
Pagi hari Aryan mendatangi kamar Inara dan meminta kakak iparnya itu mengganti perban di lengannya, setelah itu dia meninggalkan rumah tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia tidak ingin melihat wajah Dara, hal itu hanya akan menambah luka di hatinya.
Tidak lama setelah Aryan pergi, Dara keluar dari kamar dan turun menuju dapur. Melihat para ibu yang tengah asik berkutat dengan peralatan masak mereka, Dara pun mendekat dan berniat membantu tapi dia tidak tau cara menggunakan kompor gas dan peralatan masak yang mereka pakai.
"Tidak usah sayang, kamu duduk saja." ucap Aina dengan senyuman manis di wajahnya. Dia tau Dara kebingungan menyaksikan aktivitas rutin yang mereka lakukan setiap pagi.
Lalu Aina menarik kursi dan mendudukkan Dara di sana, dia juga menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dan menyuruh Dara meminumnya untuk menghangatkan perut.
Setelah Dara meminumnya, dia mematut wajah Aina dengan intens sembari bertanya. "Bukankah di rumah ini ada pelayan, kenapa Mama, Bunda dan Tante yang selalu menyiapkan makanan?"
Aina mengukir senyum manis. "Beginilah keluarga baru kamu, semua tidak harus dikerjakan oleh pelayan. Nanti kamu pasti mengerti setelah resmi menjadi istri Aryan."
Dara hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Aina. Apa iya dia akan mengerti? Bukankah dia tidak akan lama berada di rumah itu setelah membuat kesepakatan dengan Aryan? Air muka Dara seketika berubah gusar tapi dia berusaha terlihat santai.
Tidak lama, meja makan sudah dipenuhi oleh anggota keluarga yang siap menyantap sarapan pagi mereka. Dara membantu menata makanan di atas meja tapi tiba-tiba dia menyipitkan mata saat tak melihat Aryan di sana.
Kemana pria itu? Kenapa dia tidak bergabung untuk sarapan bersama? Apa dia masih marah atas ucapan Dara semalam? Sederet pertanyaan mulai bercakak di benak Dara.
"Loh, Aryan mana? Kok tidak turun?" tanya Aina setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing. Kening Aina mengernyit menanyakan itu.
"Sepertinya Tuan Aryan sudah pergi Nyonya, tadi aku mendengar suara motor dari dalam garasi." sahut Lola yang tak sengaja mendengar pertanyaan Aina.
"Tumben, ini masih pagi loh. Tidak mungkin dia ada kuliah sepagi ini?" Aina semakin bingung dan menilik manik mata Dara dengan intim. Gadis itu hanya menunduk, dia tidak tau harus berkata apa.
"Biarkan saja Tante, namanya juga anak muda. Siapa tau dia ada janji dengan teman atau pacarnya," Rai membuka suara, hanya dia yang tau bagaimana keadaan Aryan saat ini. Dia juga sengaja berkata seperti itu untuk melihat reaksi Dara, lebih tepatnya sengaja memanasi gadis itu.
__ADS_1
"Kami sebagai laki-laki terkadang terlalu berlebihan mencintai gadis yang kami inginkan, sayang mereka terlalu naif tanpa memikirkan perasaan kami. Kami juga punya hati dan kami juga bisa merasakan sakit." imbuh Rai.
Sontak Avika mengangkat kepala mendengar itu, manik matanya menajam seakan ingin membelah dunia. "Kamu menyindir ku?"
"Tidak, bukan salahku jika kamu merasa tersindir." jawab Rai enteng, lalu melanjutkan makannya.
"Sudah, benar kata Rai. Biarkan saja dia menenangkan diri terlebih dahulu. Sekarang makan saja, nanti keburu dingin!" timpal Arhan. Seketika suasana menjadi hening, tidak ada yang bersuara sampai makanan di piring mereka tandas.
Usai sarapan, Arhan dan Hendru pamit meninggalkan rumah. Senin ini ada rapat penting di perusahaan, mereka meminta Aksa dan Rai menyusul.
Sementara Baron sendiri mendapat tugas menemui WO untuk mengoreksi rencana sebelumnya sesuai kesepakatan mereka tadi malam.
