
Avika membuka pintu toilet setelah membuang apa yang seharusnya dia buang. Saat melangkah keluar, Avika bergeming mendapati Rai yang tengah duduk di sofa dengan kaki menyilang dan tangan terbentang di kepala sofa. Kembali kegugupan Avika muncul, dia takut Rai bertindak kurang ajar pada dirinya.
"Permisi," Avika menundukkan kepala dan berjalan melewati Rai. Saat hendak membuka pintu, Rai bersuara yang membuat langkah Avika terhenti seketika.
"Mau kemana?" tanya Rai.
Avika menoleh. "Aku ke sini mau bertemu sama Kak Aksa. Karena Kak Aksa tidak ada, untuk apa lagi aku di sini?" jawab Avika.
"Kak Aksa sudah pulang, tadi Inara menelepon minta dijemput." jelas Rai.
"Oh, terima kasih. Kalau begitu aku pamit dulu, aku juga mau pulang." ucap Avika.
"Mau pulang bareng?" tawar Rai.
"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri." tolak Avika.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati."
Setelah mengatakan itu, Rai bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju pintu dan melewati Avika begitu saja.
Avika menyusul di belakang, mereka berdua masuk ke dalam lift yang sama karena keduanya sama-sama mau turun ke bawah.
Di dalam lift keduanya hanya diam, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan keduanya seperti tengah bermusuhan.
Setelah pintu lift terbuka, keduanya berjalan beriringan meninggalkan gedung. Rai berjalan menuju gerbang sementara Avika masuk ke parkiran mengambil mobil.
Tadi pagi Rai menumpang dengan mobil Arhan, sore ini Rai terpaksa pulang menggunakan taksi. Dia tidak mau merepotkan Arhan yang masih ada pekerjaan di dalam sana.
Saat mobil Avika keluar dari gerbang, matanya tak sengaja menangkap keberadaan Rai yang tengah berdiri di trotoar. Sepertinya Rai masih kesulitan menemukan taksi yang tidak kunjung lewat.
Avika merasa kasihan dan menepikan mobilnya tepat di depan Rai berdiri. Dia membuka kaca mobil bagian kiri dan mencondongkan tubuhnya membuka pintu. "Ayo masuk!" ajak Avika.
Rai mengerutkan kening. "Tidak usah, aku bisa naik taksi. Kamu pulang saja duluan!" tolak Rai. Dia merasa tidak enak hati menumpang dengan anak gadis orang, apalagi tadi Avika sudah menolak saat Rai menawarkan diri.
"Jangan sok jual mahal gitu, jam segini jarang sekali taksi yang lewat di kawasan ini." jelas Avika.
"Oh, kalau begitu aku naik ojek saja." Rai masih saja menolak dengan berbagai macam alasan.
"Rai, kamu bisa menghargai orang gak sih? Sudah untung ditawari tumpangan. Cepat naik, jangan sampai aku melempar mu dengan sepatuku ini!" Avika membuka sepatu yang dia gunakan dan mengarahkannya pada Rai.
"Ups, jangan dilempar dong!" Rai mencoba menghindar, tapi ternyata Avika hanya menggertak nya saja. "Iya aku naik," Mau tidak mau Rai terpaksa menurut, dia mengitari mobil terlebih dahulu dan membuka pintu kanan.
__ADS_1
"Pindah sana!" ketus Rai. Sebelum Avika beranjak dia sudah lebih dulu masuk dan memepet tubuh mungil Avika.
"Apaan sih Rai, main masuk-masuk saja." Avika kesulitan untuk beranjak karena tubuhnya diapit oleh Rai.
"Cepat pindah! Ngapain masih duduk di sini?" Rai mengulum senyum.
"Iya, ini mau pindah tapi geser dulu dong, aku terjepit ini." keluh Avika.
"Makanya makan yang banyak biar gak lembek. Udah kecil gak ada tenaga lagi, menyedihkan sekali." ejek Rai.
"Diam, atau aku jitak kepalamu!" gertak Avika dengan tatapan menakutkan.
Rai mengulas senyum, lalu menggeser bokongnya sedikit. Avika mencoba bangkit dan tanpa sengaja bertumpu pada paha Rai. Seketika Rai bergeming menahan sesak, nyaris saja tangan Avika menyentuh bagian intinya.
