Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 48.


__ADS_3

Saat tengah asik berguling-guling di dasar lantai seperti anak kecil yang tengah bergelut, tiba-tiba ponsel Aksa berdering di atas nakas. Mau tidak mau Aksa terpaksa menghentikan aktivitasnya dan meraih iPhone tersebut.


"Iya Aryan, ada apa?" ucap Aksa sesaat setelah panggilan itu terhubung.


"Aku sudah di parkiran, Kak Aksa dimana?" tanya Aryan plangak plongok seperti orang kebingungan.


"Oke, tunggu sebentar! Kakak turun sekarang," Aksa segera bangkit dari tubuh Inara dan bergegas mengenakan pakaian. Tak lupa pula dia mencopot softlens yang menempel di manik matanya.


"Ra, tunggu Kakak di sini ya. Jangan kabur!" pesan Aksa, lalu berlari kecil keluar kamar dan berlanjut meninggalkan apartemen.


Lima menit kemudian sampailah Aksa di parkiran dan mendapati Aryan yang tengah duduk di atas motor sembari memainkan iPhone miliknya.


"Aryan..." seru Aksa dengan suara bariton nya yang khas, lalu berjalan menghampiri Aryan.


"Kak Aksa..." Keduanya saling berpelukan seperti adik kakak pada umumnya.


"Kak Aksa tidak ke kantor? Kenapa malah ada di apartemen ini?" Aryan mengerutkan kening sesaat setelah pelukan mereka terlepas.


"Panjang ceritanya, lagian anak kecil tau apa sih?" Aksa mengacak rambut Aryan hingga berantakan. "Sini kunci motornya, kamu pulang pakai mobil saja!" Aksa mengulurkan telapak tangan ke arah Aryan.


"Loh, kok gitu sih. Kak Aksa tau sendiri kan kalau aku paling malas pakai mobil." keluh Aryan kesal.


"Sekali ini saja, lagian di rumah masih banyak motor kan. Masa' sama Kakak sendiri pelit?" Aksa menyipitkan mata.


"Bukan pelit Kak, tapi-"


"Ya sudah kalau tidak mau. Nanti kalau ada apa-apa dengan kamu, jangan pernah minta tolong sama Kakak ya!" Aksa berbalik dan mengayunkan kakinya.


"Tunggu dong Kak! Masa' gitu saja marah, ya sudah... Ini," Aryan menyusul dan memberikan kunci motor itu ke tangan Aksa.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya adik yang baik," Aksa terkekeh dan mencubit pipi Aryan gemas.


"Apaan sih Kak, pakai acara cubit pipi segala. Memangnya aku Avika?" geram Aryan sembari menepis tangan Aksa. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu, bisa rusak reputasinya jika ada yang melihat.

__ADS_1


"Hehe... Kalian semua sama saja di mata Kakak. Saat di luar kalian boleh bersikap sesuka hati, tapi saat di rumah kalian tetaplah adik kecil Kakak." Aksa kembali mengacak rambut Aryan, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Oh ya, tolong rahasiakan keberadaan Kakak dari semua orang! Untuk saat ini tidak seorang pun boleh mengetahuinya, kamu bisa kan?" imbuh Aksa memberi peringatan.


"Kenapa dirahasiakan? Apa Kak Aksa sengaja kabur?" cerca Aryan kebingungan.


"Tidak, untuk sekarang masih sulit untuk dijelaskan. Intinya kamu harus pro sama Kakak, nanti kamu akan tau sendiri saat hatimu sudah ada yang menempati." Aksa mengukir senyum sambil menempelkan telunjuknya di dada Aryan.


"Oalah, jadi masalah cinta toh. Kalau begitu aku angkat tangan," Aryan mengangkat kedua tangannya sambil mengulum senyum.


"Ya sudah, sekarang pulanglah! Kakak harus masuk," Aksa memberikan kunci mobil ke tangan Aryan, lalu merangkul pundak adiknya itu dan menepuknya pelan.


Setelah Aryan masuk ke dalam mobil, Aksa juga masuk ke dalam apartemen. Kali ini senyumnya terlihat sangat menawan, dia bahkan bersiul sepanjang langkah menuju lantai enam.


Sesampainya di depan pintu, Aksa menempelkan kartu akses yang sengaja dia kantongi. Setelah masuk dan menutup pintu, Aksa langsung melenggang menuju kamar.


