Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 127.


__ADS_3

"Ya, baiklah, aku mengerti. Kalau begitu urus semua jasad itu dan makamkan secara layak!" titah Baron mengakhiri obrolan yang berlangsung sejak sepuluh menit yang lalu.


Setelah memutuskan sambungan telepon itu, Baron dengan cepat menyimpan ponselnya ke saku celana. Dia menghela nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Ada apa?" tanya Arhan penasaran seraya menatap Baron dengan intens.


"Cinta pertamamu sudah berakhir," jawab Baron enteng.


"Cinta pertama kepalamu, ngomong tuh yang jelas!" geram Arhan menggertakkan gigi. Dia tidak paham maksud ucapan Baron.


"Ya elah Pa, masa' gitu saja tidak mengerti?" timpal Aksa mengulum senyum. Dia sengaja biar sang papa panas dan salah tingkah di depan Aina.


Arhan beralih menatap Aksa. "Kamu juga, bicara itu tidak perlu pakai teka-teki?" geramnya.


"Masa' harus dijelasin secara detail sih Pa? Yang ada ratu di rumah ini bisa cemburu," seloroh Aksa mengundang tawa. Semua orang yang mendengarnya terkekeh seketika.


"Hahaha... Aku saja paham loh maksud Aksa," timpal Hendru cekikikan.


Pandangan Arhan pun beralih pada Hendru. "Apa? Ayo bicara!" desak Arhan menyipitkan mata.


"Maksudnya itu Tasya, bukankah dia cinta pertama sekaligus istri pertama kamu?" terang Hendru menjelaskan. "Kasihan ya, pasti nanti ada yang nangis semalaman karena kehilangan belahan jiwanya." imbuh Hendru terkekeh.


"Sialan kau," Arhan meraih bantal dan melemparkannya ke muka Hendru. Tawa pria itu semakin lantang diikuti yang lain.


"Jadi, maksudnya wanita iblis itu sudah tidak ada lagi?" tanya Nayla ingin tau.


"Ya, ledakan itu menghanguskan tubuhnya." sahut Baron.


"Astaga," Inda, Dara, Inara dan Avika bergidik ngeri membayangkan bagaimana bentuk wanita itu saat ditemukan. Sebenarnya mereka ikut sedih, tapi inilah harga yang harus Tasya bayar, hidupnya berakhir mengenaskan.


"Apa kalian berdua yang melakukannya?" timpal Aina dengan mode serius. Tidak ada senyum apalagi tawa di wajahnya.


Sontak semua orang terdiam dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Aina. Wajah ibu tiga anak itu nampak sendu.

__ADS_1


Dia memang membenci wanita itu setelah apa yang Tasya lakukan padanya dan anak menantunya, tapi bukan pembalasan seperti ini yang dia inginkan.


Kenapa harus membunuh jika cara lain masih bisa untuk menyadarkan wanita itu? Lagian ini termasuk tindak kriminal, dia tidak ingin Aksa dan Rai berurusan dengan hukum.


"Tidak Ma, bukan kami yang melakukannya, tapi ada orang lain yang sengaja merencanakan ini semua. Kami juga korban, beruntungnya kami bisa menyelamatkan diri saat bom itu meledak."


Aksa menghampiri Aina dan duduk di sampingnya. "Mama jangan banyak pikir ya, mana bisa Aksa melakukan semua itu?" alibi Aksa yang lagi-lagi terpaksa berbohong untuk menutupi siapa dia sebenarnya. Cukup Aina tau bahwa dia hanyalah seorang Aksa yang tidak mengerti apa-apa, lalu Aksa merengkuh pundak Aina dan mengecup keningnya.


"Syukurlah kalau begitu, Mama tidak mau kalian berdua sampai dipenjara gara-gara kasus ini." kata Aina menghela nafas lega.


"Tidak akan, Mama tenang saja." tegas Aksa penuh keyakinan.


Aina manggut-manggut dan melirik Arhan sekilas. "Lihatlah, wajah Papamu jadi kusut setelah mendengar kabar ini. Pasti dia sedih kehilangan kenangan indah masa lalunya," ucap Aina yang membuat Arhan melototkan mata lebar-lebar.


"Kok sedih sih? Mana ada?" sanggah Arhan yang tidak merasakan apa-apa. Semua mata pun tercengang mendengar celetukan Aina itu.


"Kalau bukan karena cintanya yang begitu besar pada wanita itu, mana mungkin kami bisa bertemu? Mungkin Papamu bukan dia tapi orang lain," imbuh Aina menatap sinis pada Arhan, lalu memilih pergi menuju lantai atas.


