
"Ma, Pa, hari ini Avika izin keluar ya. Avika ada janji sama teman, mau mengajukan proposal ke kantor advokat. Katanya ada sepuluh lowongan untuk pengacara baru." ucap Avika saat duduk di meja makan.
"Kenapa harus repot-repot begitu sayang, nanti biar Papa saja yang mengurus itu." sahut Arhan.
"Jangan Pa, Avika pengen dikenal karena kemampuan Avika sendiri. Avika tidak mau dicap mendompleng nama besar Papa!" tolak Avika.
"Tidak ada hubungannya sayang. Papa seorang pebisnis, Papa sama sekali tidak mengerti dengan yang begituan. Papa hanya ingin merekomendasikan kamu sama kenalan Papa, itu saja." jelas Arhan.
"Iya, Avika tau, tapi biar Avika sendiri saja yang mengurusnya. Kalau Avika gagal, terserah Papa deh setelah itu." ucap Avika.
"Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu." jawab Arhan.
Setelah menyantap sarapannya, Avika langsung berpamitan pada semua orang.
"Pa, Ma, Aryan tahun ini ikut race lagi ya. Sudah dua tahun loh Aryan vakum, Aryan kangen banget." ucap Aryan meminta izin.
"Tidak, Mama tidak mengizinkan. Kamu tidak ingat bagaimana kecelakaan waktu itu menimpa kamu? Waktu itu mungkin saja Tuhan masih sayang sama kamu. Kesempatan hanya sekali Aryan, Mama tidak mau melihatmu celaka lagi." tegas Aina menolak permintaan putra bungsunya.
"Tapi Ma-"
"Sekali tidak tetap tidak, kecuali jika kamu ingin melihat Mama mati dengan cepat. Maka lakukan saja apa yang kamu inginkan!" bentak Aina.
"Sayang, mati mati apa sih? Tidak boleh bicara seperti itu," selang Arhan.
"Tapi begitulah kenyataannya Bang, Aina hampir mati melihat putra Abang itu terbaring lemah di rumah sakit." terang Aina.
Ya, saat masih duduk di bangku SMA Aryan sempat mengikuti race antar provinsi tapi sayang mimpinya harus sirna karena sebuah insiden yang terjadi di lapangan.
Motor yang dikendarai Aryan tak sengaja bertabrakan dengan lawan sehingga kedua motor itu terseret, tubuh Aryan pun terlindas motor lain sehingga Aryan harus dilarikan ke rumah sakit.
Kejadian itu membuat Aina terkena serangan jantung ringan hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
"Pagi-pagi kenapa pada ribut sih? Ada apa Ma?" timpal Aksa yang baru saja turun dari kamar. Dia duduk tepat di bangku Avika agar bisa berdekatan dengan Inara.
"Tuh, adikmu itu. Katanya mau ikut race lagi." geram Aina.
"Lalu salahnya dimana Ma?" Aksa mengerutkan kening.
"Aksa, dua tahun yang lalu Aryan pernah meregang nyawa karena kecelakaan. Kamu pikir Mama bisa tenang? Mama hampir mati karena serangan jantung." lirih Aina.
__ADS_1
"Hah?" Aksa membuka mulut dengan mata membulat sempurna. "Kenapa tidak ada yang memberitahukan itu pada Aksa?"
"Mama melarang kami Kak, Mama tidak mau Kak Aksa kepikiran." jawab Inara.
Aksa menatap Inara barang sejenak, lalu memutar lehernya ke arah Aina dan Aryan secara bergantian. Tatapannya terlihat mengintimidasi.
"Kalau begitu dengar kata Mama. Kalau Mama tidak mengizinkan berarti kamu tidak boleh ikut!" ucap Aksa penuh penekanan.
"Tapi Kak-"
"Jangan membantah, Kakak tidak mau terjadi apa-apa sama Mama! Ingat, keluarga adalah segalanya! Mama sudah cukup menderita selama ini, jangan membuat Mama menderita lagi! Tugasmu membahagiakan Mama, bukan malah sebaliknya." tegas Aksa menajamkan tatapan.
"Menderita?" Aryan mengulangi kata itu sembari mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Aksa.
"Tiga kali Aryan, sudah tiga kali Mama meregang nyawa. Jika hal itu terjadi lagi, apa kamu bisa jamin bahwa Mama akan baik-baik saja?" jelas Aksa.
Aryan nampak semakin kebingungan, makin ke sini dia semakin tidak mengerti maksud ucapan Aksa.
"Maksud Kakak apa?" tanya Aryan penasaran.