Sayang senyum Aksa tiba-tiba meredup ketika sorot matanya tak bisa menangkap keberadaan Inara. Aksa mengusap wajahnya kasar, lalu berlari ke kamar mandi.


"Braaak!"


Aksa kemudian berlari menuju balkon, lagi-lagi dia bergeming karena tak melihat Inara di sana. Seketika jantung Aksa berdegup kencang serasa ingin copot, dia tidak ingin kehilangan gadis itu. Inara miliknya dan harus tetap berada di sisinya.


Lalu Aksa berlari meninggalkan kamar. Saat memasuki ruang tengah, lari Aksa terhenti ketika sorot matanya tak sengaja menangkap keberadaan Inara yang tengah duduk di sofa sembari memegang segelas air putih di tangan.


Aksa segera menghampiri Inara, tubuhnya merosot di kaki gadis itu, hembusan nafasnya kacau tak beraturan.


"Aaaaa... Kak Aksa kenapa?" Inara terperanjat dan menjerit ketakutan.


Aksa kemudian memeluk pinggang Inara dan merebahkan kepalanya di paha gadis itu. "Kakak pikir kamu pergi, Kakak takut sekali Ra." lirih Aksa.


"Siapa yang pergi? Orang cuma ke dapur doang, lebay banget sih." Inara tertawa geli melihat tingkah aneh kakaknya itu.


"Ketawa saja terus!" geram Aksa dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Hahaha... Bibirnya biasa saja kali Kak, lucu tau," Inara benar-benar tak bisa menahan tawa. Makin ke sini Aksa semakin terlihat aneh di matanya.


Kemana Aksa yang dulunya dingin, pemarah, jahil dan juga galak? Aksa sekarang justru memiliki sikap yang jauh berbeda. Dia bahkan selalu bersikap manja saat bersama Inara.


"Jangan pergi ya, jangan pernah tinggalin Kakak!" lirih Aksa dengan mata berkaca.


Inara terdiam sejenak, dia tidak tau harus menjawab apa.


"Aku tidak tau kemana arah hubungan kita ini, ini rumit. Orang tua kita tidak akan merestui, sebaiknya-"


"Ra, tolong jangan bicara seperti itu!" potong Aksa. Dia bangkit dari lantai dan duduk di samping Inara.


"Lihat Kakak!" Aksa menangkup kedua tangannya di pipi Inara. "Kakak tidak tau kapan rasa ini tumbuh. Entah sejak di Busan waktu itu, entah sejak kita masih kecil. Yang pasti Kakak sangat menyayangimu, Kakak menginginkan kamu." Aksa menempelkan dahinya di kening Inara, hembusan nafas keduanya menyatu yang membuat jantung mereka berdegup kencang.


"Kakak ingin kamu sayang, menikahlah dengan Kakak. Kakak janji akan menjagamu sepanjang sisa umur Kakak." lirih Aksa penuh harap.


"Tapi Kak... Mmphh..."


Aksa membungkam bibir Inara, dia melu*matnya dengan penuh kelembutan. Semakin panas dan semakin dalam hingga suara decapan mereka memenuhi seisi ruangan.


Aksa menyelami rongga mulut Inara dan membelit lidahnya, lalu menghisapnya dengan gairah yang mulai menyala di dirinya.


Dalam pagutan yang masih menyatu dengan erat, Aksa membawa Inara ke dalam gendongannya. Dia berjalan menuju kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Sesampainya di kamar, Aksa menjatuhkan diri di atas ranjang dengan posisi menindih Inara di bawah kungkungan nya. Hasrat yang sudah berkecamuk di jiwanya tak mampu dibendung lagi.


Aksa melepaskan tautan bibir mereka dan mengecup kening Inara dengan sayang, lalu mengecup hidung, bibir, dagu dan berakhir di leher Inara yang putih mulus. Aksa mengecupnya dengan deru nafas yang kian memburu, sesekali Aksa menggigitnya gemas.


"Aakhh..." Inara tiba-tiba melenguh saat merasakan sensasi yang luar biasa. Sekujur tubuhnya merinding dan menegang seketika.


"Kak Aksa, jangan Kak!" gumam Inara dengan nafas yang sudah tak beraturan. Tubuhnya menginginkan tapi hatinya menolak.


"Jadilah milik Kakak seutuhnya, menjadi istri dan ibu untuk anak-anak kita nanti." pinta Aksa dengan pandangan gelap. Dia sudah tak berdaya menolak keinginan batinnya yang semakin menuntut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2