"Gadis nakal, berani sekali dia." Rai membatin sambil mengusap dahi yang mulai mengeluarkan keringat.
"Sudah, ayo jalan!" suruh Avika setelah duduk manis di samping Rai.
Tanpa menyahut Rai segera menginjak pedal gas, mobil itu melaju menyisir jalan raya. Keduanya hanya diam dan fokus pada pandangan masing-masing.
...****************...
"Kak Aksa..." sorak Inara saat keluar dari gerbang. Dia melambaikan tangan dan berlari kecil menghampiri motor Aksa.
"Gak kok, ini baru keluar. Tadi ada kelas tambahan," sahut Inara.
"Ya sudah, ayo naik!" Aksa menyalakan motor, Inara langsung naik dan memeluk perut Aksa seperti biasanya. Seketika motor itu melesat meninggalkan gerbang kampus.
Sebenarnya Aksa ingin sekali mengesap bibir Inara, tapi karena keadaan dia terpaksa bersabar sampai mereka berdua tiba di apartemen. Aksa tidak ingin langsung pulang, dia tau pergerakannya sangat terbatas saat di rumah.
"Sudah makan?" tanya Aksa sambil melirik dari kaca spion.
"Tadi sudah, makan di kantin sama Riska." jawab Inara.
"Yakin cuma sama Riska?" Aksa mencoba memastikan.
"Iya Kak, memangnya sama siapa lagi?" Inara menautkan alis.
"Kali saja sama teman pria," balas Aksa.
"Mana ada? Lagian kalau ada pun apa salahnya? Kan cuma teman," ucap Inara.
__ADS_1
"Ra, jangan bikin Kakak marah ya!" geram Aksa.
"Kenapa harus marah? Tidak ada pria lain selain Kakak," terang Inara.
"Yakin?" kata Aksa.
"Yakin dong Kak, lagian Kakak aneh banget sih. Datang-datang nuduh yang enggak-enggak." Inara mengerucutkan bibir.
"Bukan nuduh, tapi waspada. Kamu kan centil, siapa tau di kampus kerjanya godain pria?" sindir Aksa.
"Terserah Kakak saja lah, percuma juga dijelasin." Inara merenggangkan pelukannya dan memundurkan dada beberapa senti.
"Loh, kenapa mundur? Kakak cuma bercanda kok sayang, ayo peluk lagi!" pinta Aksa sambil menarik tangan Inara.
Inara kembali melingkarkan tangannya di perut Aksa dan menempelkan pipi di punggung kakaknya itu.
Beberapa menit berlalu sampailah mereka di parkiran apartemen. Inara turun dengan cepat dan melangkah masuk lebih dulu.
"Astaga, ngambek deh. Mulutmu Aksa," Aksa menepuk bibirnya dan berlari menyusul Inara.
Sesampainya di unit mereka, Inara langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Seharian ini dia sangat lelah, banyak sekali tugas yang harus dia selesaikan.
Setelah keluar dari kamar mandi, Inara menghempaskan tubuhnya di kasur dan langsung memejamkan mata.
"Sayang, kamu masih marah?" Aksa mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Aku capek Kak, biarkan aku tidur sejenak!" gumam Inara.
"Sayang, maafin Kakak ya. Tadi Kakak cuma bercanda," jelas Aksa.
"Iya, aku tau. Aku hanya ingin istirahat, jangan ganggu aku!" ucap Inara.
Aksa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, keningnya mengkerut mengamati perubahan sikap Inara. Tidak biasanya Inara seperti ini saat bersamanya.
Lalu Aksa membuka pakaian dan menyisakan boxer saja, dia naik ke kasur dan berbaring di samping Inara. "Sini, peluk Kakak!"
Aksa menarik Inara ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat. Inara menenggelamkan wajah di dada Aksa dan melingkarkan tangannya di pinggang kakaknya itu.
"Maafin Kakak ya," ucap Aksa sambil mengusap kepala Inara.
"Hmm... Inara bergumam dan mempererat pelukannya.
__ADS_1
Beberapa menit berselang keduanya pun tertidur dalam posisi saling berpelukan.
Bersambung...