Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 36.


__ADS_3

Hari ini hari pertama Inara kembali ke kampus setelah menyelesaikan magang. Pagi-pagi sekali Inara sudah bangun dan selesai merapikan kamar.


Sejak merasakan hidup berjauhan dengan keluarga, Inara menjadi semakin mandiri dan tidak pernah canggung melakukan pekerjaan rumah.


Sebelum mandi, dia menyempatkan diri turun ke bawah membantu Inda menyiapkan sarapan pagi.


Selesai membantu Inda, Inara kembali ke kamar. Mandi dan bersiap-siap di depan meja rias memoles wajah dengan riasan seadanya.


Pagi ini Inara nampak begitu cantik dengan balutan kemeja panjang kotak berwarna putih navy dan celana jeans berwarna dark blue, rambut di kuncir seperti ekor kuda dan melepas beberapa helai di bagian depan.


Tepat pukul delapan, Inara turun ke bawah dengan tas selempang yang menggantung di pundak dan mengenakan sneakers putih. Dia menggenggam beberapa map di tangan.


"Pagi semuanya," sapa Inara pada semua orang yang sudah duduk di meja makan, namun tak terlihat Aksa di sana.


Apa Aksa tidak ikut sarapan? Atau mungkin dia sudah berangkat ke kantor duluan?


Semalam Aksa dan Inara sudah berdamai satu sama lain. Aksa berjanji akan menjadi kakak yang baik untuk Inara, dia juga berjanji tidak akan galak lagi seperti biasa. Inara pun memberinya kesempatan.


Inara juga minta tolong agar Aksa mau membantunya mencari keberadaan Akbar, mau tidak mau Aksa terpaksa mengiyakannya untuk mengambil hati Inara. Padahal jelas sosok Akbar ada di hadapannya bahkan tengah memeluknya tapi Inara masih belum menyadarinya.


"Pagi semua," sapa Aksa yang baru saja turun dari lantai atas. Terlihat sangat tampan mengenakan setelan jas berwarna light blue dan kemeja putih di dalamnya, semakin kece dengan sepatu pantofel berwarna hitam.


"Pagi sayang, duduklah!" sahut Aina sambil menarik kursi di sebelahnya.


Bukannya langsung duduk, Aksa malah menarik kursi yang ada di sebelahnya lagi. "Ayo Inara, duduk di sini!" ucap Aksa.


"I-Iya Kak," sahut Inara terbata, lalu keduanya duduk bersamaan.


Setelah semua berkumpul, Aina mulai mengisi piring Arhan dengan makanan. Yang lain mengikuti setelah itu.


"Kak Inara, kamu mau ke kampus kan? Bareng aku saja, aku ada kuliah pagi hari ini!" ajak Aryan.


"Malas ah, masa' sudah rapi begini diajakin naik motor? Aku bareng Papa sama Ayah saja," tolak Inara.


"Ya sudah kalau gak mau," Aryan memakan sepotong roti untuk mengganjal perut, kemudian pamit dan meninggalkan rumah lebih dulu. Sebuah sepeda motor Energica Ego 45 keluar dari garasi dan melesat meninggalkan gerbang.


Selepas kepergian Aryan, Aksa juga meninggalkan meja makan bersama Rai setelah berpamitan pada semua orang. Sebenarnya dia ingin Inara ikut bersamanya tapi dia sendiri tidak berani mengutarakan itu di hadapan semua orang. Gengsi, begitulah kira-kira.

__ADS_1


"Pujaan hatinya tidak diajak sekalian?" seloroh Rai saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.


"Jangan banyak bacot, ayo jalan!" ketus Aksa dengan tatapan tajam.


Rai hanya tersenyum dan mulai melajukan mobil meninggalkan kediaman Airlangga.


Tidak lama, Arhan, Hendru dan Inara juga pamit dan masuk ke dalam mobil yang sama.


"Avika, apa rencana kamu setelah ini Nak? Kuliah sudah selesai, kamu tidak ada niat buat memulai bisnis bersama Papa?" tanya Aina pada putri semata wayangnya yang baru saja wisuda beberapa waktu yang lalu.


