_1
Inara memeluk leher Aksa dengan erat, kepalanya bertumpu pada pundak Aksa bagian kiri. Aksa kemudian menginjak pedal gas dan melesat pergi meninggalkan kediaman Airlangga.
Bersambung...