Sedangkan Inara hari ini harus kembali kuliah setelah mengambil cuti beberapa hari, begitu juga dengan Avika yang hari ini mulai bekerja di kantor barunya.
"Om Tobi kenapa belum kembali juga ya? Bukankah Aksa sudah memberinya tugas untuk menjadi pengawal pribadi Avika?" Aksa bertanya dengan raut kebingungan.
Baron yang tadinya hendak bangkit tiba-tiba kembali duduk dan memutar lehernya menghadap Aksa. "Iya juga ya, Om sampai lupa sama dia."
Segera Baron merogoh kantong celananya, dia mengeluarkan telepon genggam miliknya dan lekas menghubungi Tobi. Sayang setelah mencoba memanggilnya beberapa kali, Tobi tak kunjung mengangkatnya padahal ponselnya dalam keadaan aktif.
"Tidak diangkat," gumam Baron lesu.
"Apa terjadi sesuatu?" Aksa mengerutkan kening, perasaannya tiba-tiba gelisah.
"Om juga tidak tau." Baron menggeleng. "Rai, coba lacak keberadaan Om Tobi. Nanti share ke Om ya!" pinta Baron.
__ADS_1
"Baik Om," angguk Rai cepat.
"Ya sudah, sekarang Avika menjadi tanggung jawabmu Rai. Antar dan jemput dia dari kantor!" titah Aksa penuh penekanan.
Tentu saja Rai dengan senang hati menerima tawaran Aksa itu. Memang itulah yang dia inginkan agar waktunya semakin banyak dengan gadis pujaannya.
Lalu mereka berempat pamit meninggalkan rumah. Aksa bersama Inara di dalam satu mobil, sedangkan Rai dan Avika berangkat dengan mobil lainnya. Baron pun ikut pamit untuk menyelesaikan tugasnya.
...****************...
"Maaf, aku terpaksa membawamu kembali. Kamu tidak aman di sini," ucap Tobi dengan nafas tersengal. Tubuhnya mengalami luka yang cukup serius setelah baku hantam dengan beberapa preman suruhan Tasya.
Beruntung mereka berdua bisa melarikan diri dan bersembunyi di sebuah rumah kosong.
Saat sampai di desa kelahiran gadis bisu itu, kedatangan mereka sudah dinanti oleh segerombolan anak buah Tasya yang ingin melenyapkan gadis bodoh itu.
Kemarahan Tasya meradang saat tau bahwa gadis itu tidak menjalankan perintahnya dengan baik. Disuruh mengaku sebagai gadis yang dinodai Aryan, dia malah berkata jujur.
Namun sayang keberadaan Tobi dan gadis bisu itu malah diketahui oleh warga sekitar yang berpikir bahwa mereka berdua adalah pasangan kumpul kebo dan sengaja mencari tempat kosong untuk melayangkan aksi mesum mereka.
Untuk menyelamatkan gadis bisu itu dari amukan warga, Tobi terpaksa menikahinya saat ini juga. Padahal kalau diperhatikan dengan seksama, gadis bisu itu lebih cocok dijadikan anak olehnya.
Setelah pernikahan itu selesai dilangsungkan, Tobi meminta bantuan kepada para warga untuk membawa mereka ke rumah gadis itu. Mobil dan ponselnya tertinggal di sana.
Tidak ada pilihan lain untuk menghindar dari kejaran musuh. Tobi hanya sendiri, dia tidak akan sanggup menghadapi sepuluh orang sekaligus apalagi dalam keadaan terluka seperti saat ini. Kehadiran para warga tentu saja bisa membantu mereka lepas untuk sementara waktu.
__ADS_1
Setelah mereka berdua memasuki mobil, Tobi mengucapkan terima kasih kepada warga. Dia juga berjanji akan menjaga gadis itu layaknya seorang istri, bagaimanapun mereka berdua sudah menikah meski hanya secara siri.
Tidak lama, Tobi pun melajukan mobil itu meski sedikit mengalami kesulitan. Setidaknya sampai mereka mencapai kota dan memasuki keramaian. Tobi tidak ingin mereka tertangkap, gadis itu akan berakhir jika hal itu sampai terjadi. Mulai hari ini gadis itu sudah menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya.