
Malam telah berlalu, kicauan burung bernyanyi merdu menyambut datangnya pagi. Seketika Aryan tersentak saat matanya mendapat transferan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela gubuk yang sedikit renggang.
Saat membuka mata dan turun dari tempat tidur, Aryan terpana melihat seorang gadis cantik. Dia tengah memasak di dapur yang lepas tanpa sekat. Gubuk itu hanya memiliki satu ruangan yang mencakup segalanya.
"Selamat pagi," sapa Aryan sembari menghampiri gadis itu dengan jalannya yang terlihat pincang.
Sontak gadis itu memutar leher karena terkejut, tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat.
"Selamat pagi, kenapa bangun? Berbaring saja dulu, kakimu pasti masih sakit." sahut gadis itu.
"Cuma luka kecil, tidak apa-apa." ucap Aryan mengulas senyum.
"Apanya yang kecil? Lukamu cukup parah, sebaiknya kamu istirahat saja." balas gadis itu.
"Sudah aku bilang tidak apa-apa, seorang pria tidak boleh cengeng." kata Aryan penuh percaya diri.
"Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu." gadis itu membuang pandangannya dari Aryan dan kembali fokus pada masakannya.
"Aku kebelet pipis, boleh aku meminjam toiletnya sebentar?" tanya Aryan.
"Boleh, tapi di sini tidak ada toilet. Adanya cuma ******, maaf kalau membuatmu merasa tidak nyaman." sahut gadis itu.
"Kenapa minta maaf?" Aryan mengerutkan kening. "Harusnya aku yang minta maaf karena sudah merepotkan mu." imbuhnya.
"Tidak sama sekali, aku senang ada teman di sini. Selama ini aku tidak pernah bergaul dengan orang luar, rasanya seperti mendapatkan harta karun saja." ucap gadis itu dengan polosnya.
"Benarkah? Lalu bagaimana caramu bertahan hidup sendirian?" Aryan mengerutkan kening seakan tak percaya. Bagaimana mungkin gadis secantik itu tinggal sendirian dan tidak pernah bergaul dengan orang lain? Apa itu tidak membosankan?
"Ya beginilah hidupku, aku berteman dengan alam dan memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari." jelas gadis itu.
Aryan manggut-manggut mendengar penjelasan gadis itu. Percaya tak percaya, tapi begitulah kenyataannya.
Lalu Aryan meninggalkan gubuk berukuran empat kali lima itu dan berjalan menuju ****** yang ada di belakang. Aryan menggeleng-gelengkan kepala, sulit dipercaya di jaman modern ini masih ada yang hidup seperti yang dialami gadis itu.
Setelah membuang apa yang seharusnya dia buang, Aryan mencuci muka dan kembali memasuki gubuk.
"Ayo, makan dulu! Kamu pasti lapar kan?" ajak gadis itu setelah menyiapkan makanan dan menaruhnya di atas meja kecil. Dia juga membuatkan teh hangat untuk Aryan.
Aryan mengangguk lemah dan duduk di sisi tempat tidur, tanpa segan dia pun melahap makanan yang disiapkan gadis itu.
...****************...
"Aksa, kamu sudah pulang Nak? Dimana Aryan? Kamu berhasil menemukannya kan?" cerca Aina saat menangkap kedatangan Aksa dan Rai. Manik mata Aina berguling liar menunggu Aryan muncul di hadapannya.
Aksa menggeleng lemah dan menghempaskan bokongnya di atas sofa. Semalaman dia tidak tidur untuk mencari keberadaan Aryan, tapi tak berhasil menemukannya. Dia juga sudah mendatangi beberapa sahabat Aryan, hasilnya tetap mengecewakan.
Dia bahkan sempat beradu mulut dengan Rai, perdebatan sengit terjadi diantara keduanya saat Aksa hampir saja kehilangan kendali.
Rai mencoba menjelaskan, alangkah baiknya jika Aksa tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Barangkali yang dikatakan Aryan benar, apa salahnya menyelidiki kebenaran terlebih dahulu. Bisa saja wanita yang ada di rumah saat ini memang jebakan yang dipasang musuh untuk mengelabui mereka semua.
"Aksa, kenapa kamu diam saja Nak? Mana Aryan?" tanya Aina lagi, lalu menghampiri Aksa dan duduk di sampingnya.
"Ma, biarkan Aksa menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu. Aksa jadi ragu dengan keputusan kita yang terlalu terburu-buru untuk menikahkan Aryan dengan wanita itu."
__ADS_1
"Aksa..." Aina menajamkan tatapan.
"Ma, dengar Aksa dulu!" Aksa merentangkan sebelah tangan dan mengusap lengan Aina. "Mama tau bagaimana liciknya mantan istri Papa itu kan?" Aina mengangguk lemah.
"Setelah puluhan tahun berlalu, dia belum juga menyerah untuk menghancurkan keluarga kita. Bisa jadi ini jebakan, Ma. Aryan bilang gadis itu tidak bisu, mungkin yang dikatakan Aryan itu benar. Aryan mewarisi darah Papa, kami semua tidak akan pernah lari dari tanggung jawab." jelas Aksa meyakinkan Aina.
"Tapi bagaimana dengan wanita itu?" tanya Aina menautkan alis.
"Mama percaya sama Aksa ya, biarkan wanita itu di sini dulu sampai Aksa menemukan titik terang. Aksa sudah mengerahkan orang-orang kepercayaan Aksa untuk menyelidiki kasus ini. Mama pokoknya harus tenang, semua pasti baik-baik saja."
"Kamu yakin?" kembali Aina menautkan alis.
"Iya Ma, Aksa yakin. Kali ini Aksa tidak akan membiarkan wanita sialan itu lolos begitu saja. Aksa akan membuat perhitungan dengannya."
"Aksa, kamu jangan macam-macam Nak. Tidak perlu menggunakan kekerasan, Mama tidak ingin-"
"Tidak Ma, Aksa tidak mungkin melakukan kekerasan. Mana bisa Aksa melakukan itu?" alibi Aksa mengalihkan perhatian Aina.
Hampir saja dia lupa bahwa Aina tidak tau apa-apa tentang sejarah kelamnya di masa lalu. Dia bahkan sudah melenyapkan ratusan nyawa tanpa belas kasih sedikitpun.
Apalagi ini menyangkut keluarganya. Mana bisa Aksa diam saja jika orang-orang yang dia sayangi disakiti seperti ini. Pertama Aina, kedua Avika dan sekarang Aryan. Entah siapa lagi yang akan menjadi target wanita gila itu setelah ini?
"Ya sudah, selidiki secepatnya agar masalah ini tidak berlarut-larut!" pinta Aina dengan air muka memelas. Dia tidak ingin putra bungsunya dicap sebagai manusia yang tidak bertanggung jawab. Apalagi ini menyangkut harga diri dan kehormatan seorang gadis yang tak berdosa.
Setelah berhasil meyakinkan Aina, Aksa meninggalkan lantai satu. Dia menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar. Beberapa hari ini pikirannya terlalu fokus pada Avika dan Aryan hingga dia hampir saja lupa dengan Inara yang baru saja dia nikahi.
Sesampainya di kamar, Aksa mendapati kasur yang sudah rapi. Pikirnya mungkin Inara sedang berada di kamar mandi, dia pun lekas menghampiri pintu dan mengetuknya tapi tak ada sahutan dari dalam sana.
Setelah membuka pintu, ternyata Inara tidak ada di dalam. Aksa mengusap wajah dan menghela nafas berat, lalu meninggalkan kamar dan berjalan menuju kamar Inara. Sayang istrinya juga tidak ada di sana.
"Ayah, Bunda," sapa Aksa.
"Aksa, kamu sudah pulang?" sahut Nayla dan Hendru bersamaan.
Aksa mengangguk pelan sebagai jawaban. "Ayah, Bunda, apa kalian melihat Inara?" tanyanya.
"Inara masih tidur di kamar Bunda, semalaman dia tidak bisa tidur menunggu kamu pulang. Baru subuh ini Inara tertidur," jawab Nayla.
Aksa mengusap wajah dan menghela nafas berat. "Maafkan Aksa Bun, Aksa tidak bermaksud mengabaikan Inara. Aksa juga pusing memikirkan masalah ini," keluh Aksa dengan air muka menggelap.
"Tidak apa-apa, Bunda mengerti. Pergilah lihat Inara!"
"Iya Bun, makasih." angguk Aksa.
"Apa Aryan sudah ditemukan?" tanya Hendru saat Aksa hendak melangkahkan kakinya.
"Belum Yah, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Aksa sudah mengutus orang untuk mencarinya."
"Hmm... Ya sudah, pergilah ke kamar!"
Hendru dan Nayla melanjutkan langkah mereka, begitu juga dengan Aksa. Dia mengayunkan langkah besar menuju kamar mertuanya.