Seketika tawa semua orang pecah melihat ekspresi Arhan yang membagongkan, jelas ada ketakutan di wajahnya.


Setelah Arhan menghilang, satu persatu dari mereka ikut pergi meninggalkan ruangan. Hendru dan Nayla memasuki lift menuju lantai atas, sedangkan Baron dan Inda berjalan menuju paviliun.


Kini tinggal Aksa, Rai, Aryan dan para istri mereka saja di sana. Sejenak suasana tiba-tiba menjadi hening.


"Sepertinya aku butuh hiburan, pusing memikirkan masalah ini berkepanjangan." ucap Aksa membuka percakapan. Dia terperangah dengan punggung tersandar di kepala sofa.


"Hiburan apa? Jangan bilang-" Inara menghentikan ucapannya dan menatap Aksa dengan pipi menggembung dan mata terbelalak, pikirnya Aksa butuh hiburan seperti yang orang-orang lakukan di klub malam. Minum-minum dan main perempuan semaunya.


Aksa melirik Inara seraya mengernyit, lalu mengulas senyum dan mengacak rambut istrinya itu. "Jangan bilang apa, hah?" tanyanya gemas.


"Tidak jadi," Inara melengos sambil mencebik bibir.


"Hahaha..." tawa Aksa pecah memenuhi seisi rumah. Dia pun menarik pinggang Inara dan melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya itu. "Pasti mikirnya yang tidak-tidak kan? Dasar istri aneh!" geram Aksa menggigit pundak Inara.

__ADS_1


Seketika Inara menggeliat dengan pipi merona merah. "Apaan sih Kak? Jangan macam-macam!" ketusnya tersipu malu. Dia tau persis isi otak suaminya kalau sudah begini.


"Makanya mikir positif sesekali, maksudnya tuh pergi liburan buat menyegarkan otak." jelas Aksa tepat di tengkuk Inara, otomatis bulu roma Inara berdiri tegak.


"Nah, kalau itu aku setuju. Sekalian bulan madu, iya kan Vi?" timpal Rai seraya mematut Avika yang tengah duduk di sampingnya. Dia pun tak mau kalah dan lekas memeluk pinggang Avika.


"Aku juga ikut dong kalau gitu," sambung Aryan. Dia juga ingin membawa Dara liburan untuk menghilangkan stres. Sepertinya akan menyenangkan jika mereka pergi bersama.


"Heh, yang ngajak kalian siapa? Aku cuma mau berduaan sama istriku," sergah Aksa dengan mode serius, Rai dan Aryan langsung terdiam menelan kekecewaan.


Padahal mereka pikir Aksa ingin mengajak mereka pergi bersama tapi ternyata... Ya sudahlah, mungkin mereka bisa pergi ke tempat lain tanpa harus mengekori Aksa.


"Dalam bulan ini aku belum bisa Kak, masih ada tugas akhir yang harus diselesaikan. Kalau bulan depan sepertinya bisa," jelas Inara.


"Ya sudah, bulan depan saja. Yang penting liburan kan," sahut Aksa mempererat pelukannya.


"Hmm..." angguk Inara.


"Vi, besok tolong bilangin sama Papa ya! Aku mau mengundurkan diri jadi asisten orang itu. Jadi satpam jadi satpam deh, yang penting aku bisa kerja sendiri. Lagian aku tidak dibutuhkan lagi kan," ucap Rai pada Avika, lalu dia bangkit dari duduknya dan menggenggam tangan Avika. "Ayo, aku sudah ngantuk!" ajak Rai. Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang tengah.


Aksa hanya melongo menatap punggung mereka berdua.


"Kita ke kamar juga yuk, ngantuk!" ajak Aryan pada Dara. Keduanya juga pergi meninggalkan Aksa dan Inara. Lagi-lagi Aksa hanya melongo melihat kepergian mereka.


Inara yang melihat itu tiba-tiba mengulas senyum tipis, sedetik kemudian kembali serius seraya memutar leher ke arah Aksa. "Mulai besok belajarlah mengurus diri sendiri, jangan pernah minta bantuan lagi pada Rai!"


Setelah mengatakan itu, Inara ikut bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lift. Aksa sontak berhamburan menyusul istrinya itu.


"Kalian semua kenapa sih? Main pergi begitu saja," Aksa mengerutkan kening sembari menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu mengikuti langkah Inara memasuki lift yang sudah terbuka.


"Tidak apa-apa, bukankah itu yang Kakak inginkan?" jawab Inara enteng, air mukanya nampak lelah.


Lalu keduanya berjalan menuju kamar sesaat setelah pintu lift terbuka lebar.

__ADS_1


__ADS_2