Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 90.


__ADS_3

"Sudah hampir satu minggu aku di sini, tapi sampai detik ini aku belum tau juga siapa namamu." ucap Aryan pada gadis yang tengah asik bercocok tanam di halaman gubuknya.


Setiap hari Aryan selalu memandangi gadis itu saat tengah merawat tanamannya. Entah kenapa Aryan mulai merasa nyaman bersamanya. Perlakuan gadis itu begitu baik dan istimewa. Ada sesuatu yang berbeda yang dia temukan di diri gadis itu.


Selama Aryan berhubungan dengan seorang gadis, baru kali ini hatinya terketuk. Biasanya dia memperlakukan gadis yang dia pacari semaunya sendiri, tapi untuk gadis ini Aryan merasa sungkan. Gadis ini nampaknya tidak tertarik sama sekali padanya.


"Apalah arti sebuah nama, aku bahkan tidak ingin mengingat siapa namaku." jawab gadis itu dengan enteng.


Aryan mengerutkan kening. "Kenapa seperti itu?"


Gadis itu tersenyum getir, dia menghentikan aktivitasnya sejenak dan duduk di samping Aryan. "Bukankah sudah aku katakan sebelumnya. Aku hidup sendiri tanpa tau bagaimana kehidupan yang orang jalani di luar sana. Aku ini ibarat sebuah pulau kecil yang terpencil di tengah lautan, tidak ada yang melihatku, tidak ada yang mau mendekatiku. Lalu untuk apa orang-orang tau siapa namaku? Aku akan tetap seperti ini sampai-"


"Sssttt... Jangan bicara seperti itu." Aryan menaruh telunjuknya di bibir gadis itu. "Kamu berhak menjalani hidup seperti orang lain. Kenapa kamu tidak mencobanya terlebih dahulu?" imbuh Aryan.


"Itu mustahil, hidupku telah dihancurkan. Aku tidak ingin melihat dunia luar," lirih gadis itu. Seketika matanya berkaca mengingat skenario hidupnya yang diatur oleh seorang manusia yang tidak mempunyai hati nurani.


"Dihancurkan bagaimana?" Aryan memutar tubuh hingga berhadapan dengan gadis itu.


"Tidak patut untuk diceritakan, cukup aku saja yang tau." gadis itu membuang pandangannya dan menyapu jejak air mata yang baru saja mengalir di sudut matanya.


"Hey, lihat aku!" Aryan meraih dagu gadis itu dan menangkup tangan di pipinya. Hati Aryan mencelos memandangi sorot mata sayu gadis itu. "Jika kamu mau, aku akan membantumu keluar dari sini. Ikutlah denganku!" ajak Aryan.


"Tidak, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini sampai aku mati," tegas gadis itu. Air matanya kembali menetes.


Segera Aryan menyeka air mata gadis itu dan merapikan rambutnya, lalu menyelipkannya di belakang telinga.


"Deg!"


Seketika mata Aryan membulat dengan jantung berdegup kencang. Sekujur tubuhnya gemetaran, dia dengan cepat menjauhkan tangannya dari pipi gadis itu.


Sesak, Aryan benar-benar kesulitan mengatur nafas. Ingin bicara tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Mata Aryan sampai memerah menahan air mata yang hendak jatuh dari sudut matanya.


"Ti-Tidak mungkin," ucap Aryan dengan susah payah.


"Kamu kenapa?" tanya gadis itu dengan air muka kebingungan.


Aryan menajamkan tatapan, dia mencengkram kedua pergelangan tangan gadis itu dengan kasar.


"Aww... Sakit, tolong lepaskan aku!" rintih gadis itu dengan air muka memelas.


"Lihat aku! Apa kamu Dara?" bentak Aryan dengan tatapan membunuh. Gadis itu bergidik ngeri saking takutnya melihat Aryan yang seperti kesetanan.


Gadis itu tidak bicara dan malah menangis tersedu-sedu.


"Jawab aku, jangan diam saja!" Aryan semakin meninggikan suara hingga gadis itu terpaksa menganggukkan kepala.


"Deg!"


Aryan tersentak kaget, tubuhnya tiba-tiba tersungkur ke tanah.


"Bodoh, aku benar-benar bodoh." Aryan mengacak rambutnya dan membenturkan kepalanya ke sudut bangku. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Gadis itu... Dia ada di hadapan Aryan selama berhari-hari tapi Aryan malah tidak mengenalinya sama sekali.

__ADS_1


Melihat darah yang mengalir di kening Aryan, gadis itu langsung berjongkok dan menahan kepalanya. "Cukup, apa yang kamu lakukan? Kenapa menyakiti dirimu sendiri?"


Aryan menghentikan aksinya dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Kamu harus ikut denganku, kita pergi sekarang juga!"


Aryan menggenggam tangan gadis itu dan bangkit dari duduknya, lalu menarik tangannya menuju motor yang terparkir di depan gubuk.


"Lepaskan aku, aku tidak akan pergi kemana-mana. Tempatku di sini," ucap gadis itu.


"Dara..." Aryan meneriakinya dengan lantang. "Dulu tempatmu memang di sini, sekarang tidak lagi." imbuh Aryan.


"Tapi aku tidak ingin pergi dari sini," jelas Dara.


"Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus ikut denganku. Tempat ini tidak aman untukmu," tegas Aryan. Dia mengangkat tubuh kecil Dara dan mendudukkannya di atas motor, lalu dia naik tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Dara.


"Tolong jangan paksa aku, aku tidak boleh pergi dari sini. Mereka akan membunuhku jika aku tidak ada di tempat ini." ungkap Dara.