Sesampainya di kamar, Aksa menatap sendu ke arah ranjang yang ditiduri Inara. Hatinya mencelos menyaksikan wajah polos Inara yang tengah tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Tanpa pikir, Aksa langsung menggendongnya dan membawa Inara ke kamarnya. Aksa membaringkannya di atas kasur dan segera membersihkan diri di kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Aksa keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Dia mengenakan celana pendek dan memilih bertelanjang dada, lalu membaringkan diri di samping Inara dan memeluknya dengan erat.
Sadar akan kehadiran suaminya, Inara membuka mata perlahan. Bibirnya mengerucut saat menangkap keberadaan Aksa yang tengah memeluknya.
"Kak... Mmphh..."
Belum sempat Inara bicara, Aksa sudah membungkam bibirnya dan melu*matnya dengan penuh kelembutan. Rasanya sudah lama sekali Aksa tidak menghisap racun istrinya itu.
Inara sampai sesak karena pagutan Aksa yang begitu bernafsu. Deru nafasnya memburu menahan hasrat yang tiba-tiba membuncah.
"Maafkan suamimu ini, sayang." lirih Aksa sesaat setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Hmm..." gumam Inara tanpa berkata apa-apa, lalu membenamkan wajahnya di dada Aksa. Aksa pun mendekapnya erat dan mengecup pucuk kepala Inara dengan sayang.
Setelah beberapa menit berbagi kehangatan, Inara mendongak dan mematut manik mata Aksa dengan intim. Aksa mengulas senyum nakal dan menjulurkan lidah.
"Aww..."
Aksa meringis, tiba-tiba saja Inara menyambar lidahnya dan menggigitnya gemas. Rasanya seperti nano-nano, manis asam asin. Mata Aksa sampai berkaca dibuatnya.
"Sakit sayang," keluh Aksa menahan rasa sakit.
"Siapa suruh menjulurkan lidah seperti tadi?" Inara mengulum senyum yang membuat Aksa benar-benar geram.
Lalu Aksa beranjak dari posisinya dan merangkak di atas tubuh Inara. Tanpa aba-aba dia langsung saja membenamkan wajahnya di leher Inara, menjilatnya dan menggigitnya hingga meninggalkan jejak berwarna merah pekat.
"Aakhh... Kak..." de*sah Inara dengan suara yang sangat menggoda. Dia pun meremas rambut Aksa dengan kuat.
Tak ingin menunggu lama, Aksa dengan cepat melepas satu persatu kancing piyama yang melekat di tubuh Inara.
Setelah tubuh istrinya menganga, Aksa langsung melayangkan aksinya. Dia menyedot puncak gunung kembar Inara bergantian sembari meremasnya dan mengitarinya dengan lidah. Inara kembali mende*sah dengan tubuh mengejang dan gemetaran.
Lalu Aksa turun menjilati liang surga Inara, beberapa kali Inara dibuat menjerit dengan pinggul sedikit terangkat. Rasanya sungguh luar biasa, apalagi saat Aksa menghisapnya dengan kuat.
"Aughhh... Kak... Ya... Mmm..." racau Inara menikmati permainan gila Aksa yang melemahkan otot V nya.
Aksa mendongak dan mematut wajah pasrah istrinya yang menggemaskan. "Kenapa sayang?"
Seketika pipi Inara memerah, malu rasanya ditanya pas sedang enak-enaknya begitu. Inara menggigit bibir untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Sudah ya, lebih baik kita tidur." goda Aksa mengulum senyum.
Inara membulatkan mata dan mengapit pinggang Aksa dengan kakinya. "Kak..." gumamnya.
"Hmm... Kenapa?" Aksa hendak menjauh tapi Inara tidak mau melepaskan kakinya yang membelit pinggang suaminya. Dia malah menekan kepala Aksa hingga kembali menyentuh liang surganya.
Aksa menahan tawa dan lanjut memainkan kelopak mawar yang terpampang di depan matanya. Tidak lama, dia merubah posisi dan mengarahkan adik kecilnya ke inti Inara.
"Aughhh..." de*sah Inara menikmati ayunan pinggul Aksa yang keluar masuk dengan leluasa. Tubuh Inara semakin merinding saat lidah Aksa kembali mencapai puncak gunung kembar miliknya.
Setelah berpacu sekitar kurang lebih setengah jam lamanya, Aksa akhirnya tumbang sembari mengerang membuang cairan miliknya. Inara menerimanya sembari menjerit kecil dan mata memicing.
__ADS_1
Bersambung...