"Nanti dulu Ma, Avika masih ingin menikmati kebebasan ini. Lagian sudah ada Kak Aksa yang bantuin Papa di kantor. Avika mau jadi pengacara saja sesuai jurusan yang Avika ambil." jawab gadis lulusan sarjana hukum itu.


"Kamu yakin?" Aina menautkan alis.


"Yakin lah Ma. Kalau tidak, untuk apa Avika susah-susah ngambil jurusan itu?" jelas Avika.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Mama mendukung apapun keputusan kamu," balas Aina.


Setelah mengobrol cukup lama, Avika meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar. Tidur-tiduran, main gadget, makan, itulah kerjaannya sehari-hari sebelum mendaftarkan diri ke kantor advokat.


Baik Arhan, Aina maupun yang lain, tidak satupun dari mereka yang mengekang keinginan putra putri mereka. Jadi apapun boleh asal bisa bertanggung jawab atas pekerjaan yang mereka pilih.


...****************...


"Makasih ya Pa, Yah. Inara turun dulu," ucap Inara pada Arhan dan Hendru.


"Iya, kamu hati-hati ya Nak." sahut Arhan.


"Jangan keluyuran! Selesai kuliah langsung pulang!" sambung Hendru.


"Iya Pa, Yah." angguk Inara.


Setelah menyalami dan mencium punggung tangan kedua pria tampan itu, Inara turun dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil itu kembali melaju meninggalkan gerbang kampus.


Saat hendak memasuki gerbang, langkah Inara terhenti ketika mendengar suara Aksa memanggilnya.


"Inara..."

__ADS_1


Gadis itu berbalik dan tersenyum melihat Aksa yang tengah duduk di bangku kemudi.


Duduk di bangku kemudi?


Lalu dimana Rai? Bukankah tadi Aksa meninggalkan rumah bersama pria itu?


Ternyata beberapa menit yang lalu mobil Aksa menunggu di halte bus yang tak jauh dari kampus. Setelah mobil Arhan lewat, Aksa menurunkan Rai di sana dan menyuruhnya naik taksi ke kantor.


Kurang ajar bukan? Ya, sangat kurang ajar menurut Rai. Pria itu mengumpat kesal saat turun dari mobil. Ternyata cinta sudah membuat Aksa buta, bodoh dan tolol. Padahal baru beberapa menit saja tidak melihat Inara, tapi rasa rindunya sudah menggelora sampai-sampai otaknya tidak bisa berfungsi dengan normal.


"Kemarilah!" panggil Aksa sambil melayangkan tangan di udara.


Inara mengangguk lemah dan berjalan menghampiri mobil.


"Ayo masuk!" ajak Aksa sambil bergeser dari duduknya dan membukakan pintu untuk Inara.


"Kak, aku ada kuliah." sahut Inara yang masih mematung di sisi pintu.


"Masuk dulu sebentar!" desak Aksa.


"Tapi Kak-"


"Sebentar saja Inara, please!" Aksa memasang tampang memelas hingga membuat Inara tidak tega melihatnya. Mau tidak mau Inara akhirnya masuk dan menutup pintu. Aksa pun menaikkan kaca mobil.


"Kelasnya jam berapa?" tanya Aksa.


"Jam sepuluh Kak," jawab Inara.


Aksa mengangkat tangan dan melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang baru jam sembilan, masih ada waktu satu jam lagi. Ikut Kakak dulu ya!"


"Memangnya kita mau kemana, Kak?" Inara menautkan alis.


"Tidak kemana-mana, duduk di mobil saja." jawab Aksa.


"Ya sudah, kalau begitu di sini saja." sahut Inara.


Aksa memutar kepala dan menatap ke segala arah. Karena keadaan di sana cukup ramai, Aksa memajukan mobil itu beberapa meter. Sedikit menjauh dari orang-orang yang tengah berlalu lalang keluar masuk gerbang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2