
Satu minggu telah berlalu.
Seperti janji Aksa pada rapat waktu itu, dia berhasil menstabilkan keadaan perusahaan setelah melakukan konferensi pers dan mengumumkan pernikahan Aryan yang beberapa hari lagi akan dilangsungkan.
Aksa menjelaskan pada media bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Beruntung Dara mau membantunya menjadi saksi dan mengatakan bahwa malam itu tidak ada pemaksaan, dia dan Aryan melakukannya atas dasar suka sama suka.
Semua itu Dara katakan melalui sebuah rekaman video yang diambil di kediaman Airlangga. Dara juga mengatakan bahwa dia dan Aryan merupakan pasangan kekasih yang sudah bertunangan, malam itu mereka berdua mabuk dan kehilangan kesadaran hingga terjadilah hal itu.
Desas-desus yang beredar sebelumnya hanya kelakuan oknum nakal yang sengaja menggoreng berita itu untuk menghancurkan reputasi keluarga Airlangga.
Sesaat setelah media mempublikasikan konferensi pers itu, nama Airlangga Group kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis maupun masyarakat luas.
Mereka mulai respek karena terlalu dini mengambil kesimpulan. Tidak seharusnya masalah pribadi seperti itu dikaitkan dengan perusahaan, apalagi selama ini Airlangga Group sudah memberikan dampak positif pada perusahaan kecil yang tengah berkembang. Mereka menjadi inspirasi untuk orang-orang yang ingin maju dan berjuang dari titik nol.
...****************...
"Apa kalian sudah siap?" tanya Aksa pada adik dan calon adik iparnya yang tengah berkumpul di ruang tamu.
Siang ini mereka ada janji untuk fitting baju pengantin yang nanti akan mereka kenakan di hari bahagia yang tinggal menghitung hari.
"Kalian pergi saja, aku tidak ikut." ucap Aryan dengan tatapan malas. Seminggu terakhir sikapnya berubah dingin dan kaku, tidak seperti biasanya yang selalu heboh dan suka membuat onar.
"Jangan aneh-aneh Aryan, kamu-"
"Ukuran tubuhku sama dengan Kak Aksa, jadi samakan saja ukuran baju kita." Setelah mengatakan itu, Aryan melengos dan berlalu pergi begitu saja. Dia bahkan enggan menatap wajah Dara.
"Aryan..." sorak Aksa, tapi Aryan malah acuh tak acuh sembari terus mengayunkan kakinya.
Untuk apa repot-repot fitting baju segala? Toh akhirnya dia akan ditinggalkan juga. Sebelum rasa itu semakin membelenggu jiwanya, dia lebih baik membekukan hatinya, memekakkan telinga dan membutakan matanya.
__ADS_1
"Biarkan saja Kak, lebih baik kalian pergi saja. Aku tidak jadi ikut, samakan saja ukuran bajuku dengan Kak Avika." ucap Dara, lalu meninggalkan mereka semua dan naik ke lantai dua.
Dara masuk ke kamar Aryan yang ditempatinya sekarang, kamar yang sejak seminggu terakhir tidak pernah diinjak oleh Aryan yang malah memilih tidur di ruang tamu.
Gadis itu tau apa yang dirasakan Aryan saat ini, mungkin memang lebih baik seperti ini agar dikemudian hari tidak ada yang terluka diantara mereka.
"Aryan, kok kamu masih di rumah? Bukankah kalian semua-"
"Aryan tidak ikut, Ma. Untuk apa bersuka cita menyambut pernikahan palsu ini jika akhirnya hanya kekecewaan yang Aryan terima." lirihnya, lalu masuk ke kamar tamu dan membanting pintu dengan kasar.
Aina sampai terperanjat saat suara pintu terhempas mempengaruhi detak jantungnya. "Astaga, ada apa lagi ini?" batinnya dengan tatapan bingung.
Lalu Aina mendorong pintu dan menghampiri Aryan yang tengah duduk di sisi ranjang. Pandangan pria itu mengabur dengan genangan air mata yang memenuhi netra nya.
"Aryan..." Aina duduk di sampingnya dan mengusap punggung putra bungsunya itu.
Jika Aryan bisa memilih, dia tidak ingin semua ini terjadi. Dia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti ini.