"Kamu tau itu dan kamu masih ingin bertahan di sini?" Aryan tersenyum getir. "Dasar bodoh!" umpatnya.


Sesaat setelah Aryan menyalakan motor, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh dari motornya.


"Hey, jangan bawa gadis itu!" teriak seorang pria dari dalam mobil. Sebuah revolver mengarah pada Aryan dan-,


"Dor..."


"Aaaaa..." pekik Dara ketakutan.


Beruntung Aryan dengan cepat melajukan motornya sehingga peluru itu tak sempat menembus tubuhnya.


"Peluk aku!" pinta Aryan. Dia tidak ingin Dara terluka, bagaimanapun caranya dia harus meloloskan diri dari kejaran penjahat itu.


"Kejar dia!" seru penjahat yang tadi menembaki Aryan.


Motor dan mobil itu mulai kejar-kejaran di jalanan sepi penduduk. Suara ledakan senjata api tak henti mengarah padanya.


Beruntung Aryan merupakan mantan pembalap liar yang pernah mengikuti turnamen besar. Tidak sulit baginya menjauhkan diri dari kejaran para penjahat itu. Dia bahkan dengan entengnya meliuk-liuk untuk menghindari tembakan penjahat sialan itu.


"Aku takut," lirih Dara dengan sekujur tubuh yang mulai gemetaran.


"Tidak usah takut, kita pasti bisa menjauh dari mereka. Peluk saja aku, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun." Aryan berusaha menenangkan Dara sembari fokus mengendarai motornya. Dara pun memeluknya dengan erat.


Sayang satu tembakan tiba-tiba bersarang di lengan Aryan.


"Aaaah..." Aryan meringis menahan rasa panas yang membakar lengannya, meskipun begitu dia masih berusaha kuat mengendarai motornya. Dia tidak boleh lemah, sebentar lagi mereka akan memasuki keramaian.


"Aaaaa..." pekik Dara saat menyaksikan lengan Aryan yang mengeluarkan banyak darah. "Kamu terluka, lebih baik menyerah saja. Kembalikan aku pada mereka!" lirih Dara.


"Jangan gila, aku tidak apa-apa." bentak Aryan.


"Tapi kamu-"


"Tidak perlu memikirkan aku, keselamatanmu lebih penting." tegas Aryan. Dia menggigit bibir untuk menetralisir rasa sakit yang begitu menyiksa.

__ADS_1


Memasuki jalanan kota yang tengah ramai dilalui para pengendara, motor Aryan berhasil menyalip beberapa kendaraan hingga mobil penjahat yang mengejarnya kehilangan jejak.


"Sial, dia berhasil lolos." umpat seorang penjahat dengan wajah frustasi. Dia pikir Aryan akan tumbang setelah peluru itu bersarang di lengannya, tapi ternyata Aryan lebih kuat dari apa yang dia pikir.


Saat tak melihat mobil penjahat itu lagi, Aryan menurunkan kecepatan motornya. Tubuhnya mulai menggigil menahan rasa sakit yang tak henti menggerogoti lengannya.


Lalu Aryan menepikan motornya di depan sebuah apotik. Dia lekas turun dan membawa Dara memasuki apotik itu.


"Tolong balut lukaku, ini sakit sekali." pinta Aryan kepada seorang apoteker.


"Dia kenapa?" tanya apoteker itu.


"Kami baru saja dikejar penjahat, dia kena tembak. Tolong bantu dia!" ucap Dara.


"Tapi bagaimana dengan pelurunya?" apoteker itu mengerutkan kening, dia tidak bisa mengeluarkan peluru itu.


"Biarkan saja, yang penting pendarahannya berhenti." lirih Aryan.


"Baiklah," angguk apoteker itu, lalu mengambil alat untuk membalut luka Aryan.


Setelah luka Aryan diperban, dia meminta tolong pada apoteker itu untuk menghubungi kakaknya Aksa. Aryan tidak kuat melanjutkan perjalanan yang masih sekitar satu jam lagi.


"Berapa nomornya?" tanya apoteker itu.


Aryan menyebutkan nomor Aksa, beberapa detik kemudian panggilan itu langsung tersambung.


"Halo, ini siapa?" jawab Aksa dari ujung sana.


Apoteker itu langsung menyodorkan ponselnya ke tangan Aryan.


"Kak, ini aku Aryan. Jemput aku Kak, penjahat itu menembakku. Aku-" Aryan jatuh pingsan tanpa berhasil melanjutkan kata-katanya.


"Aryan..." teriak Aksa panik.


Apoteker itu dengan cepat mengambil alih ponselnya. "Maaf Tuan, adik Anda sepertinya pingsan. Luka tembakan itu sangat dalam, aku tidak bisa membantunya. Sekarang dia ada di apotik." apoteker itu menyebutkan alamat lengkap apotiknya.


"Baiklah, terima kasih. Tolong pastikan tidak ada seorangpun yang menemukannya di tempat itu. Aku akan segera ke sana," ucap Aksa.


"Baik, cepatlah. Takutnya adik Anda tidak-"


Sambungan telepon itu langsung terputus, Aksa mematikannya secara sepihak.


"Rai, ikut aku!" Aksa berlari menuju mobil yang terparkir di halaman rumah, Rai menyusulnya dengan cepat.


"Kalian mau kemana?" seru Arhan menyusul mereka ke halaman.


"Aksa mau menjemput Aryan Pa, Papa di rumah saja."


Setelah Aksa dan Rai masuk ke dalam mobil, mobil itu langsung menghilang dari pandangan Arhan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2