"Intinya kamu tidak boleh ikut race itu. Kalau masih keras kepala, maka lakukan saja apa yang kamu inginkan tapi jangan pernah kembali ke rumah ini!" ancam Aksa.
"Kak Aksa ngusir aku?" Aryan menyipitkan mata.
Setelah mengatakan itu, Aksa menyambar roti yang ada di tangan Inara. Gadis itu mencebik, dia bahkan baru menggigitnya sedikit tapi sudah dirampas oleh Aksa.
Inara menggembungkan pipi dan mengepalkan tinju, lalu melayangkannya di paha Aksa.
"Aww..." rintih Aksa terkejut.
Sontak semua orang menoleh ke arah Aksa.
"Kamu kenapa Aksa?" tanya Arhan heran.
"Ti-Tidak ada apa-apa Pa, digigit semut barusan." jawab Aksa asal. Dia kemudian menggenggam tangan Inara dengan sebelah tangan yang menganggur. Inara mengulum senyum melihat raut muka Aksa yang menggemaskan menurutnya.
Selepas sarapan, Aryan meninggalkan ruang makan begitu saja. Tampaknya dia sedikit kecewa setelah mendengar penuturan Aksa tadi.
Sementara para pria lainnya bersiap untuk berangkat ke kantor. Aksa menahan Hendru sejenak dan memberikan dokumen pribadinya, di sana juga sudah ada dokumen pribadi Inara yang sudah mereka siapkan sebelum turun tadi.
__ADS_1
"Ini Yah, kalau bisa besok kami sudah menikah. Tidak perlu pesta mewah-mewah, cukup ambil wajibnya saja." ucap Aksa dalam mode serius. Lagian apalah artinya sebuah pesta. Aksa tidak sanggup menunggu lebih lama lagi, takut juniornya merajuk sebab kena prank terus menerus.
"Ya sudah, hari ini juga akan Ayah urus. Tapi pesta akan tetap dilangsungkan setelah beberapa hari. Inara putri Ayah satu satunya, dia pasti juga ingin pernikahannya digelar dengan mewah. Cuma sekali seumur hidup, iya kan sayang?" Hendru menatap Inara sejenak.
Inara hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Terserah Ayah saja, yang penting wajibnya dulu. Aksa tidak sanggup menahan lagi, putri Ayah seperti magnet. Lama-lama Aksa bisa gila ditarik terus," ujar Aksa enteng.
"Teg!"
Hendru menjitak kepala Aksa saking jengkelnya mendengar ucapan anak sekaligus calon menantunya itu.
"Sopan kalau bicara, aku bukan lagi Ayahmu tapi juga calon mertuamu. Begitu cara bicara sama Ayah mertuamu?" Hendru menajamkan tatapan.
"Sama saja Ayah, yang penting manggilnya tetap Ayah. Lagian siapa suruh kalian berdua membuat anak perempuan waktu itu, coba saja laki-laki Aksa tidak mungkin suka."
"Teg!"
Kini giliran Nayla yang menjitak kepala Aksa.
"Mulutmu Nak, pengen rasanya Bunda gosok sama setrikaan panas?" geram Nayla.
"Jangan dong Bun, kalau digosok Inara lah yang bakalan rugi. Hehehe..."
Sebelum Nayla mengamuk, Aksa langsung berlari menjauhi keduanya.
"Dasar anak tidak tau sopan santun. Untung Bunda dan Ayah ikut serta membesarkan kamu, jika tidak kami tidak akan pernah merestui hubungan kalian." ketus Nayla.
"Hahahaha... Sayangnya Bunda tidak bisa melakukan itu, putri Bunda sudah tergila-gila sama Aksa." seru Aksa penuh kemenangan.
"Aksa, cukup Nak! Jangan pecicilan begitu. Kamu sudah mau jadi suami orang, jaga wibawa sedikit!" timpal Aina.
"Jangan salahi Aksa dong Ma, salahi Papa tuh. Kan sikap Aksa nurun dari senior itu." jawab Aksa enteng sembari menunjuk Arhan dengan bibir.
Arhan tersentak dan mengepalkan tinju, bisa-bisanya Aksa melemparkan kesalahan padanya. Tapi kalau dipikir-pikir ucapan Aksa ada benarnya juga, dulu dia juga begitu sama Airlangga dan Leona.
"Hahahaha... Kena deh semuanya," tawa Baron pecah sehingga membuat seisi rumah bergetar.
"Ayo sayang, kamu ke kampusnya bareng Kakak saja!" Aksa menarik tangan Inara dan meninggalkan rumah dengan senyum penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Lagi-lagi Rai seperti tak dianggap oleh sahabatnya itu, dia harus ke kantor bersama Arhan seperti sebelumnya.
Bersambung...