Tapi apa yang bisa dia perbuat? Semua sudah terjadi dan Aryan hanya ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Kenapa begitu sulit meyakinkan gadis itu bahwa dia benar-benar mencintainya? Bukan hanya pertanggung jawaban semata.
"Kamu harus berpikir positif, Aryan. Ini memang tidak mudah, tapi kamu jangan menyerah dulu. Perjuangkan cinta kamu, Mama yakin Dara akan luluh jika kamu mau mengalah sedikit saja." ucap Aina.
"Percuma Ma, belum apa-apa saja dia sudah membahas tentang perpisahan. Bagaimana mungkin Aryan bisa menerima ini? Ini sama saja dengan nikah kontrak, Aryan tidak mau Ma. Aryan ingin Dara benar-benar jadi istri Aryan, Aryan cinta sama dia Ma." kata Aryan.
"Iya, Mama tau. Makanya kamu tidak boleh menyerah, tunjukkan bahwa kamu layak untuknya. Dulu Mama juga begitu, tapi Papa orangnya gigih dan mampu membuat Mama tergila-gila padanya. Ingat sayang, darah Papa mengalir di tubuh kamu. Kamu pasti kuat seperti Papa, jangan dikit-dikit mengeluh!" tukas Aina.
"Apa Aryan bisa, Ma?" Aryan memutar leher dan menatap Aina dengan pandangan kabur, air matanya tak henti menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
"Asal kamu yakin dan mau berjuang, Mama percaya kamu pasti bisa." Aina mengulas senyum dan menyeka pipi Aryan dengan jari, lalu mengecup kening putra bungsunya itu.
Setelah Aryan tenang, Aina meninggalkan kamar tamu dan naik menuju kamar yang ditempati Dara. Ada hal yang ingin dia katakan kepada gadis itu.
Di tempat lain, Aksa, Inara, Rai dan Avika tengah melakukan fitting baju di sebuah galery yang bekerja sama dengan WO yang dipercayakan Baron untuk mengatur pernikahan mereka.
Persiapan sudah berjalan enam puluh persen, sisanya akan rampung sebelum hari pernikahan tiba.
Dua pasangan itu memasuki bilik yang berbeda dengan masing-masing desainer yang mendampingi mereka.
Tidak hanya fitting baju, mereka juga sekalian melakukan prewedding dengan pakaian yang sudah disediakan pihak galery.
Sayang kebahagiaan itu menjadi kurang lengkap tanpa kehadiran Aryan dan Dara bersama mereka. Seharusnya mereka berdua juga ikut dan merasakan bagaimana gugupnya menanti saat-saat yang ditunggu itu.
Dua jam telah berlalu dan kini mereka berempat sudah keluar dari bilik masing-masing. Sebelum pulang, Aksa dan Avika terpaksa menggantikan Aryan dan Dara untuk menyesuaikan ukuran baju untuk keduanya.
"Aku rasa sudah pas," ucap Aksa, lalu membuka pakaian itu kembali. Begitu juga dengan Avika yang merasa nyaman dengan gaun pengantin milik Dara. Ukurannya pun sudah cukup karena tubuh mereka sama-sama kecil dan ramping.
Setelah semua rampung, mereka berempat pamit meninggalkan galery dan memilih healing sejenak untuk melepaskan penat.
Jalan-jalan menikmati suasana sore dan mencari tempat nongkrong yang nyaman, lalu menjelajahi tempat makan sebelum akhirnya pulang menuju rumah.
Sekitar pukul sembilan malam mobil yang dikendarai Rai sudah tiba di kediaman Airlangga. Mereka berempat turun dan memasuki rumah bergandengan tangan.
Aksa menggandeng tangan Inara sedangkan Rai menggandeng tangan Avika, tidak ada kecanggungan lagi yang terlihat diantara mereka.
Setelah menyapa semua anggota keluarga, mereka pun berpencar dan memasuki kamar masing-masing.
Seperti biasa, Aksa akan meminta jatah terlebih dahulu sebelum masuk ke alam mimpinya. Tidurnya akan lebih nyenyak setelah melepaskan hasrat kelakiannya kepada istri yang sangat dia cintai.
__ADS_1